Buah Manis Pemberdayaan Kampung Berseri Astra di Bumi Malayu
Media Online https://insanwisata.com/buah-manis-pemberdayaan-kampung-berseri-astra-di-bumi-malayu/
Oleh: Hannif Andy Al Anshori , Kategori: Umum (https://insanwisata.com/)

Kampung Berseri Astra Sumber Agung, Lampung

Pandemi COVID-19 membawa banyak dampak yang luar biasa bagi kehidupan. Mewabahnya COVID-19 adalah sesuatu yang tak disangka-sangka. Hampir seluruh negara melarang sarana transportasi beroperasi. Masyarakat pun dilarang bepergian dan diimbau untuk terus menjaga jarak. Ekonomi pun akhirnya lumpuh total dalam beberapa bulan. Namun di balik wabah ini, pertemuan saya dan Ikke, sosok perempuan inspiratif dari Desa Sumber Agung dimulai.

Meski belum pernah berjumpa secara langsung, saya mengenal Ikke sebagai sosok yang disiplin. Jaminan itu saya berikan pada Ikke lantaran selama dua bulan (Juli–Agustus) kami tergabung di dalam kelas pelatihan daring pariwisata.

Ikke Ria Maya Sari (36 tahun), pengurus sekaligus penggerak Kampung Berseri Astra Sumber Agung di Bandar Lampung berbagi bercerita tentang potensi di kampung halamannya. Menurutnya, sumber daya kampung halamannya saat ini sangat sayang jika tidak dioptimalkan pengelolaannya. Hal inilah yang membuat Ikke tak mau berdiam diri. Terlebih di masa pandemi yang menuntut semua orang, termasuk juga organisasinya untuk tetap produktif. Tak ada waktu luang yang benar-benar membuatnya bisa berpangku tangan. Bahkan saat kebanyakan orang-orang memilih beristirahat di akhir pekan, ia masih ada tenaga untuk berlatih meningkatkan keterampilan lewat forum daring yang diikutinya.

Andai wabah ini berakhir di pertengahan bulan kemarin, tentunya saya dapat berjumpa dan diajaknya berkeliling menilik ragam potensi Kampung Berseri Astra Sumber Agung. Namun pandemi tak kunjung menunjukkan kondisi yang lebih baik. Mujurnya kami masih bisa terkoneksi lewat jaringan internet. Selain berbagi kabar, tentu tujuan utama saya menghubunginya untuk menggali informasi lebih dalam tentang keterlibatan Ikke dalam pemberdayaan masyarakat di Sumber Agung.

Awal Mula

Perempuan lulusan SMK ini memutuskan untuk tinggal di tanah kelahirannya; Sumber Agung pada 2018 setelah sepuluh tahun ikut merantau bersama suami di Kalimantan. Meski cukup lama di Kalimantan, Ikke dapat dengan mudah beradaptasi kembali dengan lingkungan barunya. Bahkan belum lama ini, untuk mewujudkan mimpi besar di kampung halamannya, ia mendirikan yayasan bersama kawan-kawannya, yang kemudian diberi nama Yayasan Sumber Agung Berseri.

Di belakang Ikke, ada Rusdi (ketua KBA Sumber Agung) yang berperan penting dalam merintis program ini. Namun karena alasan regenerasi agar misi besar ini berkelanjutan, mau tak mau Ikke menjadi sosok yang sangat diandalkan oleh yayasannya.

 “Saya sangat mencintai Desa Sumber Agung tempat kelahiran saya. Jadi saya ingin desa ini lebih maju lagi,” ungkapnya melalui telepon.

Bukan hanya perkara amanah. Saat ditanya, Ikke mengaku senang terlibat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Ikke, sambungnya, sangat bersyukur saat melihat orang lain bahagia. Terlebih lagi ketika Ikke dapat meringankan kesulitan yang mereka alami.

Impian Ikke bersama masyarakat pun tak muluk, tetapi pelan-pelan mulai terwujud. Dukungan itu datang di tahun 2017, ketika Sumber Agung terpilih sebagai penerima bantuan dari grup usaha terbesar di tanah air, PT Astra Internasional Tbk. Program bantuannya pun tak main-main. Fasilitas beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, pelestarian lingkungan, hingga pendampingan UMKM sangat dirasakan langsung oleh masyarakat Sumber Agung.

Pembangunan Berbasis Partisipasi Masyarakat

Lewat telepon, Ikke melanjutkan cerita. Setidaknya terdapat 30 anak yang duduk di bangku SD hingga SMA mendapatkan bantuan pendidikan langsung dari beasiswa lestari Astra. Selain beasiswa, bantuan berupa buku pelajaran dan alat-alat belajar diterima langsung oleh sekolah.

Potensi kampung halaman Ikke juga masuk ke dalam kawasan Taman Hutan Rakyat Wan Abdurrahman. Kawasan konservasi yang langsung dikelola oleh pemerintah provinsi ini memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat Desa Sumber Agung. Tak lain adalah sumber daya alam yang melimpah dengan koleksi tumbuhan yang beraneka ragam. Kebun kopi, penangkaran rusa, dan taman kupu-kupu pun menjadi pelengkap dari potensi Desa Sumber Agung.

Vegetasi hutan yang sangat potensial di kawasan ini adalah buah durian. Memiliki rasa yang legit, buah durian dari Sumber Agung nyatanya kerap diburu banyak wisatawan domestik. Tak heran, beberapa media menyebut desa ini sebagai destinasi Kampung Durian di Lampung.  

“Mestinya bulan Maret kemarin kami menyelenggarakan Festival Durian Runtuh. Kami sudah persiapan di bulan Februari. Tapi karena Corona, tidak jadi diselenggarakan,” ujar Ikke.

Ikke pun memiliki impian untuk menjadikan kampung halamannya sebagai desa wisata. Meski secara kelembagaan telah dibentuk, masih ada beberapa pertimbangan yang membuat Ikke dan masyarakat ingin menunda peresmian desa wisata.

Meski potensi yang dimiliki Sumber Agung memberi banyak keuntungan, masyarakat masih merasa kesulitan dalam mengoptimalkannya. Alat-alat produksi yang masih sederhana, pemasaran yang masih serba konvensional, pengemasan produk yang masih ala kadarnya, hingga kualitas produk yang belum maksimal masih dirasakan para pelaku usaha di Sumber Agung.

Mengetahui potensi ini dapat berdampak lebih luas jika dioptimalkan, Astra menantang masyarakat untuk menjalankan sebuah program. Lewat kedermawanan perusahaan ini, Sumber Agung menerima bantuan untuk membantu percepatan usaha bagi 30 UMKM. Bahkan dalam dua tahun ini sudah menunjukkan hasil yang positif. Misalnya saja di kelompok petani kopi. Dalam sekali panen, masyarakat Sumber Agung sanggup mengumpulkan 300 kg kopi jenis robusta. Setelah diolah dengan alat produksi bantuan Astra, masyarakat dapat menjual kopi bubuk seharga Rp 20.000/kg.

Bukan saja menyasar petani dan kelompok usaha kopi saja. Menurut penjelasan Ikke, Astra juga berkontribusi dalam memberi bantuan untuk kelompok usaha gula semut, pembuat kripik pisang, pembuat jamu tanaman obat keluarga, hingga mengedukasi masyarakat dalam mengolah sampah.

Bantuan Astra pun tak hanya berupa alat-alat produksi. Melainkan juga peningkatan keterampilan sumber daya manusia seperti pelatihan digitalisasi, juga bantuan dalam pengurusan perizinan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). Secara tidak langsung, topik pelatihan yang diberikan Astra memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Desa Sumber Agung.

Hal yang paling mengejutkan lagi, sebelum Astra memutuskan untuk ikut menyentuh layanan kesehatan di Sumber Agung, masih banyak anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan atau dikenal dengan istilah stunting. Angka penderita stunting ini kemudian turun dalam tiga bulan. Dari penderita sebanyak tujuh anak, turun menjadi lima anak. Ikke mengamini, tanpa bantuan Astra dalam melakukan penyuluhan dan pemberian makanan bergizi, kondisi kekurangan gizi kronis di Sumber Agung ini akan sulit teratasi.

Buah Manis dari Pemberdayaan

Meski awalnya Ikke mengaku kesulitan dalam menggandeng masyarakat untuk dapat terlipat dalam program Kampung Berseri Astra, nyatanya perjalanan dan ketekunan Ikke bersama masyarakat Sumber Agung dalam memberdayakan masyarakat selama dua tahun telah membuahkan hasil.

Pada Oktober 2019, Kampung Berseri Astra Sumber Agung mendapatkan penghargaan sebagai 10 besar Kampung Berseri Astra terbaik di tingkat nasional. Dalam acara yang diselenggarakan di KBA Tanjung Binga Belitung ini, Ikke mendapatkan kesempatan langsung untuk naik ke atas panggung dan menerima penghargaan. Kenangan itu pun masih membekas hangat di ingatan Ikke. Prestasi yang tak disangka-sangka dalam cita-cita mulia mengembangkan desa.

Saat saya melakukan konfirmasi ulang kepada Yulika Rinjani selaku PIC Program Kampung Berseri Astra melalui telepon, Yulika menyebut bahwa Sumber Agung dinyatakan layak mendapatkan penghargaan 10 besar KBA terbaik lantaran program pemberdayaan yang berjalan telah sesuai dengan harapan. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar menempatkan Desa Sumber Agung menjadi Kampung Berseri Astra pada level prioritas dimana skor keberhasilannya mencapai bintang empat.

Yulika juga menyampaikan, bahwa skema penilaian ini menggunakan banyak indikator dengan melibatkan dewan juri dari luar perusahaan. Salah satu yang akan dinilai adalah keberlanjutan dan inovasi program. Menurut Yulika, KBA Sumber Agung menjadi salah satu KBA yang tercepat dalam pencapaian bintang empat. Ia pun optimis, di tahun 2021, KBA Sumber Agung akan mendapatkan skor sempurna hingga menjadi desa yang mandiri dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

Makin Produktif dalam Berinovasi

Keberhasilan Ikke bersama pengurus KBA Sumber Agung pun tak membuatnya berhenti dalam berinovasi. Pergerakan wisatawan selama dua tahun terakhir turut mendorong semangat berwirausaha. Berkat lanskap alam yang memesona di Tahura Wan Abdurrahman, banyak kelompok masyarakat yang menyulap spot-spot cantik di Desa Sumber Agung menjadi tempat wisata. Misalnya saja objek wisata Batu Lapis, yang masih menjadi primadona wisatawan saat berkunjung ke Sumber Agung.

Kesiapan masyarakat pun menurut Ikke perlahan mulai terlihat. Lapak penjual makanan minuman mulai tersedia, kamar-kamar kosong disulap menjadi homestay, hingga keaktifan masyarakat dalam mengikuti forum-forum musyawarah desa. Untuk mendukung sektor pariwisata, Astra mengirimkan bantuan pengadaan saung di jalur trekking kawasan agrowisata Sumber Agung.

Saat ditanya rencananya ke depan, Ikke bersama Yayasan Sumber Agung Berseri berkomitmen untuk terus menjalankan program-program yang produktif dengan prinsip gotong royong atau kebersamaan.

“Ibaratnya gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati akan dikenang jasa-jasanya yang baik,” ungkap Ikke.

Kampung Berseri Astra Tanjung Binga, Belitung

Di Pulau Sumatra, bukan hanya KBA Sumber Agung Lampung yang menjadi tujuan kedermawanan Astra. Dari sepuluh penerima bantuan program Kampung Berseri Astra, Tanjung Binga Belitung adalah salah satunya.

Pertemuan saya dengan Tarappe (kepala desa sekaligus penggerak Kampung Berseri Astra Tanjung Binga) terjadi pada Oktober 2019 silam. Di rumahnya, saya mendapatkan banyak cerita tentang curahan hatinya.

Tak kurang dari 50 ton ikan segar dan ikan asin mampu dihasilkan Desa Tanjung Binga setiap harinya. Tak heran, desa ini dikenal sebagai sentra penghasil ikan asin terbesar di Indonesia. Namun sepanjang laut tidak bersahabat, para nelayan lebih banyak menghabiskan waktunya di daratan. Merawat kapal, membuat jaring, dan memperbaiki parak-parak adalah pekerjaan yang akan ditekuni masyarakat selama tiga bulan istirahat melaut (Desember hingga Februari).

Hasil laut telah menjadi penghidupan masyarakat Tanjung Binga sejak lama. Jika ditotal, hampir 90 persen dari total 1.700 jiwa Desa Tanjung Binga berprofesi sebagai nelayan. Bahkan hampir separuhnya adalah suku Bugis, kelompok pelaut ulung yang sudah terkenal sejak jaman nenek moyang. Cuaca, ombak, dan angin adalah aral yang jamak dijumpai di lautan. Hidup mereka pun banyak dihabiskan untuk meniti buih di samudera nan luas.

Menariknya lagi, kelompok nelayan Tanjung Binga memainkan peranan penting sebagai perantara distribusi ikan asin di Sumatra. Belum lagi perdagangan ikan yang benar-benar menggoda belakangan ini. Perniagaan yang mulanya hanya di lingkup domestik saja, kini bisa sampai ekspor ke mancanegara.

Sentra Ikan Asin Terbesar Kebanggaan Indonesia

Sejauh mata melepas pandang, setiap dermaga di bibir pantai disesaki perahu dan parak-parak yang menjorok hingga dua puluh meter ke lautan. Saya sengaja datang ke desa ini di waktu subuh, sebelum terbit matahari.

Ada pemandangan tak biasa yang saya temukan. Setidaknya lebih dari tiga kapal merapat ke sebuah dermaga. Satu persatu orang yang saya temui menunjukkan hasil tangkapannya. Salah satunya adalah Sutarto yang mengijinkan saya mengabadikan ikan tangkapannya seberat 15 kg.

Biasanya, nelayan di Tanjung Binga akan berlayar pada siang hari dan pulang keesokan harinya mendekati waktu fajar. Namun, semua itu tergantung pada ukuran kapal yang digunakan. Disampaikan Tarappe, bahkan ada banyak nelayan yang berlayar sampai dua pekan. Makin besar ukuran kapalnya, makin jauh kapal itu berlayar. Masyarakat Tanjung Binga biasa menyebut kapal besar ini dengan sebutan bagan.

Proses pengolahan ikan sampai siap jual pun tak membutuhkan waktu lama. Mulanya, ikan segar akan dicampur garam selama satu malam. Jika cuaca cerah, ikan akan dijemur di sepanjang parak-parak agar terkena panas matahari langsung. Normalnya, butuh waktu satu hari untuk mendapatkan ikan asin yang siap masuk kemasan. Jika di musim penghujan, masyarakat dapat mengakalinya dengan menggunakan mesin pengering hibah dari pemerintah Jepang. Meski jumlahnya masih terbatas, bantuan alat ini nyatanya sangat membantu membuat stabil bisnis para kelompok nelayan.

Setelah ikan asin menjadi kering, produk siap dikemas di gudang penampungan. Dalam satu kardus yang berisi 25 kg ikan asin biasa dijual pada rentang harga Rp 10.000,00 hingga Rp 50.000,00.

Bukan hanya produk ikan asin saja. Tanjung Binga juga dikenal sebagai produsen ikan kukus terbesar di Belitung. Produk ikan kukus asal Tanjung Binga paling laku di Pontianak. Namun prosesnya tentu memakan waktu lebih lama dibanding ikan asin biasanya.

Tantangan Pembangunan Manusia

Di balik potensinya yang luar biasa, Tarappe merasa khawatir terhadap pembangunan sumber daya manusia di desanya, terutama di bidang pendidikan. Sebagian dari masyarakat Tanjung Binga melihat pendidikan tinggi sangatlah penting. Namun, lebih banyak lagi yang melihat bahwa pendidikan hanya mengantar anak-anak mereka untuk mendapatkan selembar ijazah. Setelahnya, mau tak mau mereka akan kembali ke laut untuk meneruskan profesi orang tuanya sebagai nelayan.

Tarappe terus berikhtiar mencari peluang jalan keluar. Dari hasil konsultasi sana-sini, ia mendapat kabar bahwa PT Astra Internasional Tbk sedang membuka program kontribusi sosial berkelanjutan. Dalam waktu yang tersisa dua hari, Tarappe mematangkan semuanya.

“Saya langsung yang presentasi, Mas. Saat itu saya cuma punya waktu dua hari untuk menyiapkan dokumennya. Mungkin saya menyampaikan secara detail, ya. Bukan hanya kondisi masyarakatnya, tetapi letak geografis dan potensi strategisnya. Akhirnya desa saya yang terpilih,” kenang Tarappe tiga tahun silam saat berhasil menyisihkan 308 desa calon penerima bantuan Astra.

Melalui program Kampung Berseri Astra, Desa Tanjung Binga mendapatkan bantuan pendampingan. Di bidang pendidikan, Astra memberikan bantuan beasiswa bagi anak-anak usia sekolah. Selain itu, dibangun pula pojok baca yang ditempatkan di halaman Taman Kanak-kanak.

Tarappe masih belum puas. Lewat inisiatif dan jaringan pertemanannya, Ia pun mengajukan permohonan pendirian pembangunan sekolah formal kejuruan. Permintaan Tarappe dengan membawa profil pengajar pun akhirnya direspon baik oleh Pemerintah Daerah Belitung. Perjuangan Tarappe berbuah manis dengan diresmikannya SMK Negeri 1 Sijuk kejuruan bidang pariwisata di Tanjung Binga pada tahun 2019.

Dengan diresmikannya sekolah formal kejuruan ini, Tarappe menganggap tidak ada lagi alasan bagi masyarakatnya untuk tidak menuntaskan kewajiban belajar sembilan tahun. Secara spesifik ia pun berharap, sekolah kejuruan ini dapat meluluskan anak-anak yang siap dan cakap untuk bekerja di sektor pariwisata, mengingat Tanjung Binga masuk ke dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Klayang.

Kemitraan dan Partisipasi Lokal sebagai Jalan Keluar

Masih segar dalam ingatan saya, pada Oktober 2019 Tarappe menunjukkan sebuah gerai yang belum rampung dibangun. Memang sejak 2017, cukup banyak bantuan Astra yang disalurkan langsung ke masyarakat Tanjung Binga. Salah satu program yang masih hangat adalah pengadaan gerai KBA Tanjung Binga dan penyelenggaraan Festival Kampung Berseri Astra yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional.

Saya pun melakukan konfirmasi ulang melalui Yulika Rinjani selaku PIC Kampung Berseri Astra. Kabarnya, gerai tersebut telah selesai dibangun dan masih difungsikan oleh kelompok ibu-ibu yang telah mengikuti pelatihan wirausaha. Berbagai macam produk yang dijual tentunya berasal dari olahan ikan dari nelayan Tanjung Binga.

Yulika menambahkan, selain mendukung percepatan bisnis produk olahan ikan melalui pembangunan gerai, Astra turut memberikan pendampingan mengenai tata cara pengolahan ikan yang higienis. “Harapannya produk ikan di sana lebih higienis dan layak dikonsumsi,” terangnya melalui telepon.

Hal senada pun pernah disampaikan Tarappe saat saya temui.

“Astra membantu kami dalam memberikan keterampilan kepada kelompok nelayan, khususnya kaum perempuan. Salah satunya adalah pengolahan produk laut menjadi keripik. Jadi ketika nanti ada wisatawan dari Pulau Lengkuas, bisa langsung mampir ke gerai oleh-oleh Tanjung Binga,” ucapnya.

Di bidang kesehatan, selain menyelenggarakan Festival Kampung Berseri Astra (KBA) Kesehatan, Astra memberikan dukungan dalam bentuk sosialisasi hingga pendampingan PHBS (Pola Hidup Bersih Sehat), pelayanan pemeriksaan gratis untuk balita hingga lansia, maupun pelatihan bagi kader-kader kesehatan di Tanjung Binga.

Di bidang lingkungan, Astra bersama Pemerintah Desa Tanjung Binga memiliki program yang apik untuk dijalankan. Selain memberikan pendampingan dan penyuluhan lingkungan, Tarappe melalui inisiatifnya membuat program pengolahan sampah berbasis komunitas. Hampir putus asa mendapatkan peminat, komunitas Perincong Kelekak akhirnya terbentuk setelah tujuh bulan penantian.

Program pun berjalan. Saban sorenya, komunitas yang beranggotakan anak-anak muda Tanjung Binga ini akan berkeliling untuk mengangkut sampah rumah tangga. Bahkan menariknya, komunitas ini mencoba untuk mengolah sampah menjadi kerajinan tangan tas dan dompet. Berkat partisipasi para anak muda, seseorang ikut terketuk hatinya, hingga memilih untuk menjadi donatur pengadaan sepeda motor pengangkut sampah.

Saya pun teringat dengan ucapan Tarappe sebelum kami berpisah.

“Saya bisa dikatakan berhasil menjadi pemimpin jika dapat melahirkan kader-kader terbaik untuk menjadi pemimpin Desa Tanjung Binga selanjutnya.”

Kontribusi Besar Astra Terhadap Peningkatan Kualitas SDM dan Produk Tanjung Binga

Jika ditilik secara potensi, KBA Sumber Agung-Lampung dan KBA Tanjung Binga-Belitung sama-sama diuntungkan karena masuk ke dalam kawasan wisata yang potensial. Namun keduanya tak terlalu buru-buru dalam memanfaatkan posisi ini. COVID-19 menjadi momentum yang pas untuk memberikan cukup waktu agar keduanya dapat mempersiapkan secara matang. Kelak atas dukungan Astra, masyarakat Desa Sumber Agung dan Desa Tanjung Binga dapat meningkat kualitas hidupnya.