Dongeng dari Kampung Pinang
Media Online https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/12/29/pkhjsb430-dongeng-dari-kampung-pinang
Oleh: Muhammad Hafil , 30 December 2018Kategori: Wartawan (Republika.co.id)

Dongeng dari Kampung Pinang

Sabtu 29 Dec 2018 13:38 WIB

Red: Muhammad Hafil

 

Kegiatan mendongeng di Kampung Berseri Astra Pinang, Kota Tangerang, Ahad (23/12).

Kegiatan mendongeng di Kampung Berseri Astra Pinang, Kota Tangerang, Ahad (23/12).

Foto: Muhammad Hafil/Republika.co.id
Dongeng bisa merangsang anak untuk menyukai membaca.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Hafil/Wartawan Republika.co.id

Tepat pukul 07.00 WIB,  Ahad (23/12), Prabudi Nawarinda (43 tahun) membuka gerobak yang berisi puluhan buku di sudut Hutan Kota Pinang di Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.  Istrinya, Rika Sulistya (43), menghamparkan tikar yang berfungsi sebagai alas duduk di atas rerumputan di samping gerobak.

Kemudian, Prabudi mengeluarkan sebagian buku-buku itu dari gerobak dan meletakkannya di atas tikar. Ika, panggilan akrab sang istri, kemudian memanggil anak-anak usia balita hingga remaja untuk membaca buku-buku yang telah disediakan.

Awalnya, anak-anak itu masih belum mau menghampiri lapak yang disediakan. Mereka masih saling memandang kepada teman-teman atau orang tuanya.

Ika kemudian berkata kepada anak-anak itu bahwa dia akan membacakan sebuah cerita dongeng. Tak lama berselang, anak-anak mulai menghampirinya dan duduk di atas tikar. 

Sebuah buku cerita tentang kupu-kupu diambil Ika. Dia pun mulai membacakan cerita itu di hadapan anak-anak.

 “Lihatlah, kupu-kupu itu bisa berubah mulai dari kepompong hingga menjadi kupu-kupu. Sungguh besar ciptaan Tuhan, bukan?” cerita Ika. Anak-anak dan sebagian orang tuanya yang menghampiri terlihat antusias dan menunggu lanjutan cerita dari Ika.

Usai pembacaan dongeng, anak-anak itu dipersilakan untuk membaca buku-buku yang telah disediakan. Selain itu, mereka juga dipersilakan memainkan permainan edukatif seperti puzzle.

Tak lupa, Ika mengingatkan agar mereka merapihkan dan mengambalikan buku atau mainan yang sudah digunakan. Selain itu, anak-anak yang membaca di sini dilarang untuk sambil makan dan minum saat membaca.  “Ini untuk menanamkan karakter disiplin dan fokus pada mereka,” kata Ika.

Sudah satu tahun ini, kegiatan mendongeng dan gerobak baca diadakan di Hutan Kota Pinang. Prabudi, yang akrab disapa Budi menceritakan bahwa ini dilakukan setelah komplek perumahannya ditetapkan sebagai Kampung Berseri Astra.

Salah satu program Kampung Berseri itu adalah pilar pendidikan. Budi yang ditugasi menjadi koordinator pilar pendidikan Kampung Berseri Astra Pinang itu mempelajari daerah-daerah lain yang sudah lebih dulu ditetapkan sebagai kampung berseri.

Hasilnya, pada waktu itu belum satupun yang mengadakan kegiatan dongeng sebagai bagian dari program pilar pendidikan. Akhirnya, dia mengusulkan kepada Astra untuk memfasilitasi gerobak tempat menaruh buku-buku.

Kemudian, untuk menarik minat membaca, dia mengusulkan agar Astra memberikan pelatihan bagi ibu-ibu pengurus RT/RW di Perumahan Pinang Griya Permai dan juga guru-guru PAUD Dahlia yang ada di lingkungan perumahan cara mengajar. Khususnya, tentang teknik mendongeng.

Alhamdulillah, sudah satu tahun ini, setiap hari Sabtu dan Ahad pagi kita adakan dongeng di Hutan Kota Pinang. Tujuannya, agar anak-anak di sini bisa tertarik untuk membaca,” kata Budi.

Alasan lainnya menggerakkan dongeng adalah, lanjut Budi, untuk menarik perhatian anak-anak agar tak melulu memainkan gadget. Memang, anak-anak sekarang sulit untuk tak terpapar pengaruh gadget, tetapi paling tidak dengan dongeng dan membaca, perhatian anak-anak ke gadget itu bisa beralih ke membaca buku.

“Dengan dongeng, anak-anak bisa dibangkitkan imajinasinya. Dan, dongeng-dongeng yang kita bacakan adalah cerita yang membangun karakter baik untuk anak,” kata Budi.

Tidak hanya dongeng yang dibacakan atau diceritakan oleh pengurus Kampung Berseri, tetapi Budi mengatakan ada agenda rutin mengundang pendongeng profesional untuk datang ke Kampung Berseri Astra di Pinang ini. Misalnya, pada 15 Desember lalu, Kampung Berseri Astra Pinang mengundang Kak Tardi, seorang pendongeng profesional.

Di mana, kedatangan Kak Tardi ini difasilitasi oleh PT Astra Internasional selaku perusahaan yang membina kampung berseri ini. “Kami targetkan yang datang 50 orang anak tetapi yang datang malah 90 orang,” kata Budi.

Menurut Budi, membludaknya peserta itu karena kegiatan mendongeng di Kampung Berseri Astra Pinang itu sudah banyak diketahui oleh warga dari kelurahan lain.  Mul Hardimansyah (33) dan Ai (25) misalnya, pasangan suami istri asal Kelurahan Cipete, Pekojan, Tangerang ini hampir rutin tiap Sabtu dan Ahad mengunjungi Hutan Kota Pinang ini.

Mul dan istrinya itu kerap mengunjungi Kampung Berseri Astra Pinang setiap Sabtu dan Ahad ini setelah mengetahui kegiatan mendongeng dari temannya yang tinggal di perumahan ini. Mereka yang membawa seorang anak balitanya ingin mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh para pengasuh program pilar pendidikan Kampung Berseri Astra Pinang ini.

“Iya, saya ingin memperhatikan bagaimana bahasa tubuh atau gaya bicara mendongeng yang baik itu,” kata Mul.

Alasannya, dia dan istrinya di rumah sejak rutin mendengarkan dongeng di Kampung Berseri Astra Pinang ini, kerap membacakan dongeng kepada anaknya. Dia ingin, anak-anaknya bisa berimajinasi dan mencintai kegiatan membaca buku. 

“Sejak sering dibacakan dongeng, anak saya jadi suka ketagihan minta dibacakan sebuah buku meskipun dia belum pandai membaca,” kata Mul.

 

 

photo

 

 

Salah satu sudut Kampung Berseri Astra di Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Dok Muhammad Hafil/Republika.co.id

 

 

 

 

Bangkitkan budaya dongeng

Ke depannya, Budi yang selain menjadi koordinator pilar pendidikan Kampung Berseri Astra Pinang juga menjabat sebagai sekretaris RW 06 Kelurahan Pinang ini berharap, ke depannya bisa terus mengundang tokoh-tokoh pendongeng profesional lainnya. Di antaranya, Seto Mulyadi atau yang lebih dikenal dengan nama Kak Seto.

“Ya, kita sangat ingin Kak Seto bisa diundang ke sini dan mendongeng kepada anak-anak di sini. Pasti banyak yang datang,” kata Budi.

Saat dihubungi Republika.co.id, Kak Seto  yang juga  Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)  itu mengapresiasi ada kelompok masyarakat seperti yang dilakukan di Kampung Berseri Astra ini yang menghidupkan kembali budaya dongeng. Menurut Kak Seto dongeng di kalangan orang tua Indonesia sudah mulai dilupakan.

Kesimpulan itu diperoleh Kak Seto setelah seringnya dia berinteraksi dengan para orang tua dan anak di sejumlah wilayah Indonesia. “Sudah dilupakan arti pentingnya. Padahal, dongeng memiliki peran psikologis untuk pengembangan jiwa anak-anak, merangsang kecerdasan, bahasan, perkembangan emosi, moral, dan juga pembangun komunikasi yang kuat antara anak dan orang tua,” kata Kak Seto.

Padahal, budaya dongeng sudah dikenal lama oleh orang tua di Indonesia. Seperti di Riau, budaya Melayu yang memiliki tradisi aktivitas mendongeng yang dikembangkan dengan pantun dan permainan kata-kata.

Indikator dongeng dalam budaya Indonesia yang telah ada sejak zaman dulu juga bisa dilihat dengan munculnya cerita-cerita rakyat. Di antaranya, kisah Tangkuban Perahu, asal usul Danau Toba, kisah Loro Jonggrang, bahkan di Papua pun memiliki cerita-cerita rakyat. “Ini semuanya adalah bermula dari dongeng-dongeng,” kata Kak Seto.

Menurut Kak Seto, dulu semua nilai moral dan etika ditanamkan orang tua ke anak melalui dongeng. Tetapi, semenjak pesatnya perkembangan teknologi, seperti televisi, gadget, dan video, membuat budaya mendongeng dilupakan. “Kita harus menghidupkan kembali budaya asli Indonesia ini,” kata Kak Seto.

Di sejumlah negara maju, dongeng bahkan kembali dipopulerkan. Contohnya, di Jepang. Di sana, pemerintahannya mulai menggalakkan kembali dongeng yang dilakukan orang tua kepada anak. Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak memiliki ketergantuangan kepada gadget. “Ini supaya anak belajar berkomunikasi antarmanusia, bukan dengan dunia maya,” katanya.

Dengan dongeng, anak bisa diajari dengan cara yang menyenangkan tentang nilai-nilai kebaikan. Mana yang baik dan mana yang harus diikuti, atau mana yang jelek yang tidak boleh dilakukan. “Justru anak-anak paling senang dengan dongeng karena dia sedang diajak belajar mendengarkan dan berbicara,” kata Kak Seto.

Selain itu, dongeng juga merangsang anak untuk menyukai membaca. Misalnya, orang tua mendongeng dengan membacakan sebuah buku maka anak-anak mengenal dan membaca buku tersebut.

Kak Seto sendiri sejak dulunya membiasakan dongeng kepada anak-anaknya. Pengaruhnya, hingga saat ini komunikasi dia dengan anak-anaknya menjadi sangat dekat. Karena, dongeng ini mengajarkan keterbukaan dan demokrasi. Awalnya, dimulai dengan dongeng, kedekatan, dan terjadilah rapat keluarga.

 “Jadi, semua perilaku anak-anak bisa diarahkan sejak kecil tanpa kekerasan. Karena, anak tak perlu dibentak-bentak untuk dikasih tahu tentang nilai-nilai kebaikan. Dengan cerita, anak-anak sudah mendapatkan nilai-nilai kebaikan,” katanya.

Untuk para orang tua yang ingin mendongeng, Kak Seto memberikan saran-saranya. Orang tua harus menguasai teknik mendongeng yang benar. Yakni, dengan kesabaran, kreatif, dan dengan cara-cara yang menarik seperti dengan suara yang berbeda-beda atau nada-nada indah seperti menyanyi. “Ini akan membuat anak-anak tertarik,” katanya.

Adapun, untuk klasifikasi usia mendongeng, Kak Seto menggambarkan pada usia awal, yakni tiga-lima tahun, anak-anak senang dengan dongeng dengan tokoh hewan. Misalnya, si Komo, buaya, macan, kancil, kura-kura, atau kelinci.

Pada usia enam-delapan tahun, anak-anak mulai tertarik pada contoh manusia, tetapi yang sederhana. Misalnya, kebiasaan yang baik sikat gigi sebelum tidur, cuci tangan sebelum makan, atau intinya yang membangun kebiasaan. Sedangkan, usia tujuh-delapan tahun, anak-anak sudah mulai suka dengan kisah-kisah petualangan, seperti Jenderal Kancil atau Lima Sekawan.

 

 

photo

 

 

Infografis tentang Kampung Berseri Astra.

 

Budaya membaca

Sementara itu, Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto mengatakan, Astra melihat budaya dongeng seperti yang dilakukan di Kampung Berseri Astra Pinang ini adalah kegiatan positif dan membawa kebaikan dan penting untuk dilestarikan. Karena,  ketertarikan anak mulai bergeser ke tayangan-tayangan visual.

Budaya dongeng ini perlu ditingkatkan lagi dengan menjadikan kegiatan bersama ini menjadi sebuah kebiasaan. Cerita dalam dongeng bukan hanya cerita rakyat atau legenda namun juga cerita-cerita baru yang banyak mengandung kebaikan-kebaikan dan menarik bagi anak-anak.

“Dengan program gerobak baca yang dilakukan di Kampung Berseri Astra Pinang, Astra ingin anak-anak indonesia khususnya di wilayah Kampung Berseri  tersebut meningkat minat dan kemampuan membacanya, berbicara, dan bercerita, serta mengasah kreativitasnya,” kata Boy, Jumat (28/12).

Dikutip dari berita berjudul ‘Indonesia Dilanda Kedangkalan Literasi’ di Republika.co.id pada 20 April 2018, disebutkan bahwa Indonesia krisis membaca. Sebab, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rutin membaca buku.

Tak heran berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.

Karena itu, menurut Boy, budaya membaca buku sangat penting dibiasakan di Indonesia. Terlebih, saat ini anak anak Indonesia kurang cakap memahami materi yang bersifat naratif dan teks.

“Anak-anak zaman sekarang lebih dekat ke konten visual karena lingkungan inner-circle mereka sangat didominasi suguhan tayangan televisi atau Youtube. Padahal, melalui buku, juga banyak hal yang bisa digali selain daripada materi yang bersifat visual,” kata Boy.

Materi ajar di sekolah hampir semua diajarkan lewat buku. Tentu, budaya membaca buku perlu dibiasakan dengan kurikulum yang mengharuskan anak untuk belajar melalui kecakapan dalam memahami teks.

“Buku tidak hanya sekedar melatih kemampuan membaca anak. Melalui buku, daya kreativitas dan imaji anak dapat terbentuk dengan baik karena tidak banyak menampilkan konten visual,” kata Boy.

Selain itu, Boy mengatakan, terkait adanya pilar pendidikan dalam Kampung Berseri Astra, karena sejak lebih dari 40 tahun lalu, salah satu pilar corporate social responsibility (CSR) Astra adalah sektor pendidikan.

Nah, Kampung Berseri ini tujuannya adalah mengembangkan dan membina potensi di suatu kampung yang difokuskan pada empat bidang. Yaitu, kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, dan lingkungan,” kata Boy.

Menurut Boy, kampung-kampung lainnya juga bisa mengikuti program Kampung Berseri Astra. Langkah-langkahnya bisa dilihat di satu-indonesia.com

Dalam penetapan sebuah Kampung Berseri Astra (KBA), Astra tentu melihat keaktivan dan potensi yang dimiliki masyarakat di kamung itu sendiri. Sehingga, pembinaan yang dilakukan memang selaras dengan kebiasaan serta potensi dari masyarakat itu sendiri.

 

Baca juga: Para Pemandu yang Menghapus Status Desa Tertinggal

Baca juga: Lima Bulan Setelah Rukun Berkacamata