rosalia ernaningtyas

Saya, Rosalia Ernaningtyas, tinggal di Kadipuro Rt 03 Rw 24 Sinduharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta, ibu satu anak, Sarwozen Pikir, istri dari Agus Purwantoro. Nama panggilan saya Nina. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus wartawan adalah dua pekerjaan yang saya lakoni bersama. Mengurus rumah tangga di sela-sela menulis, atau sebaliknya, menulis di sela-sela mengurus rumah tangga sudah menjadi menu rutin setiap hari. Asyik dan menantang rasanya. Tapi dari sudut pandang teman-teman, saya dibilang rempong. Soalnya, pernah pas enak-enaknya jalan bareng-bareng di Selasa Wagen Malioboro, saya tiba-tiba berhenti untuk wawancara atau memotret obyek. Begitulah saya, enjoy saja. Saya lahir di Ponorogo, 13 September 1967. Lulus dari Sosiologi Fisipol UGM tahun 1992. Di waktu-waktu akhir kuliah dan setelahnya, saya menulis artikel di koran daerah dan meliput untuk majalah lokal. Tahun 1993 saya mengikuti pendidikan jurnalistik di LP3Y Yogyakarta selama enam bulan, kemudian lanjut hijrah ke Jakarta menjadi Wartawan di Koran Jayakarta sampai tahun 1998. Ontran-ontran reformasi mendorong saya pulang kampung ke Yogya. Di sini saya banting setir menjadi pelaku usaha kecil, tapi gagal. Kelahiran anak semata wayang membuat saya memilih menjadi ibu rumah tangga. Setelah anak tumbuh besar, saya menjadi editor freelance, ghost editor. Saya pernah menulis buku, judulnya Durian Tanpa Kulit. Ups! ini sama sekali bukan buku serius yang berisi tata cara budidaya tanaman yang menghasilkan buah durian telanjang tanpa kulit. Bukan ya. Buku ini berisi cerita-cerita singkat yang saya koleksi dari diri sendiri dan sebagian kecil, kecil sekali dari wattsapp, terbit tahun 2015 secara self publishing. Mengapa cara penerbitan indie itu saya tempuh? Jawabnya sudah pastilah, saya ragu ada penerbit yang rela hati menerima dan dengan gembira mempublikasikan buku saya. Saya sadar, saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Untunglah, lewat jejaring kawan-kawan, buku saya satu-satunya itu bisa terjual. Nggak banyak sih, tapi jika dibanding dengan jerih payah dan ongkos cetak, uang yang saya raup dari hasil penjualan berkali lipat nilainya. Buku itu pula yang mengantarkan saya menjadi anggota Satupena, Persatuan Penulis Indonesia yang berdirinya difasilitasi Bekraf di Solo tahun 2017. Akhirnya, di bawah komandan Roso Daras, Jayakarta terbit kembali, versi online dan cetak (majalah). Saya pun diundang untuk bergabung. Enjoy saja. Why not? Menulis itu indah. Kata teman-teman di JayakartaNews, tulisan-tulisan saya bagus, mengalir, bahasanya enak, konten menarik. Semoga kesimpulan yang sama juga datang dari penikmat tulisan Pewarta Astra, siapapun dan dimana pun mereka. Saya bercita-cita menulis novel. Tahun depan. Semoga rekening tabungan sudah cukup untuk membiayai hidup tatkala saya bertapa menjelajahi jagad imaginasi dan menuangkannya ke dalam cerita fiksi. Semoga Gusti menjawab doa ini. Amin Amin Amin.

ARSIP ANDA

Loading..

.