Sebuah Kisah Perjuangan Dalam Merawat Harapan dan Kelestarian Lingkungan
Oleh: Saad Ahyat Hasan , 2022-09-30 15:38:02Kategori: Umum (https://kamuitubeda.com)Media Online
https://www.kamuitubeda.com/2022/09/merawat-harapan-dan-kelestarian-lingkungan.html

Pagi itu saya dan keluarga ke Pacet untuk tujuan yang lain dari biasanya. Saya ke Pacet bukan untuk berwisata sebagaimana pengunjung Pacet pada umumnya, melainkan untuk belajar kepada seorang petani organik muda, Maya Stolastika.

Dengan bermodalkan informasi dan panduan arah yang dikirimkan oleh Mbak Maya melalui WA, saya tidak mengalami kesulitan berarti untuk menemukan lokasi perkebunan Twelve’s Organic milik Maya yang berjarak sekitar 500m dari jalan raya Claket-Trawas. Dan setelah melewati perjalanan hampir 1 jam dari kampung halaman saya di kecamatan Bangsal, Mojokerto, akhirnya sampai juga kami di lokasi yang menjadi saksi perjuangan seorang Maya Stolastika untuk merawat harapan dan cita-citanya dalam menjaga lingkungan melalui pertanian.

Terlihat beberapa orang sedang sibuk menyiapkan berbagai macam hidangan untuk para tamu yang akan datang berkunjung di hari itu. Kebetulan di hari itu ada beberapa orang yang melakukan reservasi. Dan saya yang pertama kali berkunjung. Sehingga saya beruntung bisa melihat secara langsung proses memasak hidangan yang sebagian besarnya merupakan produk olahan hasil kebun. Seperti halnya ubi bakar, ubi rebus, jus berry, dan berbagai olahan hasil kebun lainnya. Kombinasi antara dinginnya hawa pegunungan Pacet dan hangatnya sambutan Maya Stolastika bersama para petaninya sungguh meninggalkan kesan yang begitu mendalam kepada saya. 

Para Petani yang Sedang Menyiapkan Hidangan (dok. pribadi)

Sederhana, begitu kesan pertama saya ketika bertemu dengan seorang Perempuan Kelahiran Flores ini. Dan sungguh tidak pernah terbayang sebelumnya kalau di balik penampilan Maya yang sangat sederhana, tersimpan mental dan tekad sekuat baja di sana. Entah sudah berapa kali jatuh bangun yang harus dialaminya selama menjalankan pertanian organiknya mulai 2008 sampai sekarang ini.

Menjadi satu-satunya petani dalam keluarga non-petani merupakan sebuah perjuangan yang luar biasa berat. Belum lagi jika kita seorang anak perempuan dengan latar belakang pendidikan S1 Sastra Inggris, sudah tentu akan lebih besar lagi tantangannya. 

Maya (bertopi dan memakai sepatu boots) bersama pemuda pegiat pertanian Organik (dok. Maya)

Semenjak pertama kali memilih pertanian sebagai jalan perjuangannya, sudah tidak terhitung berapa kali Maya mendapatkan tekanan dari lingkungan sosial di sekitarnya. Baik itu dari keluarga, teman, maupun lingkungan tempat di mana Maya menjalankan pertaniannya.

Maya sadar bahwa orang tuanya memang tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang tua pada umumnya. Masih menganggap dunia pertanian bukanlah bidang pekerjaan yang menjanjikan. Tidak seperti pekerjaan-pekerjaan lain seperti dosen, PNS, pegawai BUMN, dan semacamnya. Yang mana jaminan sosial di hari tuanya lebih terjaga. 

Tantangan Pertama: Mengubah Stigma Negatif Kepada Petani.

“Sampai sekarang, orang tua saya, khususnya Ayah, masih belum bisa menerima sepenuhnya pilihan saya untuk menjadi seorang petani. Tapi setidaknya saya mendapat dukungan dari Ibu. Sehingga perjuangan saya agak lebih ringan,” Maya menghela nafasnya agak berat.

“Dulu malah pernah ketika kami sedang berjalan menuju ke kebun, kami sempat direndahkan oleh anak-anak sekolah yang sedang nongkrong di pinggir jalan. Mbak-mbak itu lho kurang kerjaan sekali. Sudah kuliah tinggi-tinggi kok malah jadi petani,” Maya semakin mempertajam suaranya sembari menirukan ucapan anak-anak sekolah yang mencibirnya.

“Tapi kami sudah cukup kebal dengan ucapan-ucapan seperti itu. Karena kami yakin, yang kami lakukan ini baik dan bermanfaat bagi banyak orang dan lingkungan. Selain itu, kami juga sudah membuktikan bahwa kami bisa hidup melalui pertanian. Semoga dengan berjalannya waktu, semakin banyak orang yang paham dengan apa yang sedang kami perjuangkan.”

Awal Mula Menemukan Panggilan Jiwa Sebagai Petani Organik

Sebelum bertani dengan begitu gigih seperti sekarang, tidak pernah terbesit dalam hati Maya untuk menjadi petani. Sampai kemudian dia berkesempatan untuk berkunjung langsung ke salah satu tempat pertanian organik di Bali di sela-sela kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Yoga yang dirintisnya bersama dengan salah seorang dosen di kampusnya. Di situlah Maya menemukan titik balik hidupnya.

Dari interaksi dengan para petani organik di Bali tersebut, Maya mulai sadar bahwa hidup merupakan sebuah anugerah yang harus disyukuri. Dan salah satu cara bersyukur yang paling efektif menurutnya adalah dengan mendayagunakan apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

“Alasan saya memilih pertanian sebagai jalan perjuangan adalah salah satu bidang paling dekat dengan seorang perempuan seperti saya. Perempuan merupakan orang yang berperan besar dalam menyediakan makanan di rumah. Maka dari itu, sangat penting bagi perempuan untuk memastikan bahwa makanan yang mereka hidangkan itu sehat. Dan salah satu jenis makanan yang terbukti sehat adalah produk pertanian organik” ujar Maya.

“Di sisi lain, pertanian organik juga merupakan salah satu cara kami untuk bersyukur dan menjaga ekosistem. Karena dalam pertanian organik tidak ada penggunaan pupuk dan obat-obatan kimiawi sama sekali. Sehingga kesuburan tanah dan kualitas air tanah akan terus terjaga dan bisa diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya,” sambung Maya.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Maya bersama dengan 4 orang teman lainnya yang tergabung dalam UKM Yoga di kampusnya tersebut mulai tertarik untuk mempelajari pertanian organik secara otodidak dengan dibimbing oleh satu pemuka agama kenalan Maya di kawasan Pacet. Dan semenjak itu, mereka mulai berkomitmen untuk menabung demi mewujudkan impian mereka untuk bertani secara organik.

Sampai akhirnya di awal tahun 2008, Maya bersama 4 orang temannya memberanikan diri untuk menyewa lahan seluas 1 hektar di salah satu daerah pegunungan di Mojokerto dengan bermodalkan uang tabungan mereka hasil dari kerja sampingan selama kuliah.

Maya bersama teman kuliahnya ketika membuka lahan (dok. Maya)

Untuk proses penentuan lokasi pertaniannya sendiri, Maya meminta bantuan kepada salah satu kenalannya untuk membantu mencarikan informasi lahan kosong di sekitar Pacet. Kebetulan kenalan Maya tersebut memang tingal di daerah Pacet, Mojokerto, yang terkenal sebagai daerah pemasok sayuran untuk wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, dan sekitarnya.

Namun karena jarak antara Surabaya-Mojokerto lumayan jauh, mau tidak mau mereka harus mempekerjakan orang untuk mengurus kebunnya setiap Senin-Jumat yang merupakan hari aktif kuliah. Sementara di hari Sabtu dan Minggu mereka yang mengurusnya sendiri. 

Menjalankan Pertanian Organik Sebagai Bisnis

Meski tanpa pengetahuan pertanian yang memadai, sedari awal Maya memiliki keyakinan bahwa pertanian itu merupakan sebuah bisnis dan industri. Maka dari itu, harus dikelola sebagaimana layaknya mengelola sebuah perusahaan dan industri. Mulai dari manajemen kepegawaian, manajemen produksi, sampai dengan manajemen keuangan, semuanya harus dikelola secara profesional kalau mau dianggap sebagai sebuah bisnis yang menjanjikan.

Berangkat dari keyakinan tersebut Maya kemudian menerapkan beberapa aturan sebagaimana layaknya sebuah perusahaan. Baik itu terkait kepegawaian, produksi, maupun keuangan. Untuk masalah kepegawaian misalnya, Maya menerapkan aturan pembedaan penggunaan dresscode antara pakaian untuk menerima tamu dan pakaian berkebun. Makanya jangan kaget kalau sewaktu-waktu kalian berkunjung ke Twelve’s Organic kalian tidak menemukan petani yang kotor. Karena memang pakaian untuk menerima tamu dibedakan dengan pakaian untuk bertani.

“Dengan berpakaian rapi seperti ini, kami ingin menegaskan pada para pengunjung bahwa petani itu tidak melulu kotor. Selain itu ini merupakan cara kami menarik minat anak-anak muda untuk lebih tertarik kepada dunia pertanian,” Maya menjelaskan alasannya di balik aturan tersebut.

Pengunjung sedang memanen sayur bersama petani Twelve's Organic (dok. Pribadi)

Selain pegawai, aspek lain yang juga dikelola secara profesional adalah manajemen produksi. Saat ini ada 30 jenis sayuran yang ditanam di Twelve’s Organic. Dan semuanya dijadwalkan secara teratur dan terukur oleh Maya bersama Herwita. Sehingga tidak terjadi adanya over supply untuk masing-masing produk. Selain itu manajemen produksi ini memungkinkan para petani organik bimbingannya bisa panen 2 kali setiap minggunya. Sehingga mereka mendapatkan pendapatan tiap minggu.

Selain manajemen kepegawaian dan manajemen produksi, Maya juga menerapkan manejemen keuangan yang profesional dalam menjalankan bisnis pertanian organiknya. Untuk manajemen keuangan ini sendiri terdiri dari berbagai macam elemen. Mulai dari keuangan terkait gaji pegawai, keuangan terkait kebutuhan produksi, dan keuangan terkait penjualan.

Garden fresh market - tempat wisata edukatif sambil memanen sayur (dok. Pribadi)

Khusus untuk masalah gaji, di Twelve’s Organic ada gaji harian, mingguan, dan bulanan bagi petani. Gaji harian biasanya didapatkan dari pengunjung harian yang melakukan reservasi ke kebun. Sementara gaji mingguan didapatkan dari hasil panen yang dilakukan sebanyak 2 kali seminggu. Sedangkan gaji bulanan didapatkan dari bonus penjualan hasil produksi.

Dengan adanya manajemen produksi dan sistem gaji, Maya berusaha untuk mengedukasi para petani organik bimbingannya agar mempunyai manajemen keuangan yang lebih baik. Sehingga para petani bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan lebih layak dan tidak sampai harus berhutang karena menunggu masa panen tiap 3 atau 4 bulan sebagaimana umumnya para petani.

Dengan berbagai macam pendekatan tersebut, Maya pun mulai mendapatkan simpati dari orang-orang yang selama ini pernah meragukan pilihan hidupnya untuk bertani. Bahkan tidak hanya berhenti sampai situ saja, sang ibu yang sebelumnya menentang pilihan hidup Maya pun kini berbalik mendukung perjuangannya untuk berkarya melalui dunia pertanian. 

Tantangan Kedua: Pemasaran

Di awal menjalankan bisnisnya, Maya bersama 4 orang temannya menggunakan cara pemasaran secara konvensional. Yakni dengan menjual hasil pertanian mereka kepada tengkulak di pasar Keputran yang terkenal sebagai salah satu pusat penjualan sayuran di Surabaya, tempat Maya kuliah.

Pada kesempatan pertamanya berjualan di pasar Keputran, harapan Maya untuk membawa banyak uang dari setengah ton sayur hasil panen pertamanya pupus begitu saja ketika tahu sayur organiknya hanya dibeli dengan harga Rp500/kg. Dan karena masih cukup awam soal pemasaran, akhirnya mau tidak mau Maya pun merelakan sayurnya untuk dibeli dengan harga yang jauh di bawah harga pasaran sayur organik tersebut.

“Dari pengalaman pertama di pasar Keputran itu, saya semakin yakin kalau ada oknum-oknum yang memainkan harga di pasar. Sehingga petani tidak mendapatkan keuntungan yang maksimal dari produk pertanian mereka. Dan semenjak itu, saya bertekad untuk mencari jalan pemasaran alternatif,” tukas Maya.

Meluaskan Jaringan dengan Lebih Mengenal Pedagang

Setelah penjualan pertamanya tidak menghasilkan uang seperti yang diharapkan, Maya pun mencoba untuk memperluas jaringan pemasarannya dengan cara berkenalan langsung dengan para penjual sayur yang ada di pasar Keputran untuk mendapatkan pengetahuan lebih mengenai harga pasar.

Dan setelah beberapa kali berjualan di pasar Keputran, Maya mulai menyadari bahwa di pasar tradisional itu ada 3 harga jual sebagaimana di dunia saham. Yang pertama ada harga pembukaan, kemudian ada harga pasar, dan yang terakhir harga penutupan. Setelah semakin paham mengenai teori harga sekaligus implementasinya, pelan tapi pasti, omset penjualan sayur organik Maya terus mengalami peningkatan demi peningkatan.

Pengemasan produk (dok. Maya)

“Tapi sayangnya itu juga menjadi bumerang bagi kami. Karena kami kenal langsung dengan banyak pedagang, akhirnya semakin lama permintaan semakin tinggi. Dan karena permintaan semakin tinggi, maka akhirnya kami juga menanam sayur non-organik,” kata Maya dengan menghela nafas.

“Sampai akhirnya kami sadar bahwa ada yang salah dengan metode kami ini. Karena tujuan awal kami bertani organik bukan semata-mata untuk profit, tapi untuk menjaga lingkungan. Maka setelah itu, kami kembali fokus hanya menanam sayur organik. Meskipun dengan itu, omset penjualan kami menjadi berkurang,” tutup Maya.

Mulai Menembus Jaringan Supermarket di Surabaya

Setelah merasa cukup sukses berjualan di pasar tradisional, Maya pun berinisiatif untuk melakukan pemasaran di beberapa supermarket yang ada di Surabaya.

Supermarket pertama yang menjadi tujuan Maya pda waktu itu adalah Hokky yang merupakan salah satu jaringan supermarket yang lumayan terkenal di Surabaya. Kebetulan pemilik Hokky merupakan kenalan Maya dari pekerjaan sampingannya sebagai tentor di salah satu lembaga bimbingan belajar di Surabaya.

Setelah sukses menembus Hokky, Maya pun tertarik untuk mencoba menembus berbagai jaringan supermarket yang ada di Surabaya. Dan setelah melakukan beberapa kali pendekatan, Maya pun akhirnya sukses menembus beberapa jaringan supermarket di Surabaya.

“Tapi lagi-lagi itu juga menjadi masalah. Karena ada beberapa supermarket yang begitu ketat dalam quality control. Sampai ukuran sayur diatur sebegitu ketatnya. Dan hanya sayur dengan ukuran tertentu yang diterima. Padahal seperti yang bisa kita lihat, kami di sini semuanya serba organik.” jelas Maya.

“Dalam pertanian organik itu semuanya diproses secara alami sehingga ukuran sayurannya pun sangat beragam. Dan karena itulah, kami memutuskan untuk hanya bekerja sama dengan Hokky, yang lebih fleksibel dalam quality control dan merupakan supermarket mitra pertama kami sampai sekarang,” Maya menutup penjelasannya.

Pemasaran Terbalik

Dari berbagai pengalaman tersebut, kemudian muncullah ide untuk melakukan pemasaran secara terbalik. Yakni dengan cara menawarkan berbagai jenis sayurnya langsung kepada konsumen untuk kemudian diproduksi sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Dari yang sebelumnya farm to table menjadi table to farmFarm to table itu maksudnya kita panen dulu baru kita pasarkan kita pelanggan, sementara table to farm itu kebalikannya. Kita infokan dulu kepada pelanggan, produk apa saja yang siap untuk dipanen baru setelah pelanggan pesan, kita panen sesuai dengan pesanan pelanggan. 

Sayur yang sudah dipesan secara pre-order oleh pelanggan (dok. Maya)

Selain terbukti meningkatkan profit dari hasil pertanian organiknya, pendekatan table to farm juga mengurangi kemungkinan sayur menjadi busuk karena tidak laku. Karena sistemnya pre-order, jadi win-win solution buat kami dan buat pelanggan. Dengan memanfaatkan pelanggan setianya selama bertahun-tahun, kini Maya fokus melayani pelanggan setianya dengan cara melakukan promosi via WA (WhatsApp) ke masing-masing pelanggan terkait produk yang siap dipanen selama 2 kali seminggu.

Selain pemasaran via WhatsApp, Maya bersama Herwita juga memaksimalkan penggunaan teknologi, khususnya social media (Facebook dan Instagram) untuk melakukan pemasaran dan menjaring calon pelanggan baru. Sementara untuk semakin mendekatkan para petaninya kepada konsumen, Maya juga tidak jarang mengikuti acara pameran pertanian di Surabaya. Di samping juga membuka lapak di pasar sehat Surabaya selama sebulan sekali dan menerima pengunjung secara langsung di kebunnya.

“Dengan mempertemukan konsumen dan para petani secara langsung, kami yakin akan terjalin sebuah ikatan yang menguatkan di antara mereka. Bagi para petani, kesempatan untuk bertemu dengan konsumen adalah momen yang begitu berharga. Karena mereka bisa mendapatkan apresiasi secara langsung atas kerja keras mereka selama ini. Sedangkan bagi konsumen, bertemu dengan para petani akan membuka wawasan mereka bahwa di balik sayur yang mereka konsumsi selama ini, ada orang-orang yang bekerja keras tanpa henti. Yang kemudian menjadikan konsumen menjadi lebih punya empati,” terang Maya.

Tantangan Ketiga: Menjaga Kualitas

Semenjak bekerja sama dengan beberapa jaringan Supermarket di Surabaya, Maya Stolastika sadar bahwa kualitas produk itu sangat penting. Berangkat dari fakta tersebut, Maya kemudian mencari cara bagaimana agar sayur organik miliknya bisa mendapatkan sertifikasi. Sehingga para calon konsumen semakin yakin kalau produknya memang benar-benar sayur organik.

Karena tanpa adanya mekanisme kontrol dan sistem sertifikasi yang jelas, bukan tidak mungkin akan ada petani yang bermain curang dan memasarkan sayur non-organik sebagai sayur organik. Karena secara kasat mata memang tidak ada perbedaan yang cukup mencolok di antara keduanya. Maka dari itu, dibutuhkan peran penjamin mutu sayur organik untuk menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen.

Bekerja sama dengan PAMOR

Mengingat pentingnya penjaminan kualitas bagi produk organik, Maya Stolastika pun akhirnya mencari cara agar produknya bisa disertifikasi. Dan setelah melewati banyak pertimbangan, baik dari sisi teknis maupun aspek finansial, akhirnya dipilihlah PAMOR (Penjaminan Mutu Organis) sebagai mitra dalam melakukan sertifikasi organik.

PAMOR sendiri merupakan sistem penjaminan mutu organik partisipatif yang melibatkan produsen sendiri dan pihak lain (pedagang, konsumen, LSM, pemerintah) dalam penilaian dan pengakuan pemenuhan standar organik yang diinisiasi oleh AOI (Aliansi Organis Indonesia).

Proses pendampingan dalam pembentukan Unit PAMOR Pacet

Dan kini, kebun Twelve’s Organic milik Maya Stolastika merupakan salah kelompok tani yang sudah mendapatkan sertifikasi. Sehingga tidak perlu diragukan lagi kalau semua hasil pertaniannya sudah bebas bahan kimia dan benar-benar ramah lingkungan. Sementara Maya Stolastika sendiri merupakan koordinator dari Unit PAMOR Pacet yang merupakan salah satu unit PAMOR sudah diakui dan diberikan tanggung jawab untuk melakukan sertifikasi produk pertanian organik di Indonesia.

Tantangan Keempat: Tekanan Sosial dari Lingkungan dan Keluarga

Perjalanan bisnis pertanian organik Maya yang pertama kali dirintis sejak 2008 pada akhirnya tidak bertahan lama. Karena di tahun 2009 satu per satu teman seangkatan Maya lulus kuliah. Dari semula 5 orang, tinggal Maya dan Herwita saja yang tetap bertahan menjadi petani. Selebihnya sudah memilih jalur karier lain. Dan karena begitu besarnya tekanan sosial dari keluarga untuk segera mendapatkan pekerjaan, akhirnya Maya dan Herwita pun sepakat untuk berhenti sejenak dari aktivitas pertanian organik yang baru 2 tahun mereka rintis.

Masa-Masa Hiatus (2010 – 2012)

Demi memenuhi permintaan keluarga mereka untuk segera mendapatkan pekerjaan karena sudah lulus kuliah, Maya dan Herwita akhirnya mengalah dan memilih untuk bekerja di beberapa perusahaan yang ada di Bali. Ada banyak sekali hal yang mereka pelajari selama 2 tahun bekerja di Bali. Salah satunya adalah perihal etos kerja. Karena beberapa di antara perusahaan tempat kerja Maya dan Herwita merupakan perusahaan luar negeri yang terkenal memiliki etos kerja tinggi.

Dan tepat di tahun 2012, mereka memutuskan untuk kembali mengejar mimpi mereka yang tertunda, menjadi petani organik. Kali ini mereka punya modal lebih banyak. Karena hampir sebagian besar gaji yang mereka dapatkan selama 2 tahun bekerja mereka tabung. Dan dari sinilah kemudian lahir nama "Twelve’s Organic". Di mana Twelve (12) merupakan tahun di mana Maya dan Herwita memulai kembali bisnis pertanian organiknya.

"Tempat kerja terakhir kami di Bali itu perusahaan pertanian organik asal Jerman. Dan ketika kami mau resign dari pekerjaan kami di Bali itu, kami sempat ditahan. Bos kami waktu itu bahkan sampai bertanya, 'berapa gaji kalian yang mau untuk tetap bekerja di sini?', tapi karena sejak awal gaji bukanlah tujuan utama kami, akhirnya kami tetap memutuskan untuk berhenti dan memulai semuanya dari awal lagi." tutup Maya.

Kerja Sama yang Berujung Nestapa

Dengan modal yang lebih besar, Maya bersama Herwita kemudian menyewa lahan di kawasan Trawas untuk menjadi tempat berkebun mereka. Di Trawas ini mereka mengalami kemajuan yang cukup pesat dibandingkan dengan ketika pertama kali membuka lahan di tahun 2008. Bahkan saking pesatnya, Maya dan Herwita kemudian ditawari kerja sama oleh salah seorang pengusaha yang siap menjadi pemodal dan menyediakan lahan untuk pertanian organik Maya.

Dengan dukungan modal yang cukup banyak, kebun pun bisa dikelola dan dikembangakan potensinya secara maksimal. Dari yang awalnya cuma berfungsi sebagai lahan pertanian, perlahan mulai difungsikan juga sebagai agrowisata. Di mana pengunjung bisa langsung memanen hasil pertanian secara langsung. Tapi lagi-lagi itu juga tidak bertahan lama. Karena pada akhirnya, Maya dan Herwita harus rela untuk diberhentikan secara sepihak tanpa pernah diberi penjelasan alasan di balik pemberhentiannya.

Kembali Ke Claket Lagi (2016)

Berangkat dari pengalaman pahit tersebut, Maya dan Herwita menjadi lebih hati-hati untuk menjalin kerjasama dengan pihak lain dan memutuskan untuk menyewa lahan sendiri di kawasan Claket, Pacet. Lokasi inilah yang kemudian menjadi lokasi utama perkebunan Twelve’s Organic mulai dari tahun 2016 sampai sekarang.

Lokasi pertanian Twelve's Organic mulai dari 2016-sekarang (dok. pribadi)

"Kami jadi ingat dengan salah satu pengalaman menarik ketika pertama kali membuka lahan di Claket. Setelah beberapa kali kami sukses panen dengan hasil yang cukup memuaskan, ada satu kejadian di suatu pagi semua tanaman kami hangus, kayak habis terbakar. Dan telisik punya telisik, masalahnya adalah karena ada yang memasukkan racun ke dalam saluran air kami di malam harinya."

“Setelah kejadian itu, kami mencoba berkonsultasi kepada beberapa orang termasuk guru-guru spiritual kami. Karena tujuan kami bertani bukan untuk bersaing atau mencari musuh. Tapi semata-mata untuk menjaga kelestarian lingkungan. Maka kemudian diambillah jalan keluar yakni mengosongkan tandon air setiap malam harinya. Dan alhamdulillah, semenjak itu, kami tidak pernah mengalami kejadian serupa lagi," pungkas Maya.

Tantangan Kelima: Mengampanyekan Pertanian Organik

Setelah pindah lokasi berkebun ke Claket, Maya dan Herwita mulai membangun semuanya dari nol lagi. Meskipun Claket sebenarnya juga bukan lokasi yang asing bagi Maya dan Herwita. Karena di tahun 2008 pun, lahan pertanian organik Maya bersama 4 orang temannya pun berlokasi di Claket, Pacet. Cuma beda lokasi saja antara yang lahan pertanian di tahun 2008 dan di tahun 2016.

Tapi meskipun Claket merupakan lokasi yang tidak asing bagi mereka, perjuangan Maya dan Herwita untuk meyakinkan para petani agar beralih ke pertanian organik tidak berjalan mulus. Selama lebih dari setahun menyewa lahan di Claket, Maya tidak kunjung sukses mengampanyekan pentingnya pertanian organik. Malah sebaliknya, banyak sekali petani yang cenderung meremehkan dan menyepelekan Maya.

Setelah mengalami penolakan demi penolakan, akhirnya Maya dan Herwita pun sempat putus asa untuk mengampanyekan pertanian organik dan lebih memilih fokus mengurus lahan pertanian mereka sendiri. Sampai akhirnya pada menjelang akhir tahun 2016, dengan berbekal pengalamannya mengurus pertanian organik lebih dari 6 tahun, Maya pun terpilih menjadi salah satu di antara 10 besar finalis duta petani muda di tahun 2016.

Setelah terpilih menjadi duta petani muda, Maya pun seperti diingatkan kembali dengan tujuan awalnya menjadi petani. Karena para duta petani muda mempunyai tanggung jawab lebih untuk terus menginspirasi generasi-generasi muda yang lain untuk bertani. Dan sejak saat itu Maya mulai paham betapa pentingnya sebuah jejaring dan komunitas dalam mengampenyakan pertanian ramah lingkungan. Karena sebelumnya Maya dan Herwita selalu merasa berjuang seorang diri.

Kerja Sama dengan Komunitas

Setelah sempat mengalami keputusasaan selama beberapa waktu, di tahun 2017 Maya mulai mendapatkan titik terang mengenai perjuangannya untuk edukasi pentingnya pertanian organik. Adalah Komunitas Baramuba (Barisan Anak Muda Balongsari) dari Jombang yang menjadi komunitas pertama yang menjalin kerja sama dengan Maya dan Herwita sebagai mentor mereka dalam bertani organik.

Sharing pengalaman dengan komunitas dan pegiat pertanian organik dari Korea (dok. Maya)

Selain komunitas Baramuba, sampai saat ini Maya Stolastika juga masih terus memberikan pelatihan kepada komunitas, perseorangan, maupun organisasi yang berminat untuk bertani organik. Karena bagi Maya, meskipun harus dikelola secara profesional layaknya perusahaan dan bisnis, tujuan pertanian organik yang dirintisnya bukan semata-mata untuk profit, melainkan juga untuk kebermanfaatan dan kelestarian lingkungan.

Karena Maya sadar, pertanian organik baru bisa dirasakan dampaknya bagi lingkungan ketika sudah ada banyak orang yang mempraktekannya. Maka dari itu, Maya tidak pernah menolak permintaan bimbingan belajar dari siapapun yang ingin berkunjung ke kebun organiknya. Dengan harapan agar semakin banyak orang yang menjadi petani organik.

Mulai Mendapatkan Kepercayaan Dari Petani Sekitar

Setelah mendapatkan kepercayaan dari komunitas Baramuba, Maya Stolastika pun menjadi lebih bersemangat untuk menularkan semangat bertani organiknya kepada warga sekitar. Dan di tahun 2017, melalui sebuah forum komunikasi yang diinisasi oleh pemerintah desa setempat bersama dengan KWT (Kelompok Wanita Tani) di Claket, Maya melakukan kampanye tentang manfaat pertanian organik dalam salah satu sesi diskusi kepada para anggota KWT yang hadir.

Dari forum tersebut, kemudian ada 5 orang yang menyatakan bersedia dan berminat untuk belajar pertanian organik kepada Maya. Dan 5 Orang inilah yang kemudian menjadi cikal bakal anggota kelompok tani Madani, kelompok tani organik bimbingan Maya yang pertama.

Lahan kelompok tani Swadaya, Twelve's Organic (dok. Pribadi)

Setelah sukses memberikan bimbingan kepada para anggota kelompok tani Madani, perlahan, para petani lain pun mulai tertarik untuk belajar juga kepada Maya. Dan sampai sekarang, total ada 3 kelompok tani bimbingan Maya yang ada di sekitar desa Claket, Pacet, Mojokerto. Yakni kelompok tani Madani, kelompok tani Swadaya, dan kelompok tani Miya Tani.

Meskipun sudah ada 3 kelompok tani yang bergabung menjadi mitranya dalam menjalankan pertanian organik, Maya berharap ke depan akan lebih banyak lagi petani di sekitar Claket khususnya yang beralih ke pertanian organik. Karena jika tidak dijaga mulai dari sekarang, bukan tidak mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan, tanah-tanah yang ada di sekitar Pacet akan menjadi lahan mati karena tanahnya terkontaminasi terlalu banyak bahan kimiawi.

Menjadi Presiden AOI (Aliansi Organis Indonesia)

Setelah muncul sebagai salah satu duta petani muda di tahun 2016, nama Maya Stolastika mulai dikenal secara nasional oleh para pelaku pertanian organik. Karena ajang pemilih duta petani muda merupakan salah satu ajang paling bergengsi bagi para petani. Khususnya petani muda.

Sebagai seorang petani organik muda, banyak yang menganggap bahwa Maya Stolastika merupakan seorang yang sangat inspiratif. Karena jarang sekali ada anak muda, apalagi seorang perempuan yang bergelar sarjana mau terjun di dunia pertanian. Yang sarjana pertanian saja jarang yang mau jadi petani, apalagi yang bukan sarjana pertanian seperti Maya Stolastika. Malah lebih jarang lagi tentunya.

Terbukti, meskipun Maya datang hanya sebagai seorang peserta RUA (Rapat Umum Anggota) AOI, nyatanya banyak sekali yang menaruh harapan besar kepada Maya. Dan hasilnya, Maya terpilih sebagai presiden AOI untuk periode 2017-2020.

Maya menghadiri forum pegiat pertanian organik internasional sebagai presiden AOI (dok. Maya)

Terpilihnya Maya merupakan bukti bahwa seorang perempuan pun bisa untuk memberikan dampak yang besar kepada lingkungan. Apalagi jika memang mempunyai kemampuan yang mumpuni. Seperti halnya yang Maya miliki.

Dan berbekal pengalamannya mengelola bisnis pertanian organik ditambah kemampuan bahasa Inggrisnya yang sangat mumpuni sebagai lulusan jurusan Sastra Inggris, Maya pun tidak jarang menghadiri berbagai macam forum-forum internasional untuk menjalin kerjasama antar negara. Sekaligus berbagi informasi seputar dunia pertanian organik kepada peserta forum dari lintas negara.

Menjadi Penerima Apresiasi Satu Indonesia Awards

Tidak pernah terbesit sama sekali dalam benak seorang Maya Stolastika untuk bisa menjadi penerima Satu Indonesia Awards di tahun 2019. Karena memang sejak awal dia tidak mendaftarkan diri, melainkan didaftarkan oleh temannya. Jadi, dia tidak punya ekspektasi sama sekali. Apalagi jumlah peserta Satu Indonesia Awards Astra dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.

Tapi ternyata ekspektasi Maya dan penilaian para juri Satu Indonesia Awards berbeda. Melihat rekam jejaknya dan dedikasinya yang luar biasa sebagai petani organik, Maya Stolastika pun akhirnya terpilih menjadi penerima apresiasi Satu Indonesia Awards di bidang lingkungan. Ini merupakan bentuk penghargaan Astra kepada perjuangan Maya Stolastika yang tidak pernah surut selama bertahun-tahun demi menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Melihat begitu besarnya perjuangan yang telah dilakukan oleh Maya, tidak mengherankan kalau Maya Stolastika terpilih menjadi satu-satunya perempuan di antara enam penerima apresiasi Satu Indonesia Awards di tahun 2019.

Maya bersama 5 pemenang Satu Indonesia Awards 2019 (dok. Liputan6.com)

Dari seorang Maya Stotalistika, saya belajar banyak bahwa bangkit dari kegagalan demi kegagalan itu tidak mudah. Tapi selama kita punya semangat dan tujuan, kesuksesan akan selalu menemukan jalan.

Apapun masalah yang sedang kita hadapi, jaga selalu semangat kita. Karena putus asa bukanlah solusi. Maka dari itu, mari bangkit bersama untuk Indonesia!

#BangkitBersamaUntukIndonesia #KitaSATUIndonesia