Gurihnya Keju yang Membawa Berkah Baru
Media Online https://www.kangmasroer.com/2020/12/gurihnya-keju-yang-membawa-berkah-baru.html
Oleh: Masruro , Kategori: Umum (http://www.kangmasroer.com/)

Gurihnya Keju yang Membawa Berkah Baru


Kran mobil tangki itu dibuka. Seketika, ribuan liter susu sapi pun mengucur, mengalir menuju ke gorong-gorong yang ada di bawahnya. Semua tumpah ruah dan nyaris tak ada yang tersisa.

Kabar tentang peternak sapi perah di Inggris yang membuang susu sapi pada pertengahan April 2020 yang lalu itu segera menghiasi media. Hingga kini, video yang diunggah oleh salah satu saluran berita terbesar di Inggris itu sudah ditonton lebih dari 65 ribu kali. Portal berita online, baik dari dalam negeri maupun mancanegara pun tak luput untuk mewartakan.

"Kata Nenek saya, ini lebih buruk daripada masa perang," ungkap Llyr Griffiths—seorang peternak sapi perah di Ceredigion—sesaat setelah membuang 11.500 liter susu sapi sebagaimana dilansir dailymail.co.uk.

Llyr Griffiths tentu bukan satu-satunya peternak sapi perah yang terdampak badai pandemi virus Covid-19. Tercatat, ratusan peternak sapi perah Inggris lainnya juga mengalami hal yang serupa. Lantaran tak laku di pasaran, mereka terpaksa membuang jutaan liter susu sapi setiap harinya.

Kabar buruk tentang nasib peternak sapi perah di Inggris itu mengingatkan saya pada sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Boyolali. Ya, ibarat dua sisi mata uang, Boyolali dan susu sapi memang tak terpisahkan. Bagaimana tidak, sebagian besar warga kabupaten yang terletak di lereng timur Gunung Merapi dan Merbabu ini menyandarkan hidupnya pada produksi susu sapi.

Tercatat, dengan jumlah sapi perah yang mencapai lebih dari 90 ribu ekor, peternak sapi perah Boyolali mampu menghasilkan 48 juta liter susu sapi per tahunnya. Artinya, setiap hari mereka mampu menghasilkan lebih dari 130 ribu liter susu sapi segar. Angka ini setara dengan sekitar 65 persen jumlah produksi susu sapi di seluruh Jawa Tengah. Potensi yang luar biasa tentunya.

Sayangnya, melimpahnya susu sapi tersebut seringkali justru menjadi bumerang tersendiri bagi para peternak. Pasalnya, selain harga jual susu menjadi fluktuatif, naik-turun bak roller coaster, KUD yang menampung susu dari para peternak ini juga kerap merasa kesulitan untuk menjualnya kembali ke industri pengolahan susu. Tak jarang saat over produksi terjadi, mereka pun harus membuang ratusan liter susu per harinya. Kondisi semacam ini tentu menjadi mimpi buruk bagi para peternak sapi perah di kota berjuluk New Zealand van Java ini.

Patut disyukuri, Boyolali tak hanya sekadar kaya akan potensi susu sapi saja. Melainkan, juga dengan segudang sosok muda yang kreatif dan inovatif. Salah satunya adalah Noviyanto. Pria yang akrab disapa Novi ini berhasil mendirikan sebuah pabrik yang mampu menyulap susu menjadi keju. Alhasil, sudah lebih dari satu dasawarsa terakhir ini para peternak sapi perah Boyolali pun bisa bernafas lega. Mereka tak perlu khawatir lagi susu segar hasil ternak sapinya tidak terserap di pasaran.

(Noviyanto, sang penyulap susu sapi menjadi keju)

Ide Novi untuk mendirikan pabrik keju itu sebenarnya juga tidaklah muncul secara tiba-tiba. Akan tetapi, melalui proses yang cukup panjang. Bermula ketika pemuda lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta itu diminta untuk menjadi penerjemah bagi Benjamin Siegl, seorang tenaga ahli dari Jerman yang bertugas dalam proyek Deutscher Entwicklungs Dient (DED). DED sendiri merupakan sebuah Lembaga Donor Pemerintah Jerman yang memberikan pelatihan tentang bagaimana cara pemanfaatan susu di wilayah Boyolali.

Berbekal pengalaman mendampingi Benjamin itulah, Novi memiliki pengetahuan tentang cara mengolah susu sapi menjadi produk yang bernilai jual lebih. Baginya, ketika ada masyarakat Boyolali yang mampu mengolah susu menjadi produk yang berbeda, maka nasib peternak sapi perah Boyolali pun akan menjadi semakin sejahtera.

(Novi bersama tenaga ahli dan para pekerja/Dok. Keju Indrakila)

Syahdan, setelah menimba ilmu tentang seluk-beluk olahan susu sapi kepada Sang Ahli selama tiga tahun, dengan mantap Novi kemudian memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Boyolali. Ia mengusulkan, agar susu yang berkualitas hasil dari para peternak sapi perah Boyolali bisa diolah menjadi keju. Sementara susu yang kurang berkualitas bisa diolah menjadi yoghurt, permen, sabun atau produk olahan susu lainnya. Sayang, karena terkendala dalam hal pemasaran, ide Novi saat itu tidak begitu mendapat dukungan dari pemerintah.

Namun, Novi tidak menyerah. Pada tahun 2009, bersama dengan teman-temannya yang tergabung dalam Forum for Economic Development and Employment Promotion (Fedep) Boyolali, mereka pun sepakat mendirikan koperasi sekaligus merintis pabrik keju dengan nama “ Indrakila”.

Nama Indrakila sendiri konon ia ambil dari nama gunung dalam dunia pewayangan. Ya, Indrakila merupakan tempat Arjuna berdoa sebelum berangkat ke medan perang Bharatayudha melawan Kurawa. Melalui nama tersebut, Novi menganggap bahwa bisnis pabrik keju yang ia rintis merupakan perwujudan dari doa-doa baik yang kelak tak hanya bermanfaat bagi dirinya, melainkan juga membawa berkah bagi sesama. Terkhusus, bagi para peternak sapi perah yang ada di Boyolali.

Produk keju Indrakila sendiri mulai dipasarkan pada tahun 2010. Saat itu, jumlah produksinya masih terbilang sangatlah kecil. Bayangkan saja, ia hanya mampu memproduksi sekitar 10 kilogram keju dari 200 liter susu sapi per harinya. Itu pun hanya ia lakukan tiga kali dalam seminggu. Sudah pasti, pemasaran adalah kendala utamanya. Bukan apa-apa, Novi merupakan sarjana arsitektur yang lebih menguasai bagaimana cara mendesain bangunan daripada ilmu tentang marketing.

Meski perkembangan usaha di tahun-tahun pertamanya terbilang lambat, Novi tetap bersyukur. Baginya, setidaknya bisnisnya tetap bisa berjalan. Dalam rentang waktu tahun 2010 hingga 2011, ia pun terus belajar dan berusaha keras untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya. Hingga setahun berselang, semangat pantang menyerah Novi pun mulai membuahkan hasil.

Pada tahun 2012, produk keju Indrakila sudah mulai dipesan oleh beberapa ekspatriat pemilik usaha restoran dan kafe yang ada di Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Dari merekalah permintaan keju kemudian datang secara kontinyu. Saat itu, pabrik keju Indrakila mampu memproduksi rata-rata sebanyak 100 kilogram keju per hari yang dihasilkan dari 1.000 liter susu sapi segar dari para peternak sapi Boyolali.

(Salah satu varian keju Indrakila/Dok. Keju Indrakila)

Semangat memajukan masyarakat sekitarnya itulah yang kemudian berhasil mengantarkannya menerima apresiasi SATU Indonesia Awards Tahun 2012 untuk bidang kewirausahaan. Bagai sebuah harmoni, langkah nyata Novi memang seirama dan selaras dengan Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia. Ia telah berhasil menebar semangat dan manfaat kepada 100 peternak sapi perah, 20 anggota koperasi, delapan karyawan, serta ribuan mitra koperasi kala itu.

Semakin hari, produksi keju Indrakila pun semakin berkembang. Per harinya, pabrik yang berlokasi di Dusun 3, Kiringan, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali itu kini mampu menyulap 1.000 liter hingga 3.000 liter susu sapi segar dari para peternak sapi di Boyolali menjadi 100 kilogram hingga 300 kilogram keju dalam berbagai varian.

Hingga saat ini, keju Indrakila mampu menghasilkan keju dalam beberapa varian, mulai dari mozzarella kuning, mozzarella fresh, feta chili, feta blackpaper, feta olive oil, mountain chili, mountain original dan boyobert. Harga jualnya juga bervariasi mulai dari Rp125 ribu hingga Rp204 ribu per kilonya.

Tak hanya keju, di pusat oleh-oleh keju Indrakila yang beralamat di Jl. Profesor Soeharso No. 41 Boyolali itu juga tersedia aneka produk olahan susu lainnya seperti yoghurt, sabun susu, karamel, permen susu, dodol susu dan lain sebagainya. Jika dirata-rata, omzet pabrik keju Indrakila ini mencapai hingga Rp100 juta hingga Rp300 juta per bulannya.

(Pusat oleh-oleh keju Indrakila di Jl. Prof. Soeharso/ Dok. Pribadi)

Semakin besar omzet yang didapat pabrik keju Indrakila, semakin besar pula keuntungan yang diterima para peternak sapi perah. Pasalnya, sejak awal Novi memang bertekad untuk memberdayakan peternak sapi lokal. Ia membeli susu dari peternak dengan harga susu yang jauh lebih tinggi dari harga pasar. Harapannya, keluarga para peternak sapi perah menjadi semakin sejahtera.

Lebih dari itu, para peternak juga akan mendorong anak-anaknya kelak untuk mau meneruskan profesinya sebagai peternak sapi, karena keuntungan dari profesi ini sesungguhnya sangat menjanjikan. Dan terbukti, kini mulai banyak pemuda Boyolali yang lebih memilih jurusan peternakan ketika mereka melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Terlebih, setelah mereka sadar bahwa di balik gurihnya keju Indrakila ternyata ada berkah baru. Ya, mereka tetap mampu bertahan di tengah badai pandemi yang tak pasti ini.
 
#SemangatMajukanIndonesia #KitaSATUIndonesia