Menoreh Tinta Budaya dari Kaki Gunung Arjuno
Media Online https://www.heyarai.com/2020/12/batik-bantengan-Anjani.html
Oleh: Amelya Juwitasari , Kategori: Umum (https://www.heyarai.com/)

batik bantengan Anjani
Tahun 2013 tidak akan pernah dilupakan oleh Anjani Sekar Arum (22). Di saat perempuan seusianya sibuk merangkai cita-cita pada jenjang akhir bangku kuliah, Anjani dihadapkan pada dua hal yang sangat penting dalam hidupnya, cinta dan mimpi.

Keinginannya lulus secara sempurna dari jurusan Seni dan Desain di Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang harus menemui rintangan. Anjani saat itu sedang begitu bersemangat mengerjakan skripsi dan memenuhi mimpinya untuk menggelar pameran batik hasil karyanya sendiri. Bukan tanpa alasan kenapa luapan semangat Anjani sangat menggelora. Karena baginya, batik yang dia hasilkan ini adalah sebuah mahakarya. Seperti Picasso yang begitu bangga dengan Guernica, atau da Vinci dengan Mona Lisa-nya, begitulah yang ada di benak Anjani lewat lembar demi lembar batik hasil tangannya.

Di usianya yang masih sangat muda kala itu, Anjani membuat keputusan berani. Kenapa tidak memegang erat-erat cinta dan impian daripada harus melepaskan salah satu?

Dan langkah itulah yang tertulis dalam sejarah hidupnya. Saat masih berstatus sebagai mahasiswi semester akhir, Anjani menerima pinangan sang kekasih, Netra Amin Atmadi. Bukan pernikahan biasa, tapi sebuah kebahagiaan yang terselubung duka. Air mata Anjani harus mengalir di hari bahagianya itu karena dirinya menikah di depan jenazah sang mertua.

Berhasil memegang cinta dalam hidupnya, Anjani siap untuk kembali menarik tali mimpinya. Namun sepertinya Tuhan memiliki rencana lain ketika menitipkan makhluk kecil di dalam rahimnya, sebulan setelah pernikahan. Sekali lagi, Anjani harus memilih apakah ini waktunya berhenti dan menyerah atau justru melaju lebih kencang?

Anjani jelas memilih yang kedua.

Sembilan bulan mengandung, Anjani pun mendapatkan status sebagai seorang Ibu ketika Anandhaka Abyasa Gondokusumo terlahir. Melahirkan saat masih menulis skripsi dan kondisi keuangan rumah tangga buruk karena sang suami hanya menjadi guru honorer, tentu bukanlah situasi yang diharapkan Anjani. Penghasilan satu juta Rupiah per bulan dari sang suami haruslah bisa memenuhi seluruh kebutuhan sang buah hati. Namun meskipun dalam kondisi yang cukup tertekan, Anjani menolak melepas tali mimpinya. Bahkan ketika ada tawaran untuk beasiswa S2 dan menjadi dosen, Anjani pun sama sekali tak bergeming dan tetap menatap mimpinya itu.

Tepat ketika putra kecilnya berusia enam bulan di tahun 2014 kala itu, Anjani membuktikan kalau dirinya adalah manusia pilihan. Buah ketekunan, mental baja dan cinta yang sangat besar membuat Anjani bisa menyelesaikan skripsi sekaligus menggelar pameran tunggal batik Bantengan, karya yang menjadi mimpinya selama ini.

Dan pameran tunggal batik Bantengan itulah, yang menjadi awal dari pintu-pintu baru yang siap dibuka Anjani dalam kehidupannya.

Perjalanan 300 Kilometer ke Barat
Galeri Batik Bantengan Anjani di Bumiaji

"Saya lahir di keluarga seni. Bapak dan banyak anggota keluarga lain adalah pelukis. Karena itu saya suka melukis. Tapi sebagai seorang perempuan yang dikaruniai kelembutan, saya jatuh cinta dengan batik," cerita Anjani (29), membuka pembicaraan panjang kami siang itu, ketika hujan deras mengguyur Dusun Binangun, Desa Bumiaji, Kota Batu, tempat Anjani berkarya.

Pengakuan Anjani itu bikin saya terdiam. Kadang memang kita bisa jatuh cinta dengan alasan yang sederhana.

Namun perjuangan Anjani dalam mempertahankan hal yang dia cintai itu tidaklah sesederhana alasannya.

Memilih kriya batik sebagai fokus pendidikannya, Anjani harus gigit jari karena tidak ada dosen yang cukup ahli mengajarinya batik. Namun hal itu tidak dijadikannya sebagai alasan untuk berhenti. Anjani justru makin melaju untuk merengkuh apa yang dia mimpikan itu. Jika memang kampus tak memberi ilmu, Anjani bisa mencari ke tempat lain.

Menempuh perjalanan lebih dari 300 kilometer dari Batu, Anjani akhirnya tiba di Yogyakarta dan Solo, sentra industri batik Indonesia. Uang sekitar Rp6 juta dia keluarkan dari kantong pribadinya hanya untuk belajar teknik pewarnaan batik. Namun Anjani pantang hanya belajar satu resep teknik pewarnaan saja. Dipasangnya mata dan telinga baik-baik dalam pengembaraannya itu. Anjani 'mencuri' sebanyak mungkin resep pewarnaan dari para perajin di industri batik, dan dikunci baik-baik di benaknya.

Setibanya kembali di Batu, Anjani langsung mempraktekannya. Harapan tinggi untuk sukses lewat sekali percobaan pun membuncah di jiwa mudanya. Namun alih-alih berhasil, semua usaha otodidak Anjani gagal dan membuatnya kehilangan cukup banyak kain. Kegagalan itu tak hanya membebani mental, tapi juga fisiknya yang harus berulang kali menggosok lantai dan bak kamar mandi yang terkena pewarna batik.

Hanya satu yang menjadi alasannya untuk bertahan dan tidak mau menyerah, rasa cintanya yang luar biasa pada batik dan dunia seni itu sendiri, yang mengalir deras di dalam nadi-nadi tubuhnya.

Cahaya dari Kegelapan Seni Bantengan

Anjani dan batik-batik Bantengan karyanya

"Setiap seniman itu punya ego sendiri, kita semua pasti ingin punya ciri khas. Saya ingin melakukan sesuatu yang baru. Bukan hanya di Batu atau Jawa Timur, tapi Indonesia. Karena itulah saya memilih kepala banteng sebagai motif batik saya,"  cerita Anjani dengan mata berbinar di ruang tamu yang dipenuhi kain-kain batik Bantengan.

Tentu saja binaran pada sepasang mata Anjani itu bermakna kontradiktif bagi saya. Apalagi kalau mengingat pengalaman saya beberapa kali melihat pertunjukan seni Bantengan yang lebih berkesan kelam, gelap dan mistis.

Sebagai anak asli Jawa Timur yang besar di kawasan Batu dan Malang, pertunjukan seni Bantengan seringkali saya lihat di event-event karnaval. Biasanya para peraga akan mengenakan kostum serba hitam dan bergerak di balik kostum banteng. Diiringi musik tradisional dan aroma dupa yang menyeruak hidung, adegan-adegan silat bantengan akan semakin intens seiring dengan suara pecutan sang pendekar.

Tak jarang para peraga yang berpasangan mengenakan kostum banteng sampai berlompat dan menggelinjang tidak waras. Bahkan yang bertopeng singa atau kera, seringkali sampai memakan sesajian sambil kesurupan.

Namun bagi Anjani, seni Bantengan tidaklah pernah terasa gelap di matanya. Seni itu justru yang menjadi cahaya, penerang jalannya untuk menelusuri mimpi bersama lembar demi lembar kain batik karyanya. Bahkan sang Ayah, Agus Tubrun, adalah pendiri dari kelompok budaya Bantengan, Nuswantara.

"Saya selalu berusaha melihat nilai-nilai estetik pada setiap budaya. Bantengan adalah seni milik rakyat yang hampir selalu pelakunya adalah kalangan menengah ke bawah. Selama ini orang selalu mengira Bantengan itu menakutkan, mabuk, mistis dan dianggap negatif. Padahal sebuah seni yang dikemas dengan baik, justru akan membuat takjub. Hal ini yang membuat saya mengenalkan Bantengan dalam kain batik," lanjut Anjani.

motif-motif batik Bantengan Anjani

Selayaknya seekor banteng yang tak akan berhenti berlari hingga menabrak kain merah sang matador dan terus berulang, begitu pula tekad perempuan berkulit sawo matang ini. Di saat banyak pengrajin batik di Kota Batu memilih sayur-sayuran dan buah sebagai motif batiknya, kepala banteng justru menarik hati Anjani untuk menjadi motif utama dari batiknya.

Tak heran kalau akhirnya Walikota Batu saat ini, Dewanti Rumpoko, yang pada tahun 2014 menghadiri pameran tunggal pertama Anjani sebagai Ketua Dekranasda Kota Batu, meresmikan batik Bantengan sebagai motif batik khas dari Batu.

Tinta yang Mengalir dari Desa Suci Warisan Majapahit

"Galeri saya ini dibuka bebas untuk umum, siapapun bisa belajar. Semua proses produksi terbuka, tidak ada yang ditutupi. Ada 42 orang pekerja di galeri mulai dari usia muda sampai 50 tahunan. Setengah di antaranya warga sekitar Bumiaji sendiri," lanjut Anjani sambil berkeliling ruang produksi batiknya.

Sabtu siang itu tak banyak pekerja, hanya ada seorang pemuda berusia 19 tahun sendirian sedang mewarnai selembar kain berwarna putih. Tio namanya. Pemuda lulusan SMK PGRI 2 Malang itu ternyata adalah keponakan Anjani yang memang sangat gemar melukis. Dia sempat mengajak saya untuk ikut mewarnai desain yang dibuat dengan lilin pada selembar kain berukuran 2,4 meter itu.

Tio sedang mewarnai kain batik Bantengan

Seperti yang dituturkan Anjani, ada cukup banyak kain batik yang menumpuk di sudut ruangan produksi. Musim hujan memang membuat proses produksi batik terhambat sehingga belum mencapai tahapan fiksasi dan penjahitan di rumah rekanan. Enam tahun perjalanan batik Bantengan, karya yang awalnya puluhan ini memang sudah berkali-kali lipat peningkatan produksinya.

Meskipun memang selama pandemi Covid-19 ini, omzet bisnis yang biasanya setiap bulan menyentuh Rp50 juta langsung anjlok Rp10 juta, itu bukanlah masalah. Anjani memilih melihat ke sisi lain. Karena kapasitas produksi yang menurun tak perlu diratapi dengan pilu, tapi yang penting seluruh pengrajinnya tetap bisa hidup. Bahkan dirinya tak pernah menganggap menjadi seorang pemilik yang cuma bisa duduk menghitung uang hasil penjualan. Anjani masih turun ke ruang produksi setiap harinya, menggambar desain di lembar demi lembar kain, sama seperti saat masih duduk di bangku kuliah bertahun-tahun lalu.

"Saya bukan seorang pebisnis. Bagi saya, para pengrajin batik Bantengan adalah keluarga. Mereka bisa diajak susah dan juga senang. Selama pandemi ini profit sering minus, tapi kita semua berjalan sama-sama. Tidak ada yang namanya bos, semua setara. Saya memang owner, tapi saya bukanlah tukang perintah," lanjut Anjani sambil menemani saya berjalan memotret beberapa kain batik Bantengan yang sudah dibuat menjadi ikat kepala, tas hingga sepatu itu.

kain batik selesai dilukis

Semua karya yang dipajang di galeri batik milik Anjani ini tampak menggambarkan betul prinsipnya dalam membangun usaha. Dimana menurutnya, inti dari proses membatik itu adalah perasaan. Inti itulah yang juga dia jadikan pondasi dari usahanya selama enam tahun ini. Anjani mencoba menjaga perasaan setiap orang yang terlibat dalam batik Bantengan miliknya. Karena dia percaya, ketika semua menjaga perasaan satu sama lain, lilin dan cat lukis yang ditorehkan di lembaran kain itu akan hidup dan tampak memiliki jiwa. Karena ketika perasaan sang pembuat batik terluka, batik Bantengan hanyalah akan menjadi sebuah lembaran kain yang tidak istimewa.

Anjani Sekar Arum mungkin bukanlah Dewi Anjani dalam kisah Ramayana. Reinkarnasi bidadari bernama Punjikastala sekaligus ibu dari Hanoman itu memiliki Cupu Manik Astagina, yang jika dibuka bisa membuatnya mengetahui segala peristiwa di langit dan bumi. Namun Anjani yang duduk di depan saya ini juga sudah mengetahui dengan pasti apa peristiwa yang ingin dirangkainya di masa depan.

"Saya ingin batik Bantengan ini lebih bermanfaat ke warga sekitar. Saat ini kami sedang mengembangkan kampung wisata agar masyarakat bisa merasakan dampak dari karya saya. Bumiaji adalah desa pelosok yang memiliki keindahan alam luar biasa. Saya ingin masyarakat Bumiaji jadi lebih berkembang. Tidak hanya menanti warisan peninggalan orangtua, tapi berupaya menjadi pribadi yang lebih kreatif untuk dirinya dan generasi mendatang," jelas Anjani panjang lebar.

Mendengarkan keinginan tulus Anjani itu, saya jadi ingat sejarah Bumiaji. Desa ini pernah memiliki status penting bagi Kerajaan Majapahit yakni sebagai salah satu wilayah suci. Berada di lereng pegunungan Arjuno-Welirang, Bumiaji sangat kaya dengan hasil bumi hortikultura sejak masa kuno. Bahkan pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk (1350-1389 Masehi) hingga Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (1486 Masehi), Majapahit memutuskan Bumiaji menjadi salah satu daerah perdikan, yakni wilayah mandiri yang bebas dari pajak.

Kini ratusan tahun berlalu, Bumiaji masihlah menjadi desa yang kaya akan hasil buminya. Tuhan sepertinya sangat mencintai Bumiaji sehingga melimpahkan banyak obyek wisata. Disebutkan ada setidaknya 21 titik wisata yang menjadikan Bumiaji sebagai desa dengan atraksi pelancong terbanyak di Malang Raya. Namun dari puluhan titik wisata itu, tak ada obyek wisata kesenian.

produk yang dijual di galeri batik Bantengan Anjani

Hal inilah yang membuat Anjani membuka pintu selebar-lebarnya untuk siapapun yang ingin berkenalan dengan batik di galerinya. Karena dirinya memang tidak menjual kain batik, melainkan nilai dari batik itu yang siap dia delegasikan. Bahkan Anjani tidak merasa tersaingi ketika murid-muridnya ada yang membuka usaha batik sendiri. Karena bagi Anjani, batik Bantengan hanyalah berasal dari 'rahimnya' dan akan selalu menjadi 'anak kandungnya'.

Melalui sebuah niat tulus yakni melestarikan budaya, tinta batik Bantengan itu mengalir deras dari kaki Arjuno. Bahkan ketika ada grup-grup kesenian Bantengan asal Batu sedang tampil di kota lain, kostum-kostum yang dipakai entah ikat kepala atau lembaran kain batik yang tertikat di tubuh para pendekar dan pemain alat musik, sudah dihiasi motif kepala banteng. Taiwan, Ceko, Malaysia, Singapura dan Australia adalah negara-negara yang pernah disinggahi batik Bantengan, bukti kalau mimpinya semasa muda itu sudah menemukan tempat berlabuh yang tepat.

Pintu Baru yang Diawali Pelapor Misterius

Seperti segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati, Anjani dengan tegas mengakui bahwa enam tahun perjalanan batik Bantengan tak pernah sekalipun memberikan duka. Dia bahkan membebaskan produk-produknya dijual dengan harga lebih mahal oleh para penggiat seni Bantengan, yang mana keuntungan akan dimanfaatkan kembali ke kelompok-kelompok Bantengan di Kota Batu.

Salah satu momen bahagia yang dia dapatkan selama membesarkan batik Bantengan inipun terjadi pada tahun 2017. Di tengah kesibukannya mengajari anak-anak kecil membatik di galeri lamanya yang berlokasi di kawasan Ngaglik, tengah Kota Batu, Anjani dihubungi panitia SATU Indonesia Awards yang memberitahu bahwa dirinya menjadi salah satu Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2017, untuk kategori Kewirausahaan.

Anjani Sekar Arum meraih SIA 2017

Anjani bersama tujuh pemuda lainnya terpilih dari 3.234 pemuda menginspirasi di seluruh pelosok Indonesia. Penghargaan ini jelas sangat penting bagi batik Bantengan yang akhirnya makin kokoh menapakkan langkahnya menjadi salah satu batik khas negeri ini. Yang menarik, hingga saat ini dirinya tidak pernah tahu siapakah orang yang telah mengajukan dirinya untuk memperoleh penghargaan dari PT Astra International itu.

"Saya dari dulu itu jarang mengikuti kompetisi-kompetisi apapun. Jadi penghargaan dari Astra itu murni didapatkan dari orang lain karena sampai sekarang, saya tak tahu siapa yang mendaftarkan," kenang Anjani sambil tersenyum.

Namun bagi Anjani, SATU Indonesia Awards lebih dari sekadar piala penghargaan. Anjani tahu bahwa Astra memiliki tujuan seperti mimpinya yakni sama-sama Semangat Majukan Indonesia. Tiga tahun setelah meraih penghargaan itu, Astra tetap mendampinginya untuk membimbing pada pintu baru impiannya, menjadikan Bumiaji menjadi kampung batik Bantengan untuk Indonesia.

Dengan tujuan barunya yang begitu jelas, Anjani siap melangkah dengan pasti. Mungkin saja bagi masyarakat Bumiaji di masa depan nanti, Anjani Sekar Arum dan kecintaan luar biasanya terhadap batik Bantengan, adalah sang 'dewi' di lereng Arjuno. Sama seperti Dewi Anjani yang oleh masyarakat Lombok dianggap sebagai si cantik penguasa gunung Rinjani.