Perempuan, Asa, dan Keinginan Memeluk Indonesia
Media Online https://andremfid.wordpress.com/2020/12/28/perempuan-asa-dan-keinginan-memeluk-indonesia/
Oleh: Andre Mistoh Fauzi , Kategori: Umum (http://andremfid.wordpress.com)

Perempuan, Asa, dan Keinginan Memeluk Indonesia

Elsa Maharrani
Tempo hari, saya menonton film animasi Disney bertajuk Frozen II. Dalam film berdurasi 103 menit itu, figur Elsa digambarkan sebagai perempuan kuat yang siap berkorban untuk masyarakat. Dia menjadi tuan bagi anugerah unik di tangan berupa sihir yang menjadi penyembuh untuk mereka yang sedih, pengingat bagi yang lupa, atau penyatu bagi yang berseberangan.
Tulisan ini juga tentang Elsa. Sosok yang merajut asa melalui barisan renda. Wanita yang juga membangun kepercayaan diri dengan tangannya—ditambah beberapa trik ajaib dari orang-orang terdekat—tokoh yang juga akan dikenang oleh siapa pun yang mengenalnya. Dia tidak berasal dari Arendelle, juga tidak punya sihir. Satu-satunya kekuatan yang dia miliki adalah kerja keras. Dia adalah Elsa Maharrani dari Sumatera Barat.
 
Elsa adalah Elsa, Dulu dan Kini
Kesibukan di kampung mulai bergeliat. Desing mesin jahit bersahutan dari rumah-rumah warga. Satu dua empu si mesin jahit menggenjot alat sambil merepet ke si kecil yang enggan mandi, tiga empat menyanyi lagu Mars Harapan Bangsa, lima enam diam seribu bahasa, memilih konsentrasi agar pekerjaan cepat rampung.
Elsa tersenyum mendengar ragam watak ibu-ibu pekerjanya. Sambil mengelap sepatu, wanita berkerudung menahan tawa berkali-kali saat suara serupa terdengar dari rumah-rumah lain. Begitulah dia, selalu bisa memulai hari dengan baik. Selalu bisa meneropong setiap hal dari sisi positif—tanpa toxic positivity. Selalu menjadi cinta bagi setiap pekerjanya.
 Biodata Singkat Elsa Maharrani
Elsa, si tidak neko-neko yang memiliki prinsip sederhana, selalu percaya bahwa manusia harus hidup sebagaimana firman Tuhan dalam surah Muhammad ayat 7, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Sambil berjalan, Elsa berkomat-kamit melafalkan ayat itu. Anak kedua dari pasangan Mardi dan Nurhalena ini terkenang akan orang tuanya. Dua sosok yang membantunya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Saat sang ibu bertugas membentuknya menjadi gadis yang apik dan resik, insting bisnisnya tumbuh dari ayah dan kakaknya.
Elsa kecil biasa menjajakan es mambo aneka rasa ke teman satu sekolah. Berbekal semangat itu, hingga sekarang, pesimis dan rendah diri tak sekalipun mampir dalam kamus hidupnya. Selama tidak merugikan siapa pun, Elsa akan terus bergerak mewujudkan apa pun yang dia mau.
Di jenjang SD, bahkan Elsa sanggup menghasilkan uang 10 kali lebih banyak dibanding uang jajan mingguannya. Tentu saja, itu adalah pencapaian yang mengagumkan untuk anak-anak. Hingga menengah atas, Elsa konsisten menjual benda-benda yang tengah diminati, termasuk hijab. Berawal dari kekaguman teman-teman dengan hijabnya yang trendy, dia membuka layanan jasa titip (jastip) dadakan. Keisengan itu nyatanya membuka jalan dan menjadikannya reseller langsung dari toko langganannya. Betul, kan, Tuhan selalu membuka jalan bagi mereka yang tulus.
 
Kampung Jahit dan Maharrani
Dalam banyak literatur, perempuan sering digambarkan sebagai sosok unik yang memiliki kekuatan menakjubkan. Tak hanya dalam sinema keluarga layaknya Frozen, kita dapat menjumpainya dalam hikayat China tentang Hua Mulan, Srikandi dalam epos India, atau wanita asli Indonesia bernama Christina Martha Tiahahu. Sekali lagi, hal yang sama berlaku pada Elsa, dia punya satu kekuatan yang membuatnya luar biasa: kerja keras.
Langkah Pertama
Pernahkah kalian mendengar petikan, “mulailah langkah pertama. Kamu akan merasa ringan di langkah selanjutnya,”? Petuah itu ada benarnya. Sering kali, langkah pertama terasa berat karena mempertaruhkan optimisme dan kepercayaan diri. Namun, ketika fase ini terlewati, semua akan baik-baik saja.
Elsa paham betul keadaan ini. Dia teringat ketika Kampung Jahit masih seumur jagung. Dirinya pontang-panting memeriksa ini itu agar mimpinya tidak berakhir jadi isapan jempol.
Tentu saja, sebelum membangun usaha, sebagai langkah pertama, Elsa melakukan riset pasar mengenai produk yang disenangi berikut standarnya. Namun, ketika memperkenalkan permintaan pasar ke penjahit kampung, tak jarang mereka menangis lantaran belum terbiasa.
Elsa maklum. Dia membesarkan hati karyawannya bahwa produk mereka akan membaik seiring perjalanan. Bahwa setiap orang butuh waktu untuk menghasilkan masterpiece. Bukankah permata juga perlu diasah agar berkilau?
Dalam kisah Elsa, yang menarik adalah bagaimana dia membuat batas yang jelas. Ketika memutuskan, dia akan mempertahan pilihan itu hingga akhir. Tidak ada celah untuk kuyu. Baginya, prinsip hidup harus kuat, meskipun perempuan.
Tumbuh Bersama Masyarakat
Ibu dua anak ini memulai semuanya sejak belia. Dia mengalami masa-masa menjajakan penganan, berjualan hijab ke teman sekolah, hingga menjadi distributor produk semasa kuliah.
Memasuki semester 5 di Jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas Padang, Elsa memutuskan menikah. Tapi, jangan silap. Justru pernikahanlah yang membantunya melangkah menjadi Elsa yang kini dikenal orang.
Produksi di Kampung Jahit
Selama dua puluh tahun, Elsa berteduh di bawah pangkuan orang tua. Kini, di masa dewasa, dia menemukan satu sosok yang tidak hanya menaunginya, tetapi juga menggandeng tangan mungilnya untuk maju. Bersama sang suami, Fahri Guftan Zainal, keduanya membangun “anak ketiga” mereka, Kampung Jahit.
Kampung Jahit menerapkan sistem kerja dari rumah. Setiap penjahit membuat produk dari atapnya masing-masing. Produk yang mereka hasilkan dirilis dengan brand Maharrani, sebuah kata yang diambil dari nama belakang Elsa. Maharrani sendiri memiliki arti wanita terhormat atau yang dihormati.
Sejatinya, sebelum Maharrani dan Kampung Jahit lahir, keduanya telah sukses menjadi pebisnis online. Namun, Elsa kerap terusik dan teringat beberapa kalimat yang pernah dia dengar semasa kuliah, “Sampai kapan akan menjual produk orang?”
Kegelisahan itu kian membuatnya tidak nyaman. Dia merasa gelarnya sebagai sarjana akan sia-sia jika tidak memberi impact untuk lingkungan. Elsa kebanjiran pesanan, tapi mana tahu seandainya ada tetangga yang bahkan pengangguran.
Keinginan Elsa membangun bisnis sosial terwujud dua tahun lalu. Dorongan terbesar datang dari sang suami yang juga ingin tumbuh bersama masyarakat. Keduanya mulai memikirkan cara mengajak masyarakat bergabung dalam usaha mereka.
Lagi-lagi, niat baik selalu mendapat jalan yang mudah. Masyarakat membuka pintu dengan hangat. Bahkan, istri ketua RT mereka juga menjadi salah satu pekerja di sana.
Kini Elsa bisa tersenyum puas dengan Maharrani dan Kampung Jahit. Pasalnya, dalam 30 hari, mereka bisa memproduksi antara 1.000 hingga 2.000 produk dengan bantuan 31 penjahit dan quality control. Bahkan, dia bersuka cita karena gaji pekerjanya jauh lebih besar dibanding Upah Minimum Regional di daerahnya. Dengan produk yang dihasilkan, Elsa merasa bahagia mengeluarkan hingga Rp30 juta per bulan untuk karyawannya.
Beberapa koleksi Maharrani
Elsa merasa menjadi bagian dari kampungnya—begitu pun sebaliknya. Tak jarang, Kampung Jahit menerima sangat banyak pesanan sehingga membuat pelanggan menunggu beberapa waktu. Di tengah kondisi yang cukup genting, beberapa vendor menawarkan makloon. Makloon merupakan istilah dalam dunia bisnis di mana suatu pihak membuatkan produk untuk vendor lain.
Seperti yang telah kita duga, Elsa selalu menggeleng tegas ketika tawaran serupa muncul. Dia tetap bertahan dengan karyawannya sampai kapan pun. Meski, jika dilihat dari sisi bisnis, makloon lebih menjanjikan lantaran lebih murah dibanding produksi sendiri. Tapi, Elsa adalah Elsa, dulu dan kini.
Pandemi Tidak Menyurutkan Apa pun, Termasuk Semangatnya
Apakah wabah COVID-19 yang belum usai menciutkan nyali Elsa? Tentu saja tidak. Justru ia makin gencar memotivasi karyawannya agar terus produktif.
Bisnis sosial Kampung Jahit tidak berbentuk tempat khusus dengan banyak penjahit. Seluruh karyawan bekerja dari rumah dan memproduksi seluruh produk dari sana. Positifnya, mereka bisa bekerja sambil mengurus anak, mencuci pakaian, bahkan menonton drama Korea tanpa merasa tidak enak dengan Elsa. Di sisi lain, Elsa juga tenang lantaran tidak mengumpulkan banyak orang di satu ruangan.
Seluruh penjahit Elsa adalah Ibu rumah tangga. Alasan mendasar mengapa dia mempekerjakan ibu-ibu lantaran mereka tulus dan jelas membutuhkan uang untuk banyak keperluan. Ibu-ibu merupakan salah satu aspek paling krusial dalam perekonomian keluarga lantaran sering berhadapan dengan pengeluaran dan kejutan—jika mereka pergi ke pasar dan mengetahui harga melonjak, pasti mereka terkejut. Itulah kejutannya.
Ketika Melihat Mereka Tersenyum
Elsa mengernyitkan dahi ketika orang-orang bertanya, “Mengapa alumnus Jurusan Kesehatan Masyarakat menjadi pengusaha? Bukankah sebaiknya menjadi tenaga medis?” Pertanyaan demikian kerap membuatnya tergelak tiap kali dilontarkan.
Yang tidak banyak diketahui, kesehatan masyarakat bukan hanya mendeskripsikan sehat secara medis. Salah satu poin yang diperhatikan adalah aspek keuangan. Dengan begitu, Elsa memperbaiki kesehatan masyarakat dari segi finansial melalui usahanya.
Tim Kampung Jahit
Elsa tidak ingin dicap sebagai pebisnis yang sekadar cari untung. Karenanya, Elsa bahkan rela memfasilitasi seluruh karyawannya, termasuk jika mereka tidak memiliki mesin jahit. Dengan sistem kredit, dia membelikan alat-alat yang dibutuhkan agar produksi lancar. Apa pun dia lakukan agar dapat membantu banyak orang.
Masih terekam jelas di benaknha suka duka membangun Kampung Jahit. Ketika karyawannya menangis karena berkali-kali gagal memenuhi standar pasar, dia secara sukarela menjadi mentor. Begitu pun jika ada yang saling ejek, Elsa bertugas mendinginkan keadaan.
Kebiasaan itu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya ulung berbisnis, tetapi memahami watak banyak orang. Setelah mengerti betul bagaimana definisi kepuasan, Elsa tersenyum lega. Sebab, pada dasarnya, kebahagiaan tidak didasarkan pada laba semata.
Salah satu kepuasan Elsa adalah ketika melihat karyawannya tertawa lepas usai menerima gaji atau membawa pulang bonus di acara bulanan. Meski nominalnya tidak terlalu banyak, tapi melihat guratan senyum di wajah mereka adalah kesenangan yang tidak dapat diwakilkan. Bahkan jika ditukar dengan permata, senyum-senyum itu jauh lebih berharga.
Beberapa bulan lalu, Elsa kembali mengumpulkan seluruh elemen Kampung Jahit dalam Focus Group Discussion. Sebagai pengusaha, dia menginginkan peningkatan kualitas, presentasi rencana jangka panjang, hingga perbaikan jahitan. Acara berjalan sukses. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, usai acara, dia membagikan amplop apresiasi atas dedikasi seluruh karyawan. Kembali dia hanyut melihat senyum-senyum tulus yang melegakan.
Bagi Elsa, berbagi seperti oksigen dalam hidup: berbagi nafas, mendinginkan, dan menstabilkan. Dia akan bahagia jika orang yang dikenalnya juga bahagia. Begitulah, Elsa yang tulus senantiasa yakin jika berbagi adalah petuah ajaib pembuka pintu rezeki.
 
Tentang Rumah Quran Serambi Minang
Rumah Quran Serambi Minang
Masyarakat Sumatera Barat merupakan orang yang taat beragama. Setiap anak dididik dengan pengetahuan agama yang cukup sebagai bekal hidup.
Hal yang sama berlaku pada Elsa. Dirinya mendapat ilmu agama yang baik sehingga tidak mudah goyah dengan sesuatu.
Tapi, rupanya, dia tidak ingin hanya menjadi penonton saja. Elsa merasa harus menjadi generasi yang ikut meningkatkan kembali semangat beragama. Berangkat dari banyak alasan—salah satunya adalah kenyataan bahwa generasi muda mengalami pergeseran nilai—Elsa dan suami mendirikan Rumah Quran Serambi Minang.
Rumah Quran merupakan tempat bagi calon penghafal Alquran. Elsa berharap, melalui yayasan ini, dia akan menerima syafaat dari salah satu muridnya—sebab satu penghafal Alquran bisa memberikan syafaat kepada 78 keluarganya.
Rumah Quran Serambi Minang memiliki lebih dari 200 santri. Namun,  kegiatan di sana terpaksa dihentikan sementara karena terkendala pandemi. Kendati begitu, Elsa tetap optimis keadaan akan membaik dalam waktu dekat.
Sebelumnya, tiap Ramadan, Rumah Quran Serambi Minang memiliki agenda Camp Quran. Setiap santri akan menginap dan menerima tantangan untuk menghafal ayat-ayat sebanyak mungkin dalam waktu 20 hari. Hingga sekarang, beberapa muridnya ada yang berhasil menghafal hingga 3 juz dalam kurun tersebut.
“Saya akan mencoba segala hal yang bisa membawa saya ke surga. Tidak ada yang tahu jika salah satu santri saya adalah penyelamat di hari perhitungan nanti.” Ungkapnya.
 
Jangan Sekali-kali Me-limit Dirimu
Elsa selalu paham bagaimana harus bertindak. Manusia diciptakan dengan sangat baik oleh Tuhan. Maka, bukan alasan yang tepat jika seseorang berkata, “ah, aku nggak bisa. Ah, aku capek,” ketahuilah, menyerah tidak pernah berakhir indah.
Menurut Elsa, setiap orang harus mencoba melompati batas kekuatan. Hal itu dilakukan untuk melihat kemampuan. Elsa selalu mencoba menjadi lebih baik. Sebab, jika hari ini sama dengan kemarin, maka seseorang merugi. Jika lebih buruk, maka seseorang celaka.
Elsa ingin usia yang hanya 60-an tahun lebih bermakna dan menghasilkan banyak hal. Lebih jauh, dia berharap apa yang diperbuatnya untuk orang lain lebih banyak dari bilangan umur. Filosofi itu ia peroleh dari wakaf Khalifah Utsman bin Affan berupa sumur dan kebun kurma yang masih produktif hingga sekarang.
 
Kontribusi untuk Negeri
Elsa tersenyum dari balik kursi kerjanya. Karyawan yang hilir mudik menunjukkan jahitan terbaik mereka sukses membuat matanya tak berkedip. Saat-saat seperti ini adalah momen yang akan dia kenang. Hari-hari di mana dia bisa memberi arti bagi orang-orang di lingkaran hidupnya.
Bagi Elsa, berkontribusi untuk negeri adalah ketika hidup bisa memberi arti bagi orang lain. Bahwa dia dilahirkan tidak hanya untuk menggenapi jumlah jumlah populasi manusia. Dia berharap, bisnisnya membantu mengurangi angka pengangguran—meski jumlahnya masih sedikit untuk sekarang.
Dia memilih social entrepreneurship karena sadar betul banyak orang yang membutuhkan uluran pihak lain untuk melanjutkan asa. Orang-orang tidak akan kenyang dengan diberi motivasi. Masyarakat butuh solusi berupa lapangan kerja. Melalui Kampung Jahit, dia merajut mimpi mewujudkan semua itu.
“Saya selalu berdoa agar Kampung Jahit menjadi besar. Dari sisi agama, saya ingin mencoba apa  pun yang bisa membawa saya ke surga. Dari sisi ekonomi, saya ingin bisnis ini menjadi ladang kerja bagi lebih banyak orang dan menjadi sentral di Sumatera. Aamiin”
Begitulah dia. Selalu memikirkan apa pun dalam jangka panjang. Pebisnis ulung, ibu tangguh, dan perempuan pemberani.
 
Perempuan dan Keberhasilan
Perempuan dan ibu. Dua identitas yang sering disalahartikan—bahwa orang-orang dengan gelar tersebut hanya bertugas di rumah untuk mencuci baju, membersihkan kolong meja, dan membeli perabot yang rusak. Cincai. Tak bisa ditawar.
Tidak. Perempuan bisa menjadi apa pun yang dia mau selama tidak melanggar apa pun. Presiden wanita saja ada, masak jadi pebisnis saja tidak bisa.
Perempuan masa kini bahkan bisa menjadi inspirator anak muda. Elsa sudah berdiri di fase ini dan dengan senyum gemilang siap menginspirasi. Dia berdiri tegak menyapa siapa pun yang mau belajar. Inilah Elsa, permata dari Sumatera Barat.
 
Dari Elsa untuk Anak Muda, Adik, dan Anaknya Jika Kelak Membaca Ini
Elsa tidak menyangka akan menjadi salah satu penerima anugerah Satu Indonesia Awards 2020. Sebab, dia menjalankan bisnis seperti halnya bernapas. Tak pernah ada ambisi untuk menjadi mentereng dengan beragam gelar.
Namun, dalam kisah Elsa, sang suami adalah lelaki yang siap membuatnya bahagia kapan pun. Salah satu caranya adalah dengan mendaftarkan istrinya secara diam-diam ke gelaran ini.
Bagi Elsa, penghargaan yang dia terima adalah hadiah untuk suaminya. Orang yang juga terus melecut semangatnya untuk terus selangkah di depan. Dia akan terus mencintai suaminya, sama seperti dia mencintai dirinya sendiri.
Elsa berpesan kepada setiap anak muda untuk mengikuti hati nurani. Carilah ilmu yang baik dan ikutilah mereka yang berbuat baik. Terakhir, jangan sia-siakan masa studi untuk berpangku tangan. Karena, setiap orang mampu berbuat lebih.
Media Sosial
#SemangatMajukanIndonesia #KitaSATUIndonesia