Galih Suci Pratama, Menggerakkan Para Guru Semarang Berkreasi di Masa Pandemi
Media Online https://www.dewirieka.com/2020/12/galih-suci-pratama-menggerakkan-guru-semarang-berkreasi.html
Oleh: Dewi Rieka Kustiantari , Kategori: Umum (http://www.dewirieka.com)

Galih Suci Pratama,

Menggerakkan Para Guru Semarang Berkreasi di Masa Pandemi

 

Gantungkan cita-citamu setinggi langit!

Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang

-Ir. Soekarno

Pemuda itu memasuki ruang tunggu dengan senyum sumringah. Ia membawa papan berkaki, alat peraga untuk presentasinya. Ya, pagi itu kami akan menghadap juri untuk presentasi karya tulis di depan dewan juri dari Kemdikbud. Aku dan pemuda itu sama-sama mengikuti lomba karya tulis tingkat nasional yang diselenggarakan di Jogjakarta.

Saat peserta lain nampak gugup, lelaki bernama Galih Suci Pratama nampak bersemangat, tak sabar untuk menemui para dewan juri untuk menceritakan kisahnya. Sambil menunggu giliran, aku sempat mengobrol dengan Galih tentang ide tulisannya.

Bagi lelaki kelahiran Banjarnegara 27 Maret 1991 ini, Pendidikan adalah investasi masa depan suatu bangsa. Pendidikan adalah pilar utama bagi bangsa yang merindukan kemajuan. Tanpa pendidikan yang baik, kecerdasan tak bisa dicapai.

Tak heran, jika menjadi guru adalah jalan ninja bagi seorang Galih. Berawal dari rasa kagumnya pada seorang guru saat SMA. Ya, Seorang guru yang mengajar dengan menyenangkan dan dekat dengan murid-muridnya ternyata menjadi teladannya. Galih menyadari bahwa menjadi guru tak hanya bekerja untuk dunia tapi juga akhirat. MLM kebaikan, istilah Galih. Selepas SMA, ia pun memantapkan diri mengambil jurusan pendidikan dasar di PGSD Unnes dan dilanjutkan dengan S2 PGSD di kampus yang sama.

Menulis Tentang Kelas Inspirasi di Sekolahnya

Satu hal yang menggelisahkan ketika Galih mengajar di sekoah dasar adalah sistem pembelajarannya. Berdasarkan hasil penelitian, 75% materi pelajaran untuk anak sekolah dasar seharusnya pembelajaran tentang pendidikan karakter. Namun sayangnya saat ini proporsinya masih kurang. Anak SD masih dibelenggu tentang materi yang belum saatnya ia dapatkan.

Menurutnya, anak-anak sekolah dasar memerlukan teladan yang tepat, atau role model untuk memberi inspirasi pada mereka agar semangat meraih cita-cita.

Itulah mengapa, Galih menuliskan tentang program kelas inspirasi yang mereka gagas di sekolah tempat ia mengajar pada lomba menulis Kemdikbud. Saat Kelas Inspirasi, sekolah mengundang Septian David Maulana, anggota timnas U-22 yang merupakan alumni sekolah itu untuk berbagi pengalamannya. Septian menceritakan bagaimana ia ikut Popda saat masih SD, berlatih keras hingga berhasil masuk timnas.

“Saya seperti ini latihannya cukup keras. Terus berlatih. Tapi, jangan lupa minta doa orang tua, terutama doa ibumu.” Begitu kata-kata Septian yang Galih kutip dalam artikelnya.

Berkat kehadiran Septian hari itu, anak-anak termotivasi untuk rajin belajar dan berani bermimpi untuk meraih cita-cita. Bahwa anak dari keluarga yang sederhana pun bisa menjadi apa yang mereka impikan. Seperti Septian yang berhasil berprestasi di tingkat nasional.

Kelas Inspirasi berhasil memperkenalkan berbagai profesi agar anak bisa memiliki cita-cita dan impian yang ingin dikejar sejak kecil. Anak-anak bisa menjadi atlet sepak bola, guru, dokter, arsitek, youtuber, apa saja! Anak-anak SD Sekaran 02 Semarang pun makin semangat belajar dan berani untuk bermimpi besar.

Mengobrol dengan Galih, terasa sekali betapa bersemangatnya pengajar SDN Sekaran 02 Semarang ini. Semangat Galih hari itu pun dirasakan oleh dewan juri. Ia berhasil meraih juara dua lomba penulisan artikel ilmiah Kemdikbud tahun 2017.

Ide-Ide Inovatif dari Pemikiran Kritis Galih

Kali lain, aku membaca tulisan opini suami dari Maqooshidul Falaasifah ini di sebuah koran terkemuka di Semarang. Berawal dari rasa prihatin akan tingginya tingkat kekerasan dan pornografi di kalangan siswa karena kurangnya pola pengasuhan orang tua. Ia juga menyadari bahwa menjadi orang tua tak ada sekolahnya.

Galih yang hobi membaca dan berdiskusi ini, tergerak. Ia ingin kembali menghidupkan Tri sentra pendidikan ajaran bapak guru pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Sudahkah sekolah jadi taman bermain mengasyikkan untuk para siswa?

Ya, Peran keluarga dalam pendidikan kita sangat penting. Peran keluarga adalah pendidikan pertama dan utama. Sudahkah anak dibekali pendidikan moral dan karakter yang cukup oleh para orang tua?

Melihat kenyataan itu, Galih mengusulkan untuk membumikan kelas pengasuhan anak atau parenting bagi para orang tua di sekolah. Agendanya antara lain memberikan materi pengasuhan anak oleh psikolog/ praktisi pada orang tua dan guru, mengakrabkan para guru dan orang tua murid lewat berbagai kegiatan seperti konsultasi rutin dan home visit ke rumah anak didik.  Artikel opini yang menggugah ini pun akhirnya menyabet penghargaan Apresiasi Pendidikan Keluarga pada tahun 2018 di Jakarta.

 Pak Guru Yang Gemar Menulis

Galih memang bukan guru biasa. Ia terbiasa menuliskan pemikirannya tentang berbagai isu ke dalam artikel. Ia suka menulis berbagai artikel opini dan mengirimkannya ke berbagai media. Sebut saja media para guru SD, media almamaternya dulu menuntut ilmu, hingga koran terkemuka di Jawa Tengah. Kegemaran menulis ini belum terlalu lama dilakoninya, tepatnya saat menjadi mahasiswa pasca sarjana Unnes.

Saat kuliah S2, ia bertemu seorang teman yang suka menulis baik di koran ataupun menulis buku. Karena memiliki satu ide besar di kepala yang tak mampu ia ungkapkan Galih pun meminta temannya untuk mengajarinya menulis. Keinginannya disambut baik oleh sang teman.

Galih pun terus belajar menulis tak hanya dari sang teman, tapi juga dari buku-buku tentang belajar menulis karya Brilly Agung dan penulis lain.  Ia menjadi kecanduan menulis. Kegemaran menulis ini yang kelak menjadi pintu Doraemon untuk Galih, membawanya ke mana saja dan membuka sejuta peluang baginya untuk melakukan perubahan di bidang pendidikan.

Sebagai guru muda, ia tak berkutat pada mengajar anak di kelas saja. Ia senang berkarya, menempa diri dan bersosialisasi dengan orang lain dan belajar banyak hal untuk meningkatkan kualitas diri. Itulah mengapa ia sering mengikuti lomba menulis, dan tergerak membuat channel Youtube sendiri.

Merangkul Para Guru Membuat Perubahan

Saat pandemi melanda Indonesia, seluruh siswa terpaksa belajar di rumah secara daring. Pembelajaran di masa pandemi tak hanya membutuhkan peran guru. Tapi, siswa sangat memerlukan pendampingan dari orang tua secara intens. Nah, banyak orang tua yang kesulitan mendampingi karena kendala waktu, atau keterbatasan sarana seperti gawai dan kuota data.

Galih pun memutar otak bagaimana membuat materi pengajaran yang menarik untuk para muridnya. Apalagi, banyak diantara anak-anak yang belum bisa mengakses aplikasi belajar online seperti Zoom dan Google Classroom. Salah satunya karena keterbatasan kuota data.

Saat digandeng Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk mengisi kelas pelatihan Google, Galih melihat kegagapan para rekan kerjanya untuk mengajar daring. Mereka yang terbiasa mengajar secara tatap muka, kini harus mengajar secara daring, harus menyiapkan materi pembelajaran daring yang menarik untuk para murid.

Satu hal yang tak mudah bagi para guru apalagi yang senior untuk beradaptasi. Platform meeting untuk belajar online seperti Zoom pun memakan kuota besar sehingga jarang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Walhasil, para guru akhirnya hanya mengirimkan soal di grup Watsap untuk dikerjakan siswa setiap hari tanpa memberikan materi pelajaran. Hal ini tentu menyulitkan para siswa, bukan?

Galih dan teman-teman akhirnya  membuat pelatihan perdana pada bulan Maret 2020. Pada pelatihan tahap 1 ini, mereka melatih para guru tentang bagaimana cara penggunaan Google Classroom, Quizziz  Google Form, Google Meet, Zoom dan lainnya. Saat bulan Juli 2020 dievaluasi, ternyata masih banyak guru yang kesulitan menampilkan materi pembelajaran secara baik.

Membuat Rangkaian Video Materi Belajar Yang Seru di Youtube

Apa yang harus dilakukan? Lelaki berputri satu ini akhirnya mencetuskan ide cemerlang untuk membuat satu kanal Youtube khusus berisi video pembelajaran atau materi pelajaran untuk para siswa. Untuk menjalankan rencananya, Galih pun melatih rekan guru untuk bisa menggunakan peralatan membuat video, cara syuting, dan seluk-beluk membuat video pembelajaran yang menarik. Galih bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang pun membuat pelatihan kedua di bulan Juli 2020.

Ide membuat kanal Youtube khusus materi belajar ternyata disambut antusias oleh para guru. Pada 13 Juli 2020, berdirilah kanal Youtube Pembelajaran SD Kota Semarang. Dengan tagline Belajar Bersama, Berkarya Bersama dan Sukses Bersama-sama. Platform ini membagikan video pembelajaran untuk digunakan para siswa yang belajar dari rumah. Kanal Video ini lebih hemat kuota data untuk menontonnya daripada belajar via Zoom dan Google Meet.

Hingga saat ini, sekitar 500 guru bergabung dalam pembuatan video pembelajaran ini. Aku sempat menonton beberapa video yang dibawakan para guru Kota Semarang ini. Materinya mudah dipahami dan menarik, tidak membosankan untuk ditonton oleh para siswa. Proses belajar pun jadi lebih menyenangkan. Melalui kanal video ini, Galih berharap para guru dan murid di seluruh Indonesia terbantu untuk menyerap materi pelajaran dengan lebih mudah saat pandemi ini. 

Tak disangka, kanal Youtube ini sudah memiliki 39.700 subscriber dari berbagai kota di Indonesia dan twlah mencatat 3.775.000 views! Wow. Hal ini cukup mengejutkan karena saat Galih membagikan link kanalnya di grup WA kami, kanalnya baru saja akan diluncurkan dan subscribernya tak sampai seratus orang. Hingga saat ini, kanal para guru ini memiliki sekitar 500 video dan sudah menghasilkan pendapatan dari iklan yang tak diambil oleh Galih sepeserpun tetapi digunakan untuk pengembangan kompetensi para guru.

Menjadi Penerima Apresiasi Satu Indonesia Award 2020

Tak disangka, perjalanan Galih menjadi finalis Satu Indonesia Award cukup berliku. Bayangkan, Ia mengaku baru mengetahui ada lomba Satu Indonesia Award hanya H-2 sebelum tanggal penutupan 02 Agustus 2020! Ya, karena waktunya sangat sempit Galih hanya menceritakan kegiatannya saat pandemi bersama teman-teman di dalam formulir yang ia kirimkan.

Akhir bulan Agustus, Galih mendapat informasi bahwa ia lolos babak selanjutnya yaitu wawancara dengan pihak Tempo. Setelah dinyatakan lulus wawancara, tahap berikutnya adalah verifikasi lapangan.

Verifikasi lapangan ini dilakukan sekitar 2 hari untuk memvalidasi dan mengecek kegiatan yang Galih ceritakan. Hasil dari validasi berupa video yang menggambarkan aktivitas Galih dan teman-teman guru membuat video pembelajaran. Alhamdulillah, ia berhasil masuk final!

Di final Satu Indonesia Award, semua finalis diwawancarai oleh dewan juri yang terdiri dari berbagai profesi. Ada mantan menteri, aktris film, pegiat sosial, pakar IT dan lainnya. Wawancara yang campur-aduk baginya, menyenangkan sekaligus menegangkan.

Dalam wawancara tersebut, Galih menceritakan apa yang ia sedang kerjakan bersama rekan-rekan guru di Semarang selama masa pandemi. Tak disangka, setelah melalui proses panjang ini, Galih kemudian dinobatkan sebagai penerima Apresiasi Satu Indonesia Award 2020 kategori khusus pejuang tanpa pamrih di masa pandemi covid 19. Galih Suci Pratama berhasil menyisihkan 10 ribu orang pendaftar tahun ini.

Apa Harapanmu Setelah Meraih Apresiasi Ini, Cik Gu?

Galih berharap penghargaan ini menjadi pecut semangat untuk tim Pengembang Konten Youtube (PKY) Pembelajaran SD Kota Semarang untuk senantiasa berkembang dan semangat berkarya. Galih memiliki sebuah mimpi agar PKY Pembelajaran SD Kota Semarang ini menjadi referensi pendidikan pertama di Indonesia baik berupa kanal Youtube, aplikasi di ponsel, TV, atau platform digital lainnya. Ia ingin PKY Kota Semarang terus berinovasi untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Aku yakin, suatu saat Galih pasti berhasil meraih mimpinya.

Selamat Pak Guru Galih, sehat selalu dan terus bergerak meraih impianmu. Semoga semangatmu memperjuangkan pendidikan yang lebih baik bagi anak Indonesia terus menyala dan jadi teladan bagi kami.