Barter Ilmu Mengaji dengan Sampah Rumah Tangga
Media Online https://temutengah.com/2020/12/31/pulauku-nol-sampah-ajak-bawa-sampah-saat-berangkat-ngaji/
Oleh: Lusia Arumingtyas , Kategori: Umum (http://temutengah.com)

BARTER ILMU MENGAJI DENGAN SAMPAH RUMAH TANGGA

 

Salah satu sampah sachet yang ditemukan di pinggir pantai Pulau Pramuka.
Foto: Lusia Arumingtyas

 

Hampir dua dekade Mahariah berjuang menggerakkan kepedulian terhadap lingkungan dan menjadikan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu minim dari sampah. Dalam jenjang waktu tersebut, dia mengajak murid-muridnya untuk membawa sampah rumah tangga saat berangkat mengaji. Mimpinya hanya menjadikan Pulau Pramuka dan sekitarnya menjadi Pulauku Nol Sampah.

 

Permasalahan sampah menjadi permasalahan yang klasik dan membutuhkan konsistensi yang besar untuk bisa merangkul banyak orang untuk mewujudkannya. Secara tekun dan sabar, dia menanamkannya pada anak-anak muridnya.

 

Mahariah, seorang perempuan kelahiran Pulau Panggang merasa resah dengan kondisi lingkungan di tempat dia tinggal. Bermula pada 2008, saat banjir besar melanda Jakarta dan wilayah sekitarnya. Kepulauan Seribu menjadi ‘rumah’ bagi sampah-sampah dari Jakarta, Bekasi, Tangerang dan wilayah lainnya.

 

Baik Pulau Pramuka maupun Pulau Panggang, sampah banyak menyangkut di mangrove dan menyebabkan hektaran mangrove mati. Padahal, ekosistem ini sangat penting bagi masyarakat pesisir untuk mengurangi abrasi, penyimpan karbon dan juga budidaya ikan laut. Akhirnya, dia mulai bergerak untuk mulai melakukan penanaman kembali mangrove yang sudah menghilang.

Sebagai guru SD dan guru mengaji di Pulau Pramuka, Mahariah memiliki peluang untuk bisa memberikan edukasi terkait lingkungan. Ada sekitar 60 anak datang pada Mahariah untuk belajar mengaji. Tanpa pungutan biaya, setiap anak punya jadwal rutin seminggu sekali untuk mengaji.

“Saya buka pengajian dari dulu tidak ada bayaran. Tahun 2009 saya berpikir bagaimana agar sampah di pulau tiak terbuang ke laut. Saya akhirnya berinisiatif untuk meminta mereka menengok sampah di rumahnya dan membawanya saat berangkat mengaji,” ujar Mahariah saat ditemui di bank sampah Rumah Hijau.

Misalnya, sampah plastik yang berasal dari dapur rumahnya yang biasa dibuang oleh orang tuanya. Sampah yang biasa dibawa kebanyakan dalah bungkus mie instan dan kopi sachet, beberapa minuman gelas dan kebutuhan rumah yang berbentuk sachet.

Satu anak biasanya hanya membawa satu kantong plastik kecil dan ditukarkan dengan tas daur ulang untuk tempat menyimpan Al-Quran dan buku Iqro ataupun tempat pensil. Berat sampah dalam satu minggu tidak mencapai 400 gram, namun bagi Mahariah itu sangat berarti.

Tak dapat dipungkiri, niat baik dari Mahariah tidak bisa diterima oleh semua orang tua. Ada orang tua murid yang keberatan untuk melakukan itu, bahkan ada yang sampai pindah tempat untuk mengaji.

“Banyak yang menganggap ini seperti bayaran. Ada yang bilang daripada membayar pakai sampah, sudah bayar pakai uang saja. Ada anggapan atau anaknya dianggap seperti pemulung,” ujar Mahariah. 

Edukasi terhadap orang tua menurut Mahariah menjadi sebuah tantangan terbesar dalam mewujudkan mimpinya agar Pulauku Nol Sampah. Dia selalu memberikan penjelasan bahwa dengan memilah sampah di rumah sendiri, kita bisa mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan sampah. Sampah menjadi terpilah, sampah yang bisa didaur ulang bisa dijadikan barang kerajinan tangan.

 

Kegiatan itu dilakukan setiap satu minggu sekali. Awalnya dia menampung di rumahnya sendiri, sebelum ada rumah daur ulang sampah di Pulau Pramuka. Yakni, ‘Rumah Hijau.’

Rumah Hijau merupakan sebuah ruang bagi para pegiat lingkungan yang peduli terhadap masa depan Pulau Pramuka dan pulau di sekitarnya. Rumah ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan dan menjadi ruang edukasi masyarakat untuk hidup ramah lingkungan dan memiliki ketahanan pangan.

 

Generasi Muda Pulau Pramuka Perlu Bergerak

Anak-anak bermain di areal Tempat Pembuangan Sampah Sementara di Pulau Panggang. Foto: Lusia Arumingtyas

 

Anak-anak di Pulau Pramuka menjadi sebuah generasi penting dalam upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan di masa depan. Diakui, edukasi terhadap orang tua seringkali mendapatkan tantangan, tapi banyak juga mendapatkan dukungan.

Bermula dengan memilah dari rumah, Mahariah mengharapkan mimpi menjadikan Pulau Pramuka menjadi Pulauku Nol Sampah akan sedikit demi sedikit terwujud. “Setiap minggu, anak-anak saya ajak dalam memilah jenis. Sampah mana saja yang memiliki nilai ekonomis dan tidak. Jika setiap rumah ada agen anak maka akan semakin mudah.”

Selain itu, anak-anak di Pulau Pramuka dan Pangganng pun sering melakukan aksi bersih pantai dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik. Sekali aksi bisa mencapai 50-60 kg.

Mahariah memberikan edukasi terkait peduli terhadap lingkungan biasanya melalui kisah orang besar dan cerita Nabi. Edukasi lingkungan ini pun seringkali disisipi dengan kegiatan yang lebih menarik dan menyenangkan, misalnya berenang sambil mengambil sampah, belajar satwa di pulau lain dan menonton film.

 

Kontribusi Positif untuk Pulau Pramuka

Mahariah sedang menunjukkan ember komposer yang ada di Rumah Hijau.
Foto: Lusia Arumingtyas

 

“Saya butuh udara bersih, makanya saya menanam mangrove. Saya perlu makanan sehat, makanya menanam sayuran organik. Saya ingin tempat tinggal saya bersih, maka saya bangun pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya.

Tak hanya sebagai tempat untuk belajar, Rumah Hijau menjadi tempat untuk menampung beragam keluhan masyarakat, seperti air tanah yang semakin asin, harga sayur yang mahal dan masalah sampah.

Persoalan lingkungan untuk masyarakat yang tinggal di pulau memang tidaklah mudah, tapi bukan menjadi sesuatu yang mustahil bagi Mahariah. Terutama, terkait air bersih, sampah dan juga abrasi. Pada 2009, Mahariah pun membentuk Komunitas Laut Bukan Tempat Sampah.

Bersama 30-an orang warga yang bergabung dalam anggota rumah hijau pun melakukan aksi nyata. Diantaranya mendaur ulang sampah untuk menjadi barang-barang kerajinan; membuat lubang biopori; membuat ecobrick; penangkaran kelinci; membuat energi biogas dengan menciptakan energi ramah lingkungan; menciptakan ketahanan pangan dengan membuat kebun hidroponik; membuat pupuk kompos dan kandang secara mandiri; menanam mangrove.

“Krisis lingkungan di Pulau Pramuka itu karena sampah, baik yang berasal dari Jakarta atau tempat kita sendiri,” ujarnya.

Masyarakat Kepulauan Seribu masih bergantung sayur mayur dari Jakarta. Setiap hari pedagang sayur hilir mudik untuk memasok kebutuhan pangan. Plastik menjadi salah satu wadah yang praktis untuk mereka gunakan. Foto: Lusia Arumingtyas

 

Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Kantong plastik, salah satu sampa yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Selain itu, sebanyak 70 persen sampah plastik berpotensi masuk ke laut Indonesia, mengingat 71 persen wilayah Indonesia adalah lautan.

Berdasarkan penelitian Divers Comunity Action, per hari rata-rata timbulan sampah per orang diperkirakan mencapai 0,45 kilogram. Sampah paling banyak di Kepulauan Seribu adalah sampah organik (45%), sedangkan sampah plastik sekitar 21 %. Masyarakat di Kepulauan Seribu banyak bergantung kehidupan sehari-harinya pada plastik dan secara gaya hidup sudah terpengaruh dengan gaya hidup Jakarta yang serba praktis.

Semangat positif Mahariah bersama kelompoknya pun diapresiasi oleh PT Astra International Tbk dengan mencanangkan menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) Pulau Pramuka pada tahun 2015 dan meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Award tahun 2015 lalu di bidang lingkungan. Pulau Pramuka adalah salah satu dari 77 Kampung Berseri Astra yang ada di seluruh Indonesia.

PT Astra International Tbk pun memfasilitasi berbagai kegiatan pembinaan yang mengacu pada empat pilar kontribusi sosial Astra yang berkelanjutan, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan.

Pada bidang lingkungan, kegiatan berfokus pada pengolahan sampah dan ketersediaan air bersih. Kegiatan yang dilakukan, diantaranya pengelolaan bank sampah, pengumpulan sampah organik yang dimasukkan ke dalam alat biodigester, sehingga menghasilkan biogas untuk keperluan memasak, pemanfaatan ulag botol plastik agar menjadi bata ramah lingkungan (ecobrick), pembuatn karya seni dari limbah styrofoam, serta penampungan air hujan dan pertanian sayur organik yang dapat dilakukan di halaman rumah.

Padahal Pulau Pramuka memiliki potensi wisata yang cukup memikat. Ada 4 ekosistem penting yang ada di Pulau Pramuka, yakni hutan pantai, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Ekosistem lainnya, diantaranya terumbu karang, penyu sisik, elang bondol, elang endemik jakarta, burung air, moluska, mamalia laut dan ikan laut.

Sejak 15 tahun lalu, Mahariah bersama dengan tim kecilnya mengembangkan program ekowisata. Yakni, program pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengdepankan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial, budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta pendidikan. Salah satunya, penghijauan wilayah hutan mangrove dan pengelolaan daur ulang sampah.

Tak sampai disitu, tahun 2017 lalu pemerintah memberikan apresiasi Kalpataru tingkat nasional kepada Mahariah. Penghargaan tersebut diberikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Pulau Pramuka memiliki potensi ekowisata yang besar. Foto: Lusia Arumingtyas

Langkah Kecil Menjadi Besar

Meski sudah 5 tahun berjalan, secara konsisten langkah ini terus dilakukan bahkan terus berinovasi. Secara simultan, kegiatan pengelolaan lingkungan terus dilakukan secara konsisten oleh masyarakat. “Kami terus berinovasi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan bagaimana sampah ini juga bisa bermanfaat bagi masyarakat.”

November 2020, ASTRA pun kembali melakukan pendampingan dengan memberikan bantuan mesin pirolisis, yakni mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Meski dalam tahap uji coba, langkah ini diharapkan bisa berdampak masif agar sampah-sampah yang selama ini tidak bernilai menjadi bernilai.  

“Sedang kita coba untuk kapal-kapal nelayan. Selain itu kita juga sedang mengembangkan pembuatan sabun dari minyak jelantah.”

Selain itu, Rumah Hijau juga telah menitipkan barang-barang ‘curah’ atau isi ulang atau bulk store kepada 3 unit warung di Pulau Pramuka. Masyarakat bisa membawa tempat sendiri untuk mengurangi penggunaan sachet. Bahan isi ulangnya diantaranya, shampoo, karbol, sabun cuci piring, sabun mandi cair, dan sabun cuci baju.

“Banyak orang yang senang dan laku. Tapi kan butuh modal besar untuk supply banyak, ini yang sedang dicari jalan keluar agar dstribusi bisa lebih cepat sehingga kebutuhan terpenuhi.”

Mahariah menyebutkan banyak sudah berubah di Pulau Pramuka, semakin banyak masyarakat yang mau inisiatif melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga. Selain itu, dukungan regulasi pemerintah dan swasta menjadi salah satu penggerak motor inisiatif masyarakat di daerah.

“Saat ini dalam satu hari, 1 kelurahan yang terdiri dari 5 RW hanya mengangkut 1,5 ton per hari. Dahulu 1,5 ton per hari hanya untuk 1 RW saja.”

Harapannya, ketekunan dan kerja keras Mahariah dan kelompok masyarakat Pulau Pramuka dapat mewujudkan apa yang menjadi harapannya selama ini. Yakni, Pulauku Nol Sampah. Langkah kecil mereka sangat berarti untuk masa depan Pulau Pramuka dan sekitarnya.

#SemangatMajukanIndonesia #IndonesiaBicaraBaik #KitaSATUIndonesia