Cika, Sarjana Keperawatan yang Merawat Pedagang Kecil Penuh Cinta dan Keikhlasan
Media Online https://kontenbisnis.com/cika-sarjana-keperawatan-yang-merawat-pedagang-kecil-penuh-cinta-dan-keikhlasan/
Oleh: Yoyo Wijianto , Kategori: Umum (https://kontenbisnis.com/)



Cika, Sarjana Keperawatan yang Merawat Pedagang Kecil Penuh Cinta dan Keikhlasan


Mendadak lampu-lampu yang menyala di pusat keramaian, dipadamkan pada awal 2020. Bersama itu pula, plakat amar pembatasan sosial berskala besar, terpampang di mana-mana. Pandemi telah mengguratkan gambar wajah kelam bagi penghidupan putra-putri pertiwi. Satu dari sekian gambar, adalah nasib pedagang kecil. Saat keramaian adalah kanvas penghidupan, maka sepi adalah usapan kuas-kuas ketimpangan. Mereka lunglai dihantam himpitan ekonomi, terseok-seok dalam sketsa penat yang tak berkesudahan. Miris.

***

Langkah kaki pedagang kecil yang dahulu tampak bersemangat, mendadak gontai akibat pandemi Covid 19. Menjajakan dagangan di tepian jalan, sekolahan, atau taman-taman, tak lagi semudah dulu. Ada sederet protokol ketat yang tak bisa dilanggar. Menerjang bersiko nyawa, diam berisiko lapar, entah. Sepi dan jarang pembeli, itulah kata yang kerap diucapkan untuk menggambarkan lesunya ekonomi.

Satu sisi, kaum urban yang semula mengais rejeki di kota-kota, terpaksa pulang lebih dini. Saat PHK menerpa, tak ada pilihan lain, selain menghuni kembali kampung-kampung sendiri. Lagi pula, bergantung pada tanah impian tanpa secerca harapan, adalah sebuah keniscayaan. Mereka menunggu sesuatu yang tak pasti, gusar mencari-cari solusi.

Semua serba penat. Pengangguran, kesusahan, dan ketimpangan, menjadi rentetan kisah sedih, suram dan muram bangsa ini. Tak ada upaya lain, selain meraih kembali puing-puing mimpi yang terserak puzzle. Mengait satu per satu, menata kembali gambar wajah yang semula pencar agar tak lagi samar.

Berkenalan dengan Resika Caesaria

Perempuan muda bernama Resika Caesaria (30), tersenyum ramah saat ditemui di kediamannya, di Desa Lesmana, Ajibarang, Banyumas. Ketika membuka obrolan bertema wirausaha, ekspresi wajahnya berbinar, antusias seperti pendar cahaya lampu yang mendapatkan tempat untuk berbagi cahaya bersama.

“Ya, saya prihatin dengan teman-teman (pedagang) yang terdampak pandemi. Saya akan berbagi pengalaman sebisanya.” Ungkap Ibu dari anak bernama Zakiyyan Fathurasya dan Arka Azzam Maulana. Ia tak keberatan, jika di momen seperti sekarang, meski berbagi kisah jatuh bangun membesarkan bisnisnya. Harapannya, ada sesuatu yang bisa digali, entah untuk memulai usaha, atau bertahan dari yang sudah ada.

Saat ini, di wilayah Kabupaten Banyumas, Cika, begitu disapa, dikenal sebagai pengusaha cimol dengan brand “Ratu Cimol Banyumas.” Ia tak hanya sukses secara materi, namun inspiratif. Cika tidak hanya menginspirasi teman-teman pedagang kecil lainnya, tetapi juga memberi semangat yang tak pernah padam untuk bangkit dari kesulitan. Filsafatnya adalah pantang mengeluh. Berkat tangan dinginnya, ratusan mitra pedagang kecil, kini bernaung dalam binaannya. Mereka tersebar di wilayah Banyumas dan beberapa kabupaten sekitarnya.


Cika yang Begitu Sabar Mendampingi Mitra Binaannya
(Sumber Foto : Dokumentasi astra.co.id)

Dibilang inspiratif, karena bisnis yang dijalankan Cika berbasis socialpreneur. Mitra binaannya berasal dari golongan ekonomi lemah. Cika memilih itu, demi alasan sosial. Ia berupaya menerobos konsep franchise yang umumnya sukar dijangkau oleh kaum menengah ke bawah, menjadi mudah. Lagi pula, bagaimana mungkin membeli franchise, untuk makan sehari-hari saja, acap kali kelimpungan, susah.

“Tidak ada biaya apa-apa, malah saya beri gerobak gratis, produk dari saya, tapi sebelumnya, saya melakukan seleksi.” Cika menegaskan, untuk menjadi mitranya, tak perlu mengeluarkan biaya seperti franchise pada umumnya. Gerobak dan alat-alatnya gratis. Hanya saja, Ia kerap melakukan seleksi demi memastikan calon mitranya benar-benar layak dibantu.

Semudah itukah Cika membangun wirausaha berbasis socialpreneur yang dijalaninya 15 tahun belakangan? Apa yang bisa digali dari pengalaman Cika demi mengguggah semangat para pedagang agar mengikuti jejak suksesnya? Termasuk, bagaimana Cika mengurai benang kusut masalah pedagang kecil yang kerap menepuk jidat lantaran usahanya lesu akibat pandemi?

Keterdesakan Adalah Kekuatan

Tak banyak orang sadar, kekuatan dahsyat akan datang dari kondisi yang tidak sepenuhnya nyaman, termasuk keterdesakan. Seperti ular terjepit pintu, menunggu tuan membuka dulu, hanya akan berujung pilu. Ketika duka menerpa, api semangat akan menyala. Saat periuk nasi terancam tipis, maka rasa ragu, malu, malas, akan terkikis.

Cika remaja masih ingat, di tahun 2005, saat usianya masih 16 tahun, Ia terdesak untuk membantu orang tuanya mencari nafkah. Sang Ayah, yang saat itu sopir angkutan, terlalu sering mengalami kecelakaan lalu-lintas. Usianya yang tak muda, dan lagi pandangan matanya yang kabur, adalah pemicunya berhenti meroda. Bagi Cika, ayah adalah pelita, wajar jika khawatir terjadi apa-apa.

“Saya khawatir, sesuatu terjadi pada bapak, makanya memintanya berhenti. Risikonya, saya harus membantu beliau bekerja.” Mata indahnya meredup, Ia menunduk sembari menghela nafas, pelan, hening. Gelagatnya, menandakan bahwa dirinya masih mengingat betapa kelamnya kisah itu.

Demi menyambung hidup, Cika sempat berjualan beberapa jenis makanan ringan, seperti kue basah, gorengan, dan beberapa makanan yang dibuat ibunya. Sampai akhirnya, Ia memilih cimol (Jawa, aci, digemol), cemilan berbahan dasar tepung tapioka yang dibentuk bulat-bulat, lalu digoreng. Cimol sangat digemari karena gurihnya khas. Ada sensasi kenyal dan empuk ketika digigit. Jika dipadukan dengan bumbu tabur aneka rasa, cimol adalah kudapan yang membikin ketagihan.


Cimol, Makanan Berbahan Dasar Tepung Tapioka
(Sumber Foto : Dokumentasi CV Made Arizka Sejahtera)

Hari itu, adalah hari pertama seorang remaja SMA mencoba peruntungan nasib. Tas sekolahnya yang semula berisi buku pelajaran, tampak sesak berisi dagangan. Saat anak-anak seusianya lazim beradu gaya, Cika rela mengekangnya. Ia menjual cimol di sekolah, lalu melanjutkan di depan rumah. “Waktu pertama jualan di sekolah sebenarnya saya malu, tapi setelah jualan saya habis, saya senang sekali.” Tawa renyah Cika menandakan betapa manisnya kenangan itu.

Melalui kisah pembukanya, Cika mengilhami kondisi keterdesakan menjadi sumber kekuatan. “Terus terang, kalau dulu saya tidak kepepet, mungkin tidak seperti sekarang. Makanya, kondisi kepepet seperti ini (pandemi), asal tau triknya, adalah kesempatan untuk sukses buka usaha,” ujarnya mantap.

Tak Harus Disengaja untuk Menjadi Legenda

Merintis usaha sejak SMA, tak membuat Cika terpikat dengan produk lain, apalagi beralih ke bidang usaha lain. Saat ayah, ibu dan dirinya dapat menikmati sepiring nasi sehari tiga kali, itupun cukup membuat hatinya lega. Lagi pula, toh Ia mendapat bonus rejeki lebih. Sejak Cika rela menahan lelah dan kantuk demi berbagi waktu belajar dan berjualan, uang sekolahnya tak pernah nunggak.

Saat Cika menginjak bangku kuliah, atau sekitar tahun 2009, Ia bahkan sudah memiliki 20 gerobak cimol. Tentu, itu bukan angka besar, tapi didapat dengan keringat dan perjuangan. Bayangkan, Cika tak pernah mau berhutang demi mengejar kata “berkembang.” Kalaupun waktu itu gerobaknya bertambah dalam kurun waktu 4 tahunan, semata-mata karena jeli mengelola uang, mau prihatin.

Sekilas, ini aneh. Mana bisa usaha recehan membiayai pendidikan tinggi? Apalagi, jurusannya waktu itu Keperawatan, pasti butuh biaya banyak. Entah untuk semesteran, praktik, atau mondar-mandir mengurus tugas, hingga skripsi. Atas pertanyaan ini, Cika punya jawaban di luar dugaan. “Ya karena kepepet itulah, makanya saya berusaha keras untuk berhasil. Kalau nggak berhasil, ya, kita nggak bisa makan, apalagi kuliah,” ujarnya.

Lagi-lagi, “keterdesakan” menjadi sumber daya digdaya bagi seorang Cika. Diam-diam, keterdesakan telah menggerakkan energi konsisten dan fokus. Ia fokus memilih satu jenis usaha saja. Lucunya, saat ditanya lebih detail tentang alasannya konsisten berjualan cimol, Cika tak menjawab muluk-muluk, simpel. Ternyata, Ia sibuk mengejar rasa cimol yang lebih sempurna.

“Bukannya saya tidak mau mencoba usaha lain, tapi untuk membuat cimol yang enak dan benar-benar empuk itu nggak mudah. Karena menggunakan tepung aci (tapioka), kalau racikannya nggak pas, ya keras (tidak empuk). Tidak semua orang bisa membuat cimol, saya sendiri baru 2 tahunan ketemu resep yang pas,” ungkap Cika menerangkan sedikit rahasia kelezatan cimol buatannya.

Apa yang dilakukan Cika tak seperti pedagang kebanyakan. Walau tak sepenuhnya disengaja, Ia mengupayakan agar produknya menjadi legenda, benar-benar empuk, enak, beda jauh dari cimol yang lain. Cika sabar dengan trial and error yang dilakoni hingga 2 tahunan. Beragam komposisi, baik bahan, bumbu dan teknik memasak, dicobanya dengan telaten. Ia sadar tak punya dasar ilmu kuliner, wajar jika berupaya keras menemukan resepnya sendiri. Inilah, sisi paling eksotis yang jarang dilakukan pedagang makanan lainnya.

Menjadi Matahari, Sebuah Pilihan Bijaksana

Di tahun 2013, Cika lulus dari Universitas Harapan Bangsa, Purwokerto, dan mendapat gelar Sarjana Keperawatan. Bagi perempuan yang lulus dengan predikat cum laude itu, memilih berkarier menjadi perawat, tentu pekerjaan yang luar biasa mulia, tapi, Cika sadar, dirinya ibarat matahari yang menerangi penghidupan mitra-mitranya. Ia ingin menjadi sahabat, ibu, sekaligus teladan bagi mereka.

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama, pegangan saya itu. Menjadi perawat juga mulia, tapi ada orang-orang yang waktu itu bergantung pada saya, jadi saya harus peduli dengan mereka.” Begitulah, Cika mengaku ada kekuatan yang mendorongnya untuk terus berbagi dengan mitranya. Ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan mereka. Hatinya, jiwanya, raganya, sulit untuk tertambat kepada perawat, sekalipun itu baik dan mulia.


Cika Saat Wisuda Sarjana Keperawatan di Universitas Harapan Bangsa
(Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi Resika Caesaria)

Cika mengaku, usai lulus kuliah, dirinya lebih sering merenung, berkontempelasi. Ia baru sadar, selama ini, berkat cimol dan kesabarannya membina mitranya, tak sekadar cukup untuk makan, bahkan melampaui itu. Buktinya, Ia bisa kuliah hingga lulus. Memang sederhana, tapi itu suatu pencapaian. Berlatar belakang rasa syukur itulah, tekadnya untuk menghidupi lebih banyak mitra, kian menggelora.

Sebagai manusia biasa, naif jika tak berpikir materi. Cika pun berkata jujur, waktu itu sempat membayangkan betapa indahnya jika meng-upgrade “Ratu Cimol Banyumas” menjadi sekomersial franchise, lalu menjual di level menengah-atas. Toh, saat itu, brand-nya cukup punya nama. Jika mau begitu, harapan untuk sukses di usia muda, akan membuatnya terbang, melayang, seperti nuri yang bersenandung riang.

Sayangnya, Cika tak semudah itu berpindah haluan, sekalipun menjanjikan. Ia memikirkan betapa upayanya selama ini, telah membuat puluhan mitranya tersenyum gembira, termasuk anak-anak mereka, keluarganya, bahkan mungkin tetangganya. Cika tahu, semula, usahanya dilandasi atas keprihatinan. Ia prihatin dengan mereka yang menganggur, tak mampu melanjutkan pendidikan, hingga yang hidup dalam pelbagai himpitan. Jika harus berpikir berbeda, tak tega rasanya.

Atas kesadaran spiritual itulah, Cika memutuskan untuk tak mencoba-coba berpikir egois. Ia kokoh memilih socialpreneur sebagai jalan bisnisnya, apapun risikonya. Bak peribahasa, “Hendak mulia bertabur urai,” Cika bertekad untuk terus menggratiskan gerobak dan alat-alatnya. Memang tak membuat kaya, tapi Ia percaya, ada satu tangan yang mampu mengubah segalanya. Tangan itu, yang Ia percayai sebagai tangan Tuhan Yang Maha Kaya.

Percayalah, Ada Tangan yang Menggenggam Mesra

Sejujurnya, Cika pun tahu persis, tak ada makan siang yang gratis, begitu pemeo umum. Maka, dalam kalkulasinya, jika ingin terus menambah jumlah mitra, seorang akan membutuhkan waktu hingga 6 bulanan untuk bisa mengembalikan modal 1 set gerobak, yang saat itu berada di kisaran 4 jutaan. Tentu, ini dilema bagi socialpreneur seperti Cika.

Cika tetap tak silau melihat ke atas, terutama jika mengamati gurihnya bisnis franchise yang saat itu menggeliat cepat, sebulan bisa buka puluhan, atau bahkan ratusan cabang. Ia meski rela dengan laju usaha yang berjalan seperti siput, lambat-lambat asal selamat. Memilih jalan berbagi, sudah mutlak keputusan jiwanya. Ia menahan diri agar semua mengalir alami, tenang, seperti air sungai yang bermuara ke lautan.

Tahun 2014, proposal Cika untuk PT Astra International Tbk, yang juga merupakan proposal jiwanya kepada Tuhan Yang Maha Kaya, mendapati kabar menggembirakan. Ia merasa seperti sedang didera kehausan, tiba-tiba seseorang menawarkan segelas minuman dingin, nyes! Tak hanya itu, bahkan lengkap dengan sepotong bolu kukus hangat bertabur keju. Perasaan bahagia, sedih, bangga, campur baur menjadi satu.

Cika terpilih menjadi salah satu pemenang Satu Indonesia Awards bidang kewirausahaan. Sebuah penghargaan bagi generasi muda yang tak kenal lelah memberi manfaat bagi masyarakat di seluruh penjuru tanah air. Mereka dibina, agar bisa memberikan dampak sosial lebih besar dan lebih luas lagi. Ini adalah program tanggung jawab sosial perusahaan atau yang sering disebut Corporate Social Responsibility (CSR), yang diselenggarakan setahun sekali oleh PT Astra International Tbk.


Cika Meraih Penghargaan Satu Indonesia Awards Tahun 2014
(Sumber Foto : tempo.co)

“Wah, senang sekali, nggak disangka. Tapi dari awal saya si sudah percaya, suatu saat pasti ada yang peduli dengan saya. Ternyata benar, saya terpilih,” ungkap perempuan murah senyum itu penuh bangga. Menurut Cika, 2014 adalah tahun keemasan. Lantaran didukung perusahaan besar, akan ada Dewi Fortuna yang bakal menghampirinya.

Sebuah penghargaan, tak kemudian membuat Cika terlarut dalam kebahagiaan. Ia menyadari, pendampingan yang nantinya diberikan PT Astra, meski memicu dirinya untuk menjadi extraordinary people, harus lebih semangat, hebat, dan lebih dahsyat lagi. Ia juga paham, di dunia ini, tidak ada istilah kebetulan, semua selalu atas kehendak-Nya. Maka, ketika merasakan tangan-Nya menggenggam mesra, Ia lebih erat lagi menyambutnya.

Menuju Denyut Nadi Perubahan

Tahun 2015, Cika mulai merasakan nadi bisnisnya berdenyut lebih berirama. Perempuan berhijab itu tak lagi merasa sepi lantaran menggesek biolanya sendiri. Ada rampak instrumentalia yang turut mengiringi orkestra bisnisnya. “Iya, ada bantuan, tapi yang membuat saya paling terkesan, karena mereka (PT Astra), akan terus memberikan support dan pendampingan,” ujarnya.

Kepercayaan yang diberikan oleh PT Astra, mendorong Cika melakukan upaya restrukturisasi usaha di awal-awal pendampingan. Ia berpikir untuk menjadikan mitra-mitranya terus berkembang, baik kualitas kesejahteraan, maupun kuantitas, atau jumlah mitranya. Harapannya, akan lebih banyak lagi kaum tak berpunya yang menikmati sentuhan lembut tangan seorang Resika Caesaria.

Saat itu, hal yang dilakukannya adalah pendekatan berbasis bottom-up approach. Idenya, mengumpulkan dan membina mitra melalui forum ramah-tamah. “Sebelum ada pandemi saya sering mengumpulkan mereka untuk mendengarkan permasalahan yang terjadi di bawah, lalu saling tukar pendapat. Dari sana, kita kemudian saling berbagi pengalaman dan strategi. Ketika saya banyak mendengarkan dan memberi masukan, saya malah mendapat banyak ilmu baru,” ujar Cika mantap.

Kesuksesan itu berpola, begitu Cika mempercayainya. Maka, dalam setiap forum ramah-tamah, mitra yang omzetnya bagus, ditelusuri dan digali satu per satu polanya, lalu, dibagikan kepada mitra lainnya. Dari sana, didapat banyak sekali temuan. Contohnya, lokasi usaha yang harus dekat dengan pembeli potensial, mengupayakan agar produk selalu hangat, keramahan yang khas sesuai usia pembeli, dan tidak sering pindah lokasi untuk memudahkan mendapat pelanggan setia.

Tak hanya itu, Cika menjadi lebih sering mengunjungi mitra. Alih-alih bersilaturahmi, dirinya ingin memastikan bahwa mereka sudah menerapkan standar operasional prosedur perusahaan. Utamanya masalah sanitasi dan higienitas. Ia tak mau, produknya dituduh sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan. Penjual makanan selalu riskan dengan isu, sebagai orang dengan basic kesehatan, Cika sangat konsen memerhatikan hal ini.

Upaya restrukturisasi yang dilakukan Cika, lambat laun menuai hasil. Tahun 2020, Ia mendapati perkembangan jumlah mitranya. Rupanya, dukungan yang diberikan PT Astra, mampu memicu dirinya untuk melakukan perubahan signifikan. “Alhamdulillah, sebelum tahun 2014, waktu saya belum dibina Astra, mitra saya sekitar 60-an, di tahun 2020 sudah mencapai 400-an,” ungkap Cika dengan ekspresi gembira.

Atas pencapain itu, Cika berpendapat, isu utama bagi socialpreneur yang umumnya berjalan lambat, bermula dari titik terbawah, yakni mitra. Kuncinya, mereka harus dibina lebih optimal, tak kemudian dilepas begitu saja, seperti melepas merpati dalam acara-acara peresmian. Ketika seorang mitra mampu mengeksplor laju usahanya lebih baik, maka di sanalah penjualan dapat ditingkatkan.


Cika Menyerahkan Gerobak Cimol Kepada Mitra
(Sumber Foto : Dokumentasi CV Made Arizka Sejahtera)

Selain itu, menurut Cika, menambah jumlah mitra, semestinya tak menjadi fokus utama dulu, tapi justru kualitas usahanya. Karena kesuksesan itu berpola, maka ketika seorang mitra mampu menemukan pola suksesnya, artinya omzetnya meningkat. Tingkat penjualan yang semakin baik ini, secara alami membuat gerobak yang semula diberikan cuma-cuma, segera balik modal, jauh lebih cepat. Ini artinya, menambah jumlah mitra, dapat dilakukan tanpa terkendala modal, lebih ringan.

Sentuh Dengan Cinta Ketika Pandemi Melanda

Maret 2020 adalah masa-masa pelik yang meski dihadapi Cika dan kebanyakan mitra. Saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat wabah virus Covid 19, omzet usahanya turun drastis, mencapai 80%, parah. “Bulan Maret 2020, saya sempat bingung karena Covid. Mereka kan biasanya jualan di tempat ramai seperti sekolahan, karena libur dan sepi, otomatis mereka nggak ada pemasukan sama sekali,” ungkap perempuan berparas ayu itu dengan nada prihatin.

Melihat kondisi demikian, Cika panik, pusing bukan kepalang. Lantaran mitranya tak bisa jualan sama sekali, Ia khawatir, mereka tak bisa makan, membeli susu, atau sekadar belanja harian. Akhirnya, Cika bergerak cepat dan memutar otak, mendorong untuk mengubah marketing konvensional menjadi insidental. Mereka yang semula berjualan di pangkalan, didorong melakukan promosi daring (online). “Saya meminta mereka agar promosi lewat WA dan Facebook lalu COD. Untuk yang belum terbiasa karena mungkin gaptek, saya minta segera belajar dan menyesuaikan,” tuturnya.

Tak hanya itu, agar produknya lebih mudah diakses oleh pembeli yang saat itu hanya keluar rumah untuk membeli bahan pokok saja, Cika berinisiatif membuat produk frozen. Setelah itu, meminta mitranya menitipkan di toko-toko yang menjual produk frozen sejenis, seperti nugget atau sosis. Dengan trik ini, tak lebih dari 1,5 bulanan, omzetnya stabil kembali, bahkan naik. “Alhamdulillah, dengan sistem DO (delivery order) dan produk frozen, omzet saya naik 100%, dua kali lipat dibanding sebelum pandemi,” ujarnya penuh suka cita.


Cimol Frozen Produksi CV Made Arizka Sejahtera
(Sumber Foto : Dokumentasi CV Made Arizka Sejahtera)

Menurut Cika, prestasi penjualan yang Ia raih ketika pandemi, tak terlepas dari “trust” yang senantiasa Ia bangun kepada mitra setianya. Selama ini, Ia tak ingin dianggap sebagai bos. Ia lebih suka memposisikan diri sebagai teman, sahabat, dan ibu yang baik. Tak heran, ketika situasi menuntut gerak cepat, mitranya bergegas mengikuti figur yang begitu sayang dan perhatian kepada mereka. Walhasil, nasibnya dapat terselamatkan.

Mengepakkan Sayap-Sayap Inspirasi

Inspiratif tak selalu tentang seberapa unik suatu kisah, seperti menemukan prasasti zaman prasejarah yang mampu mengubah peradaban. Berkaca dari perjalanan Cika, inspiratif itu sesederhana rasa tahu diri, kerelaan menunda ego pribadi, demi konsisten dan ikhlas berbagi. Perempuan yang kini sering diundang sebagai tokoh inspiratif pada forum-forum UMKM itu, mantap memilih jalan socialpreneur, sesuatu yang bahkan tak diminati banyak orang.

Di tahun 2020, Cika merintis 3 program inspiratif untuk memberikan dampak sosial lebih luas lagi bagi masyarakat sekitar. Pertama, Ia membuat konsep jualan tanpa risiko. Kedua, bersinergi dengan petani lokal untuk menyuplai bahan baku. Ketiga, membuka lowongan pekerjaan, khusus untuk anak-anak putus sekolah.

“Kalau sebelumnya jualan tanpa modal, sekarang sudah bisa tanpa risiko. Sisa cimol yang diretur, semuanya jadi tanggungan saya, jadi tidak ada beban apa-apa. Nantinya, saya berikan gratis kepada peternak untuk penggemukan ikan,” ujarnya. Kendati menyatakan sistem perekrutan mitra tak butuh modal dan zero risk, Cika menegaskan kembali satu syarat mutlak, “Hanya untuk yang tidak mampu saja, selain itu tidak.”

Sekarang, Cika bahkan merasa berlega hati karena mampu merangkul petani lokal. Ia mengambil bahan baku, mulai tepung, bawang, cabai, jagung, dan semuanya, khusus dari petani yang ada di sekitar wilayahnya. Termasuk, bumbu tabur yang semula membeli produk jadi, sekarang sudah meracik sendiri. Tujuannya, untuk membantu kesejahteraan petani.

“Contohnya jagung manis. Mereka (petani), menjual ke saya Rp6.000/kilo, kalau menjual ke tengkulak dihargai cuma Rp3.000/kilo. Saya beli jagung ke pasar harganya malah bisa Rp8.000/kilo. Saya untung karena dapat jagung lebih murah, petani juga untung dua kali lipat dibanding menjual ke tengkulak,” ujar Cika penuh rasa bangga. Harapannya, kelak ketika usahanya semakin besar, akan lebih banyak lagi petani yang turut merasakan hasilnya.

Selain itu, Cika sempat merasa prihatin dengan anak-anak desa yang tak mampu melanjutkan sekolah hingga SLTA karena terkendala biaya. Perempuan yang juga pernah mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Jateng di tahun 2017 itu, kemudian menginisiasi program lowongan pekerjaan, khusus untuk mereka yang putus sekolah. Cika merekrut mereka menjadi karyawan produksi, lalu membiayai pendidikan hingga lulus Kejar Paket C, atau setara SLTA.


Cika Bersama Karyawan CV Made Arizka, Produsen Ratu Cimol Banyumas
(Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi Resika Caesaria)

“Sekarang, sekelas usaha rumahan atau karyawan toko saja, mengharuskan karyawannya lulus SMA, lalu yang cuma lulus SMP kan kasihan, susah dapat kerja. Jadi saya membuka lowongan hanya untuk lulusan SMP saja. Saya juga membiayai mereka untuk mengikuti program Kejar Paket C,” ujar Cika menjelaskan program mutakhirnya.

Begitulah Cika, Sarjana Keperawatan yang kini membina lebih dari 400 pedagang kecil berlatar belakang ekonomi lemah, dengan penuh cinta dan keikhlasan. Kendati tak merawat pasien layaknya perawat di rumah sakit, Cika mampu membuktikan dirinya tak kalah mulia. Ia berjasa karena merawat geliat ekonomi para mitranya yang kini bergantung padanya. “400 memang bukan angka yang fantastis, tetapi saya optimis, ini bisa ditingkatkan, bahkan sampai 4000-an,” ungkap Cika penuh semangat.

“Terima kasih kepada PT Astra. Bagi saya, Astra sudah menyalakan pelita hingga ke pelosok-pelosok desa dengan mendukung anak-anak muda seperti saya. Saya mengajak teman-teman pedagang, khususnya yang terdampak pandemi, agar lebih semangat, jangan menyerah. Untuk yang baru mau buka usaha, buatlah yang bisa bermanfaat bagi sesama.” Ungkap Cika mengakhiri percakapan dengan pesan sarat makna. Sederhana, tapi ini, adalah pesan semangat majukan Indonesia.