Membangun Peradaban dengan Ceker Ayam
Media Online https://khoirulanwar.net/membangun-peradaban-dengan-ceker-ayam/
Oleh: M Khoirul Anwar Kh , Kategori: Umum (https://khoirulanwar.net/membangun-peradaban-dengan-ceker-ayam/)

(Nurman Farieka Berada di Rumah Produksi Hirka yang Sederhana/Doc. Pribadi)

Awal tahun 2014. Nurman Farieka Ramdhany (24) benar-benar gusar dan gundah gulana. Nurman bimbang apakah harus lanjut atau putus kuliah. Ia merasa dunia kampus sudah tak sanggup lagi memenuhi dahaganya yang masih sangat haus akan pengalaman. Bangku kuliah hanya memberinya diktat-diktat kaku nan beku yang tersimpan rapi di peti es pengetahuan selama ratusan tahun. Padahal yang Nurman cari tak hanya melulu dinginnya ilmu pengetahuan, melainkan lebih dari itu adalah hangatnya pengalaman dan pencaharian. Experience.

Lantaran itu, Nurman berkeyakinan hati dan memutuskan untuk berhenti. Ia hanya sanggup bertahan sampai semester II di jurusan akuntansi sebuah kampus terkemuka di Bandung. Ia tak mau lagi membohongi nurani dan minatnya selama ini. Ia ingin segera melanglang buana mencurahkan minatnya yang tak tertahan untuk segera terjun di dunia bisnis industri kreatif. Tapi, keputusan ini tentu tak mudah. Kedua orang tua Nurman menentang keras keputusan sepihak itu. Bagi ayah dan ibunda Nurman, segala hal memiliki waktu dan tempatnya. Dan Nurman saat itu mustinya khusyuk kuliah sebagai garansi menjemput masa depan yang lebih cerah.

Tapi keputusan Nurman sudah tak bisa diganggu-gugat lagi. Baginya keputusan berhenti kuliah merupakan pilihan terbaik. Sebab kuliah hanya salah satu jalan, bukan satu-satunya jalan, untuk menggapai mimpi-mimpi gemilang seseorang di masa yang akan datang. Tapi tentu, alternatif pemikiran sedemikian berlawanan tajam dengan alam pikir orang tua yang menganggap bahwa di zaman serba tak menentu ini, memiliki selembar ijazah sarjana merupakan sebuah kewajiban yang niscaya. Jika tidak, siap-siap saja diacuhkan gelombang dunia kerja yang menganggap ijazah sebagai pengukur potensi, kompetensi dan kapasitas seseorang yang paling utama.

Maka sejak itu, terjadilah “perang dingin” antara orang tua dan anak laki-laki sulung yang sedang memperjuangkan idealisme hidupnya. Satu persatu fasilitas yang awalnya diperoleh Nurman secara rutin dan mudah mulai diputus sedikit demi sedikit. Sampai pada titik Nurman harus menerima kenyataan pahit bahwa orangtuanya sudah menghentikan semua pembiayaan untuk Nurman, termasuk uang jajan. Sejak saat itu, Nurman mulai menjual apa saja yang dimilikinya selama ini. Dari mulai laptop, telpon genggam, jam tangan, hingga pada akhirnya tak bersisa sama sekali.

Ketika semua “aset”-nya habis, Nurman mulai mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Penyerahan itu ditandai dengan keberanian Nurman meminjam modal sebanyak 2 juta pada orang tua untuk merintis sebuah usaha. Usaha yang masih abstrak tentunya. Tapi alih-alih memberi pinjaman modal, orang tua Nurman justru berkomentar sinikal. “Usaha hanya dengan modal uang 2 juta sehari juga akan langsung habis. Karena ilmu (wirausaha)mu belum sampai dan belum siap untuk menghadapi itu”, ujar Ibundanya saat itu.

Komentar dari Ibundanya tentu merupakan lonceng keras, bahwa sejak Nurman memutuskan berhenti kuliah, seharusnya ia sudah sanggup mandiri dalam segala hal. Termasuk mandiri jika ingin mulai merintis wirausaha. Maka sejak itu, ia tanamkan dalam diri bahwa mulai detik itu juga ia pantang meminta-minta apalagi memakai fasilitas orang tua. Ia akan memulai semuanya dari nol dan secara mandiri. Ia sangat yakin bahwa gigihnya sebuah usaha niscaya takkan mengkhianati hasil. Dari titik inilah semua hikayat ini berkisah.

Kuliah ke “Universitas Cibaduyut”

Cibaduyut yang merupakan bengkel pusat kreativitas manusia Priangan menjadi pilihan Nurman untuk singgah dan menempa diri. Di Cibaduyut-lah Nurman memulai episode baru dalam hidupnya. Ia mulai belajar lagi menata hidup yang sempat terburai hingga berada di titik nadir. Nurman ingin membuktikan pada orang tua bahwa pilihan hidupnya bukanlah dosa dan sungguh bisa dipertanggung-jawabkan secara nyata.

Bagi Nurman, Cibaduyut tak semata-mata berupa jejeran etalase toko sepatu, tas, dan segala aksesori lainnya, melainkan lebih dari itu. Cibaduyut baginya adalah “Universitas Kehidupan” yang sejati meski tanpa papan nama dan tak terdaftar di Kemenristekdikti. Karena di samping mulai belajar berniaga secara mandiri, di Cibaduyut Nurman juga banyak sekali mempelajari tentang makna sejati hidup dan kehidupan yang sebenarnya.

(Kreativitas Tanpa Henti/Doc. Pribadi)

Di Cibaduyut, Nurman menumpang di kawan baik semasa SMA bernama Rizky Ramadhan. Rizky merupakan vendor tas yang jam terbangnya sudah lumayan tinggi. Dari Rizky-lah Nurman belajar banyak sekali hal. Dari mulai merintis branding, membuat produk, menciptakan pasar konsumen, merangkai inovasi, melahirkan relasi, dan lain sebagainya. Mungkin karena kesungguhan tempaan Rizky itulah, jika Nurman ditanya siapa orang yang sangat mempengaruhi warna wirausahanya, Nurman tanpa ragu akan menjawab: Rizky Ramadhan.

Bersama Rizky, Nurman membidani lahirnya brand Bee Leader  yang bergerak di bidang industri kreatif aksesoris kulit sapi seperti dompet, gelang, gantungan kunci, kalung, dan merchandise lainnya. Setelah Bee Leader, Nurman juga melahirkan brand Cavalo Original yang hanya fokus pada tas dan aksesoris dari kulit kerbau. Janin brand terakhir yang Nurman dirikan bersama Rizky adalah Cavalo Shoes, brand ini bergerak khusus di bidang fashion dan sepatu kanvas untuk perempuan.

Awalnya, Nurman sempat merasakan buah manis dari semua rintisan usahanya dengan Rizky. Saat itu, ia bisa mengantongi laba bersih dari janin Bee Leader dan Cavalo Original hingga tiga kali lipat dari modal perbulannya. Nurman pun banyak membeli (kembali) barang-barang kesayangannya yang dulu sempat ia jual. Tapi sayang buah manis itu tak bisa dinikmati lama. Sebab dunia bisnis memang kadang sukar diterka. Seiring bermunculannya brand-brand baru yang menawarkan produk serupa dengan harga yang sangat kompetitif, perlahan janin-janin wirausaha yang Nurman bidani bersama Rizky tumbang satu persatu.

Bahkan khusus lini produk Cavalo Shoes yang berupa sepatu kanvas perempuan, lantaran tak ada yang laku satupun, Nurman jual dengan harga yang sangat murah meriah ke relasi Ibundanya yang kebetulan bekerja di sebuah bank pelat merah. Dari sini Nurman sadar, bahwa mayoritas konsumen perempuan bukan mengejar kualitas tetapi memilih banyaknya varian dengan harga yang sangat terjangkau.

Kendati seluruh rintisan usahanya tumbang, Nurman tetap bersyukur. Setidaknya Cibaduyut telah mengajarkan fondasi awal bagaimana cara berniaga dengan baik dan profesional: mulai dari mencipta produk andalan, memetakan pasar, berkompetisi dengan rival secara sehat, hingga kemungkinan-kemungkinan tak terduga lainnya. Lebih dari itu, Cibaduyut juga mengajarkan pada Nurman bahwa usaha menggapai mimpi gemilang tak semudah membalik telapak tangan. Hal demikian merupakan usaha tanpa henti yang tak mengenal kata final.

Melahirkan Janin Hirka

Petualangan Nurman di Cibaduyut bertahan dari 2014 awal sampai 2015 akhir. Nyaris dua tahun ia belajar di “universitas” yang sesungguhnya. Universitas yang tak hanya menjejalkan  ilmu pengetahuan mentah semata dari teks-teks buku yang sudah mati rasa, tapi langsung mempraktikkan segala hal yang diketahui secara seketika. Nurman yakin, semua orang bisa memiliki gagasan. Tapi sejarah bumi manusia ini  hanya akan mencatat orang-orang yang berani mengeksekusi gagasan.

Dari bekal berharga itulah, Nurman memberanikan diri pulang ke rumah. Selain untuk rehat dan melakukan “rekonsiliasi” dengan orang tua, diam-diam Nurman juga sedang mempersiapkan janin baru yang akan ia inisiasi secara mandiri. Berhari-hari ia berpikir keras kira-kira apa yang akan ia gagas dan menjadi produk andalannya. Sampai suatu ketika, tanpa disengaja, Nurman menemukan seutas buku lusuh milik ayahandanya. Kotak pandora pun mulai terbuka.

Buku itu berisi berbagai eksperimen ayahnya tentang penyamakan berbagai kulit hewan. Dari mulai kulit sapi, kerbau, ikan pari, hingga katak. Ayahnya, Fatah Faturahman (54) memang merupakan seniman serba bisa. Spesifikasinya ada pada seni menyamak kulit. Dari sekian banyak eksperimen samak, ada satu yang sangat menarik perhatian Nurman: penyamakan kulit kaki (ceker) ayam. Sayangnya eksperimen itu tak berlanjut dan mangkrak hanya menjadi sebatas eksperimen. Seketika itu juga Nurman menemukan momen “Aha, ini yang saya cari!”. Ia serasa menemukan berlian di tumpukan barang bekas yang sudah terpendam 17 tahun lamanya dan akan segera dikilokan.

Nurman pun bergerak cepat. Ia berkonsultasi dan meneruskan eksperimen bersama ayahnya sebelum mengeksekusi ide tersebut. Nurman ingin menerapkan kulit ceker ayam itu pada sepatu hingga menjadi prototipe yang khas. Menurutnya, ide gila ini belum pernah ada yang menggagas baik di Bandung, di Indonesia, bahkan di dunia. Sebab selama ini ceker ayam (apalagi kulitnya), hanya dipandang sebagai limbah yang tak bernilai –terutama bagi gerai-gerai makanan cepat saji.

(Infografi/Doc. Pribadi)

Sebagai langkah awal, ia membuat brand baru bernama Hirka. Sesuai pengakuannya, Hirka berasal dari bahasa Turki yang bermakna “dicintai”. Harapannya, Nurman ingin semua lini produk Hirka dapat dicintai masyarakat dari semua segmen dan lapisan. Nurman memang menyukai segala hal-ihwal tentang Turki: dari mulai sejarahnya, semangat anak mudanya, siklus keagamaan, dan roda pemerintahannya. Ia yakin, kejayaan dunia kelak akan lahir kembali dari tanah bekas kesultanan Ottoman ini.

Setelah brand terbuat, langkah selanjutnya adalah membuat tim kerja, memetakan pasar dan membuat produk. Ia mengajak keempat kawannya yang memiliki visi dan misi seirama. Mereka adalah Achmad Jaenudin (kepala produksi), Aman (penyamakan kulit kaki ayam), Dedi Haryono dan Rachman (finishing produksi sepatu). Sedangkan Nurman sendiri berposisi sebagai founder dan brand owner Hirka.

Sejak awal, iklim budaya perusahaan yang Nurman bangun adalah budaya kekeluargaan. Yakni bagaimana bisa belajar dan mengayomi sesama tim dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Ia tak mau menjadikan lini usahanya melulu mengejar profit tanpa ada keterkaitan emosional antar sesama tim. Ia juga membebaskan timnya untuk berkreasi sebebas mungkin. Prinsipnya tumbuh bersama berkembang bersama.

Setelah tim terbuat, maka produksi pun dimulai.  Nurman pergi ke pasar, membeli ceker ayam broiler sebanyak 50 kg dari pengepul. Ia biasa membeli lebih mahal daripada harga lazimnya. Jika harga ceker ayam perkilo Rp. 15 ribu maka ia akan membayarnya Rp. 30.000. Ia yakin, dengan semakin banyak memberi, jalan ke depan bagi Hirka justru semakin lapang dan terang benderang.

Sesampai di rumah yang sekaligus berfungsi sebagai rumah produksi, ceker tersebut dikuliti dan daging serta tulangnya ia bagikan secara cuma-cuma ke masyarakat sekitar –terutama penjual seblak. Kemudian setelah proses pengulitan selesai, kulit-kulit ceker tersebut masuk ke tahap penyamakan selama 10 hari. Terakhir, setelah proses samak selesai, masuk ke proses penjahitan dan menentukan pola pada sepatu hingga pada akhirnya menjadi sepatu menawan nan elegan bermerek Hirka.

Tapi tentu ini semua bisa terealisasi setelah melewati proses yang begitu panjang dan melelahkan. Sepanjang tahun 2016 Nurman dan tim masih berjibaku dalam eksperimen untuk menentukan prototipe kulit ceker ayam yang khas dan pas untuk dilekatkan pada sepatu andalan. Biaya untuk risetnyapun tak main-main. Ia tak ingin brand-nya kali ini kembali tumbang dengan usia yang sangat prematur. Oleh sebab itu, ia persiapkan kelahiran janin keempatnya secara sungguh-sungguh dan teliti. Baru pada awal tahun 2017-lah Nurman berani go public dengan prototipe terbaru andalannya yang bernama Hirka.

Buah Manis dan Sepercik Asa

(Proses Produksi Sepatu Ceker Ayam/ Sumber: Hirka Official)

Nurman biasa menjual perpasang sepatu  Hirka dengan harga Rp. 600.000 hingga Rp. 6 juta  –tergantung tingkat kualitas, detail pola, dan kesulitan pembuatan. Awalnya, Nurman hanya memproduksi sepatu berdasar pesanan yang masuk ke Hirka. Tapi sejak pertengahan 2017, Hirka sudah sanggup memproduksi 40 pasang sepatu perbulan dengan jangkauan konsumen yang stabil. Kendati hanya 40 pasang, omzet yang diraup bisa mencapai 40-60 juta perbulan. Konsumennya 50 persen berasal dari segmen pengusaha, 5 persen kolektor, 15 pejabat pemerintah, dan 30 persen dari kalangan eksekutif muda.

Seiring berjalannya waktu, produk Hirka kian menggaung ke delapan penjuru mata angin. Selain karena kualitas produk, hal ini juga karena Nurman rajin mengikutkan produk-produk Hirka ke pameran dalam maupun luar negeri yang digagas pemerintah maupun swasta. Di dalam negeri Hirka sudah membuka stand pameran di Bandung, Jakarta, Riau dan kota-kota besar lainnya. Sedangkan di luar negeri Hirka sudah melanglang buana hingga ke Hongkong dan Belgia. Konsumennya juga sudah menembus warga internasional, dari Brazil hingga Amerika Serikat.

Berkat ketekunannya ini, Nurman diganjar banyak sekali apresiasi penghargaan baik berskala lokal, regional, hingga nasional. Mulai dari juara 2 Lomba Desain Craft Little Bandung Creative Market (2018), juara 2 UMKM terbaik Pesona Lokal Indonesia Adira (2018), 100 besar The Big Start Blibli.com season 3 (2018), 20 besar The Big Start Blibli.com season 4 (2019), Satu Indonesia Award di bidang kewirausahaan (2019), juara 2 Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Jawa barat (2019).

Dari semua penghargaan itu, yang paling membekas di memori kognitifnya tentu saja Satu Indonesia Award 2019. Ia sama sekali tak membayangkan bisa mengalahkan 8.500 proposal peserta yang masuk ke panitia dan dikurasi juri-juri hebat dari kalangan cendekiawan seperti Prof. Emil Salim dan pesohor seperti Dian Sastro Wardoyo. Bahkan ia menangis haru ketika Dian Sastro mengendorse produk Hirka ke akun instagram pribadi pemain film legendaris Ada Apa Dengan Cinta (AADC) tersebut. Tak hanya itu, Dian juga membeli sepasang sepatu Hirka untuk suaminya.

(Nurman di Depan Rumahnya yang Asri/Doc. Pribadi)

Tapi alih-alih membusungkan dada, Nurman justru ingin membagi pengalaman berharganya bisa sampai ke titik ini ke sebanyak mungkin orang. Terbukti, secara berkala ratusan mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Telkom Bandung, dan universitas-universitas lain seantero Jawa Barat berkunjung ke home base Hirka untuk menggali pengetahuan serta pengalaman dalam inovasi beriwirausaha. Secara tak langsung, Nurman menjadikan Hirka tak melulu hanya sebagai lini home industri kreatif belaka, tapi lebih dari itu sebagai laboratorium pengetahuan bagi siapa saja yang ingin menekuni dunia wirausaha berbasis riset dan inovasi. Diam-diam Nurman sedang giat menggalakan kampanye #IndonesiaBicaraBaik.

Tak cukup membagi pengetahuan, Nurman juga memberdayakan tak kurang dari 300 UMKM yang tersebar di seantero Jawa Barat dalam perahu komunitas bernama Benua Niaga Jawa Barat. Nurman yang berposisi sebagai Wakil Ketua mengajarkan mereka tentang bagaimana mengurusi hal-ihwal tentang legalitas usaha, dunia marketing dan branding, hingga link pembinaan serta pemodalan dari pemerintah. “Saya di Benua Niaga full khidmat. Tanpa ada feedback apapun terutama dari finansial yang saya terima. Rasanya senang sekali ketika kita bisa bantu mereka. Mereka apresiatif saja saya sudah senang sekali. Mayoritas membina janda-janda. Karena mereka ada anak yang harus dihidupi dan hanya bergantung pada usaha itu”, ujarnya (26/10).

Ke depan Nurman ingin menjadikan kecamatan Regol Kota Bandung, tempat dimana ia lahir dan bertumbuh kembang, sebagai sentra industri kreatif pengolahan sepatu dari limbah kulit ceker ayam. Ia ingin sepatu kulit ceker ayam besutan Hirka bisa menjadi trademark Bandung, bahkan Indonesia, yang sanggup menembus jantung pasar dunia. Sebab, ujar Nurman yakin, pada dasarnya #KitaSATUIndonesia.

Nurman Farieka Ramdhany, anak bengal yang lebih memilih DO kuliah itu, diam-diam sedang membangun peradaban niaga dengan ceker ayam.

(Beberapa Sampel Produk Sepatu Hirka/Doc. Pribadi)

   

 

 
 
.