Terarah Jukung Mengubah Badung
Media Online https://www.iraguslina.com/2020/12/terarah-jukung-mengubah-badung.html
Oleh: Ira Guslina Sufa , Kategori: Umum ( https://www.iraguslina.com)



About two third of our country are wide array of sea. However fisherman in Indonesia are categorized as loss fortunate community. Why? The main problem is the incapability of using the technology to help ones's need.

Today, the rise of technology has been making things easier for human to do every activities every single day. With just one button, every necessity can be done. Imagine if Indonesia fisherman could increase the fish catching rate with only on button.

That's what we do.

-- Fish Go --
 
***
 
Cuaca malam itu cerah. Jukung yang dinaiki Pak Wayan Gading, anggota kelompok Nelayan Tanjung Sari, Kelan, Badung, bergoyang pelan di tengah laut. Di suatu titik yang sudah ditentukan, ia dan rekan satu kelompok mulai melempar  jala.

Tak lama menunggu. Dalam hitungan jam, jukung Pak Wayan penuh terisi ikan. Ia tak bisa menyembunyikan rasa syukur. Begitu pula dengan anggota kelompok nelayan lain yang turun melaut hari itu.

Esoknya, ketika Jukung kembali berlabuh di daratan, tawa bahagia pecah mengiringi langkah kaki. Peti-peti berisi ikan segar segera diangkut menuju tempat pelelangan.

"Hari ini kami dapat tangkapan yang memadai," ujar Pak Wayan semringah suatu pagi, Oktober tahun lalu.

Ya, hari itu memang berbeda dari biasa. Nelayan pulang dengan riang. Sebanyak hampir 300 kg ikan berhasil ditangkap dalam satu malam. Padahal biasanya, hasil tangkapan sekali melaut hanya sekitar 50 kilogram saja. 

Hari sebelumnya, saat akan pergi melaut, ia bersama sejumlah nelayan melakukan hal tak biasa. Bukan melihat rasi bintang atau melihat terang bulan. Perjalanan justru dimulai dengan mempelajari calon area tangkapan dari layar ponsel android yang ada. Di sana, sudah terinstall aplikasi yang dipercaya bisa membantu menemukan lokasi ikan berada.


 
 
 
 
Pak Wayan Gading bersama rekan dan tim Fish Go saat ujicoba aplikasi. Foto: istimewa .
 
 
Fish Go! Begitu nama aplikasinya. Meski hari itu, aplikasi masih dalam tahap uji coba, nelayan Badung, Bali ini cukup antusias. Bersama nelayan lain dan tim dari Fish Go yang ikut turun dalam tahap uji coba, Pak Wayan cukup yakin akan menemukan lokasi yang tepat. Hasilnya, dapat ditebak. Mereka pulang dengan tangkapan berlimpah. 

"Jadi kita sudah ketemu dengan ikan yang kita tuju, bukan meraba-raba lagi." ujar Pak Wayan Gading lagi.

Setahun berlalu sejak aplikasi Fish Go diuji coba secara intens oleh nelayan tradisional di Desa Kelan Badung, pada Selasa, 16 Desember 2020 lalu, teknologi ini secara resmi diluncurkan ke publik oleh pemerintah Kabupaten Badung, Bali. Tentu saja, jauh sebelum hari peluncuran, sudah banyak nelayan yang melaut dipandu aplikasi.

"Biasanya, kadang-kadang dapat ikan, kadang-kadang tidak dapat ikan. Lebih sering tidak dapatnya karena kami tidak tahu posisi ikan. Tetapi dengan menggunakan aplikasi ini kami bisa mengetahui di mana posisi ikan, dan kemudian kami coba ke posisi ikan, dan benar di sana banyak ikannya," ujar Ketua Kelompok Nelayan Sumanjaya Kedongan Kuta, Nyoman Sudiarta  dalam rangkaian peluncuran aplikasi. 

Di Badung, mayoritas nelayan tradisional yang tergabung dalam kelompok Nelayan memang sudah mengenal aplikasi Fish Go. Selama dua tahun terakhir, puluhan nelayan dilibatkan dalam uji coba dan pengembangan aplikasi. Jukung-jukung yang menjadi kapal nelayan khas Bali, menjadi saksi pengembangan aplikasi. 
 
 
Fish Go,  aplikasi pencari ikan berbasis navigasi 


Fish Go merupakan aplikasi yang bisa membantu nelayan menentukan daerah potensial tangkapan ikan, rute tercepat, dan waktu terbaik untuk menangkap ikan. Aplikasi ini dikembangkan oleh I Gede Merta Yoga Pratama, pemuda Bali kelahiran 1993 bersama dua rekannya. 

"Lewat aplikasi ini, kami ingin membantu nelayan tradisional mendapat tangkapan yang lebih baik. Dengan kekayaan laut yang melimpah, ekonomi nelayan tradisional kita seharusnya bisa meningkat," ujar Merta Yoga pada saya saat kami berbincang pertengahan Desember lalu. 

Menurut Yoga, selain pariwisata, sumber daya laut merupakan kekayaan alam Bali yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama Nelayan. 

Bertekad Ubah Nasib Nelayan
 
Merta Yoga memberi pendampingan pada nelayan tradisional Badung. Foto Istimewa

Hati Merta Yoga mulai gundah. Apalagi, sejak ia terlibat dalam sebuah penelitian mengenai perekonomian wilayah pesisir Bali pada 2016. Sepanjang waktu ia tak pernah berhenti berpikir, bagaimana bisa masyarakat nelayan yang tinggal di pesisir yang kaya akan sumber daya laut justru menjadi kelompok masyarakat rentan. Badan pusat statistik mencatat, 25 persen angka kemiskinan justru ditempati nelayan tradisional. Tak terkecuali juga di Badung. 

Pada 2017, saat ikut program magang di Balai Penelitian dan Observasi Laut di daerah Jembrana, Bali, Merta makin yakin bahwa sebenarnya pesisir pantai Bali sangat kaya akan fitoplankton. Kondisi itu seharusnya bisa menjadi nilai tambah bagi nelayan tradisional. Namun sayang, pengetahuannya tentang daerah potensial tangkapan ikan itu hanya berakhir dengan laporan. 

Seiring berjalannya waktu, ia terus berpikir bagaimana caranya merealisasikan gagasannya untuk meningkatkan ekonomi nelayan tradisional. Maka ketika, Badan Litbang Kabupaten Badung menggelar innovation festival. Merta Yoga yang masih diliputi kegalauan tak mau melewatkan kesempatan. Ia memanfaatkan ajang itu untuk menuangkan pemikirannya, mengangkat ekonomi nelayan tradisional dengan memanfaatkan data-data yang ada. 

Terinspirasi dari permainan Pokemon Go yang saat itu sedang viral, ia mewacanakan kehadiran sebuah aplikasi yang bisa membantu nelayan menentukan area tangkapan ikan. Aplikasi impiannya itu memanfaatkan citra satelit, penginderaan jauh, dan pemetaan daerah tangkapan ikan.

"Kalau pada Pokemon Go bisa, seharusnya aplikasi sejenis juga bisa dikembangkan untuk menentukan lokasi ikan di laut," pikir Merta Yoga saat itu.

Niat baik Merta Yoga berbuah. Karya tulis yang ia buat menjadi salah satu pemenang dalam innovation festival tahun itu.  Sebagai ganjaran, ia bersama rekannya mendapat fasilitas dari Balitbang Badung untuk merealisasikan dan mengembangkan aplikasi yang diberi nama Fish Go. Riset yang lebih serius dan intens pun mulai dilakukan.

 
Balitbang Badung menggandeng Fish Go dalam pengembangan dan pemanfaatan aplikasi untuk membantu nelayan tradisional. Foto: Istimewa
 
Pada 2018, ia dan tim mencoba tantangan lebih tinggi. Sembari terus mengembangkan dan memperbaiki aplikasi, Yoga membulatkan hati mengikuti kompetisi The Next Dev, sebuah ajang pencarian early stage startup berdampak sosial yang diselenggarakan salah satu perusahaan pelat merah. Pada tahap awal, tim mereka menang tingkat provinsi dan menjadi finalis untuk lanjut berkompetisi di tingkat nasional. 

Dari ajang tingkat Bali itu, Merta Yoga mendapat apresiasi pendanaan. Dana itu ia manfaatkan untuk mematangkan aplikasi dan memperkuat riset. 

Saat pematangan data lapangan, berkali-kali Merta Yoga dan tim Fish Go turun melaut bersama nelayan tradisional. Ia yang berlatar belakang anak petani belum terlalu akrab dengan laut. Apalagi perjalanan ke tengah laut selalu dilakukan dengan Jukung. Jukung adalah perahu khas nelayan tradisional Bali yang berbahan kayu dengan cadik bambu ganda dan layar segitiga. 

"Awal-awal kami dari tim sempat tepar dan mabuk laut. Saat pengumpulan data beberapa kali juga fail, titiknya meleset beberapa kilo dari prediksi awal," ujar Merta Yoga bercerita. 

Tak hanya dari internal, tantangan pun juga datang dari luar. Penolakan nelayan tak bisa dihindarkan. Apalagi pada masa awal saat mereka masih berstatus mahasiswa. Nelayan tak mau gagal dan hanya jadi percobaan. Niat mereka pun juga sempat dicurigai. 

"Pernah saya sampai diremas kerah leher oleh kelompok tertentu saat di kampung nelayan karena dikira akan merusak bisnis mereka."
 
 
Bertemu nelayan, mendengar keluhan dan memberi pendampingan penggunaan Fish Go. Foto: istimewa
 
Berkali-kali gagal dan ditolak tak membuat Merta dan tim menyerah. Lamat-lamat akurasi penentuan lokasi ikan yang diperoleh membaik. Dia jadi lebih sering turun melaut bersama nelayan untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Apalagi, sejak Agustus 2018 ia telah menamatkan studi dan meraih gelar Sarjana Ilmu Kelautan dari Universitas Udayana. 

Dari hari ke hari, dengan menggabungkan pemetaan tangkapan ikan dari nelayan, hasil pencitraan jarak jauh,  data satelit, dan faktor fisiologis lainnya, aplikasi Fish Go yang mereka rancang makin baik. Akurasi penentuan lokasi potensial ikan makin dekat dan menyisakan error di kisaran 15 persen. Ini angka yang baik. Meski di lapangan terkadang ada pergeseran beberapa meter dari titik semula, tak ada lagi cerita nelayan pulang dengan tangan kosong tanpa tangkapan seperti yang dulu biasa terjadi. 

Kerja keras Merta Yoga dan tim berbuah hasil. Di ajang nasional pencarian early stage startup, NextDev, Fish Go diumumkan sebagai peraih the Best of the Best. 
Fish Go mendapat apresiasi karena dianggap menjadi startup yang bisa memberi dampak luas pada masyarakat.
 
 
Tim Fish Go bekerja penuh dedikasi mematangkan aplikasi. Foto: istimewa
 
Salah satu kelebihan aplikasi Fish Go adalah fiturnya yang sederhana sehingga memudahkan para nelayan tradsional dalam menggunakannya. Ada tiga menu utama di aplikasi; menentukan lokasi tangkapan potensial, rekomendasi waktu melaut, dan rute terbaik. 

Dengan aplikasi Fish Go, nelayan sudah bisa menentukan ancar-ancar lokasi yang banyak ikan sejak masih berada di darat. Jadi dengan aplikasi Fish Go, nelayan tak lagi harus terkatung-katung atau berputar-putar di laut mencari lokasi tangkapan yang bagus.

Berdasarkan data tim, setelah menggunakan aplikasi efektivitas dan efisiensi nelayan saat melaut menjadi lebih baik. Bila dilihat dari jumlah tangkapan nelayan, ada peningkatan hingga 86 persen. Sedangkan untuk bahan bakar bisa dihemat hingga 30 persen.

Hal lain yang tak kalah penting, Aplikasi Fish Go juga mampu memberikan jaminan keamanan, karena menyediakan informasi mengenai rute yang aman bagi nelayan. Jadi, sejak di darat, nelayan sudah mendapat panduan mengenai titik potensial tangkapan dan rute menuju lokasi.
 

"Ini waktunya nelayan ke laut untuk menangkap ikan, bukan untuk mencari ikan."
#NelayanBerdasi, Menebar Inspirasi untuk Negeri
 
Selama pengembangan Fish Go,  banyak hal yang telah dilalui Merta Yoga dan tim. Meski sempat dipandang sebelah mata oleh nelayan pada tahap pengembangan, kini makin banyak yang mulai memanfaatkan. Hasilnya, ekonomi nelayan tradisional Badung berangsur membaik.
 
Menurut Merta Yoga, penerimaan nelayan atas kehadiran aplikasi ini makin membaik sejak Fish Go mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Badung. Yap. Sejak 2019, Balitbang Kabupaten Badung menggandeng tim Fish Go untuk bekerjasama. Sejak itu, Merta Yoga dan tim mendapat fasilitas ruang kerja di Balitbang Badung, sehingga bisa makin fokus mengembangkan aplikasi.
 
"Sejak bersama Balitbang, kami jadi lebih mudah dalam pengolahan data, dan penerimaan kelompok nelayan pun menjadi lebih baik," ujar Merta Yoga.
 
Pertemuan dengan nelayan pun makin sering digelar. Koordinasi dengan camat, perangkat desa, dan para pengurus desa adat juga menjadi lebih mudah dilakukan.
 
Kolabarosi dan kerja sama antar pihak, menjadi amunisi tambahan bagi Merta. Dengan gigih, ia bersama tim Fish Go meyakinkan para anggota kelompok nelayan akan manfaat menggunakan aplikasi. Beberapa nelayan awalnya sempat tergagap, namun akhirnya bisa menggunakan. 
 
Dari satu menjadi dua, dari dua menjadi lima, dari lima jadi seratus. Kini, berdasarkan data operasional, setiap hari rata-rata aplikasi Fish Go digunakan oleh sekitar 150 nelayan aktif di lautan. Sedang jumlah user yang telah mendaftar aplikasi tercatat sudah mencapai 600 pengguna. 



 
 

Memberikan pendampingan dan penyuluhan penggunaan Fish Go. Foto: Istimewa 

 
Agar nelayan lebih familiar, pelatihan dan pendampingan secara berkala pun diberikan kepada nelayan. Berbagai inovasi pun terus dilakukan untuk menyempurnakan aplikasi yang sudah ada. Bahkan sekarang, aplikasi Fish Go sudah bisa membantu nelayan memetakan lokasi tangkapan berdasarkan jenis ikan yang ada.
 
Fitur yang ada di aplikasi Fish Go juga terus berkembang. Selain tiga fitur utama, Merta Yoga dan tim menambahkan fitur yang tak kalah berguna bagi nelayan seperti pasang surut, cuaca, laporan nelayan. 

Merta juga menambahkan fitur SOS yang akan berguna untuk menjamin keamanan nelayan bila tersesat atau mengalami hal buruk di laut. Untuk meningkatkan jumlah tangkapan nelayan, aplikasi Fish Go kini juga bisa mendeteksi keberadaan jenis ikan yaitu lemuru, tongkol, kenyar dan tuna. 

Hasil positif penggunaan aplikasi Fish Go sudah dirasakan langsung oleh mayoritas nelayan tradisional Badung. Aplikasi inipun makin banyak dipakai dan jadi rujukan sebelum melaut. Saat ini sudah ada 20 kelompok nelayan  yang mendapat pelatihan dan pendampingan dalam penggunaan aplikasi Fish Go. 

Tak hanya meningkatkan kesejahteraan nelayan, Merta Yoga berharap kehadiran aplikasi Fish Go bisa mengembalikan gairah pemuda Bali untuk tak malu lagi menjadi nelayan. Melahirkan lebih banyak lagi #NelayanBerdasi. Efisiensi dan akurasi yang ditawarkan fitur-fitur dalam aplikasi diharapkan bisa menjadi daya tarik. 

"Kami berharap aplikasi ini bisa membantu dan mengangkat kesejahteraan nelayan, tidak hanya di Bali tapi juga di seluruh negeri." ujar Merta Yoga.  


Semangat dan dedikasi Merta Yoga dan tim dalam mengembangkan aplikasi Fish Go rupanya berhasil menarik hati para Juri Anugerah Satu Indonesia Award 2020. Event tahunan yang diselenggarakan grup Astra International ini memang rutin digelar untuk mencari sosok pemuda inspiratif dari seluruh penjuru negeri. 

Dampak sosial yang diciptakan dari pengembangan aplikasi, dan dedikasi serta komitmen Merta Yoga dan tim Fish Go membuat ia didapuk menjadi penerima Satu Indonesia Award di bidang teknologi. Tak hanya itu, ia juga terpilih sebagai pemenang favorit yang ditentukan berdasarkan dukungan publik.

Dengan pencapaian yang sudah diraih, Astra berharap semangat dan dedikasi yang dihadirkan Yoga dan tim bisa menginspirasi pemuda lain di seluruh penjuru negeri. 

“Astra berharap SATU Indonesia Awards dapat melahirkan banyak intan-intan bangsa yang dapat memancarkan cahaya positif generasi muda untuk menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dan bergerak bersama menerangkan masa depan Indonesia,” ujar Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro dalam sambutannya saat penyerahan apresiasi 11th SATU Indonesia Awards 2020 yang diadakan secara virtual.

 
 
Semangat menginspirasi, berkarya untuk negeri


Bagi Merta Yoga, penghargaan Satu Indonesia Award dari Astra menjadi langkah baru. Bersama rekannya yang turut mengembangkan Fish Go, ia berharap ajang ini bisa membuka jalan bagi mereka untuk bergerak lebih jauh, memberikan dampak yang lebih luas. Menurut Merta Yoga, sudah saatnya sektor perikanan tanah air bangkit dan menjadi penyumbang devisa  besar untuk negeri. 

Dia pun bersyukur, sejak ditetapkan sebagai penerima Satu Indonesia Award, kini ia makin bisa meluaskan relasi dan jaringan. Dengan modal kekuatan jejaring inilah ia berhadap aplikasi Fish Go yang kini terus dikembangkan bisa memberi bermanfaat dan membantu seluruh nelayan tanah air. 

Ia percaya, bila sumber daya perikanan dikelola dengan baik, tidak hanya kesejahteraan nelayan, kedaulatan bangsa pun akan menjadi semakin kuat. 
 
"Karena laut adalah masa depan Indonesia."

-- I Gede Merta Yoga Pratama --
 
 
***
 
 
-
 
Sumber: 
  1. Wawancara I Gede Merta Yoga Pratama
  2. www.fishgo.id
  3. Instagram @fishgo.id
  4. Balitbang Kabupaten Badung : https://balitbang.badungkab.go.id/
  5. https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/