Nyala Mimpi Anak Kampung Yang Pernah Mati di Madrasah
Media Online https://www.jawapos.com/features/21/09/2018/nyala-mimpi-anak-kampung-yang-sempat-mati-di-madrasah-kandang-kuda
Oleh: Riki Chandra , 21 September 2018Kategori: Wartawan (Suara.com)

https://www.jawapos.com/features/21/09/2018/nyala-mimpi-anak-kampung-yang-sempat-mati-di-madrasah-kandang-kuda

Nyala Mimpi Anak Kampung Yang Sempat Mati di Madrasah "Kandang Kuda"

 

Tiada yang tidak mungkin. Tetesan peluh dan air mata menjadi fondasi kandang kuda yang kini jadi Madrasah terbaik dengan fasilitas lengkap. Taman bunga menentramkan jiwa murid untuk terus mendulang prestasi.

Laporan : Riki Chandra, Sumbar

"Pendidikan senjata paling ampuh mengubah dunia". Ungkapan bijak mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela itu pantas di sepadankan dengan perjuangan guru Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muallimin di Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar). Belasan tahun tanpa pamrih, menangis darah mempertahankan sekolah demi mendidik generasi bangsa di daerah terpelosok.

Rabu siang (19/8), jelang mentari berpijak ubun-ubun, ratusan murid MIS Muallimin Tabek, mondar-mondar di setiap ruang sekolah bercat hijau kuning dengan tiga gedung belajar. Nyaris semua lorong hingga halaman sekolah disesaki anak-anak. Sebagian duduk di depan ruang kelas mengunyah makanan ringan, bercanda dengan kawan sejawat.

Anak laki-laki sibuk bermain kejar-kejaran sampai menanggalkan sepatu. Sebagian murid perempuan bermain karet. Beberapa juga tampak bermain memungut sampah, bermain bedil-bedil kecil tradisional yang terbuat betung. Ya, pukul 10.30 Wib merupakan jam istirahat di sekolah ini. Setengah jam setelah itu, mereka kembali masuk ruangan kelas.

"Kalau ditembak, bedilnya berbunyi dikit bang. Nggak sakit sih. Tapi kalau kena baju kotor, karena pelurunya dari kulit jeruk," sebut Andri, salah seorang murid yang tengah memasang peluru bedilnya di samping tong sampah depan kelas.

Bukan main sejuknya pekarangan sekolah yang baru berusia 18 tahun itu. Selain berada di lekuk bukit dan hamparan sawah, semua pekarangannya juga ditumbuhi puluhan jenis bunga. Menariknya lagi, tedapat dua unit gazebo yang terbuat dari kayu aren beratap ijuk di luar ruangan kelas. "Bagi yang malas dan bosan belajar di kelas, mereka belajar di gazebo ini," sebut Kasri, seorang guru bahasa arab MIS Tabek membuka perbincangan.

Kasri menyebutkan, MIS Tabek memiliki 22 orang guru dan empat diantaranya berstatus PNS. Selebihnya guru honorer yang sudah belasan tahun mengabdi. Sedangkan jumlah lokalnya mencapai 11 unit yang tersebar di tiga gedung belajar dengan jumlah murid 197 orang. MIS ini juga memiliki satu unit musala yang kini tengah disempurnakan.

"Sekarang kondisi mengundang kagum. Lokal bagus, ada kantor, aula, labor dan UKS. Kalau dulu, setiap yang melihat dipastikan menangis," sebut Kasri yang juga merangkap guru Penjaskes.

Di MIS Muallim ini, para murid mulai belajar pukul 07.15 Wib dan pada umumnya pulang pukul 17.00 Wib. Selain mata pelajaran umum, murid di sini juga belajar mengaji, hafalan quran, bahasa arab hingga bahasa Jepang yang sudah berlangsung sejak 2 tahun terakhir.

Senada dengan itu, guru senior di MIS Tabek, Murniati mengisahkan perjalanan panjang Madrasah yang lahir dari masyarakat, dikelola masyarakat dan dijaga masyarakat itu. Menurutnya, sekolah ini berdiri sejak tahun 2000 silam yang digagas oleh Ainismar (alm), Muchtar dan beberapa tokoh masyarakat Jorong Tabek.

Pendirian Madrasah ini berawal meledaknya murid SD Impres (SDN 09 Talang Babungo) yang menjadi satu-satunya SD di kampung tersebut. Kapasitas SD tersebut tak bisa menampung 250 orang murid. Akibatnya, murid sampai belajar di teras sekolah. "Buk Ainismar (alm) berinisiatif mendirikan sekolah dengan pak Muchtar. Keinginannya ternyata didukung penuh tokoh masyarakat," kata Murniati.

Setelah itu, disepakatilah MIS Allimin berdiri di bangunan bekas rumah guru reyot yang sudah dipenuhi semak-belukar. Atapnya rusak dan bocor, sebagian dinding juga sudah roboh. "Sangat tidak layak. Saking buruknya, orang dulu menyebut ruang belajar MIS ini seperti kandang kuda," kata Murniati yang mengajar di MIS Tabek sejak dua tahun sekolah itu berdiri.

Dengan semangat bersama, didukung Wali Nagari, tokoh masyarakat dan penggagas sekolah, kawasan rumah guru itu pun dibersihkan. "Sekarang gubuk, besok jadi istana. Belajar di sini dulu, biar bisa menggenggam dunia. Begitu semboyan semangat mendirikan sekolah ini," kata guru berusia 45 tahun itu.

Di awal berdiri, MIS Tabek menerima pendaftaran 30 orang murid baru. Namun, tak berlangsung lama, jumlah menyusut dan hanya bertahan 19 orang. Ada yang pindah sekolah, ada yang kabur karena mengaku takut belajar di sekolah gubuk, reyot dan masih dikelilingi semak.

Namun, terang Murniati, rutinitas MIS terus berlanjut meski diterpa cemooh sebagian orang. "Mungkin karena orangtuanya saat itu setengah hati menyekolahkan anak di sini. Apalagi, MIS ini baru, lokalnya tidak beres. Tapi, yang ikhlas tetap mempertahankan anaknya sekolah di sini," terang guru yang masih bertatus honorer Kementerian Agama (Kemenag) itu.

Prestasi 19 orang murid pertama MIS Muallim membuka mata bathin sebagian masyarakat yang dulu mencibir. Anak-anak sekolah reyot ini mampu menjadi terbaik kedua saat Ujian Nasional (UN) di tingkat Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. "Setahun setelah, murid baru mencapai 30 orang. Tapi, kondisi sekolah masih sama," katanya.

 

Bertahan Dengan Sedekah dan Air Mata

Jangankan gaji, pengajar MIS Tabek bahkan tak punya uang untuk membeli kapur papan tulis. Salah satu cara mencari uang pembeli kapur dan sepidol adalag dengan meminta sumbangan dan sedekah warga Jorong Tabek.

Murniati mengaku kerap berjalan keliling kampung bersama Pelni (guru PNS MIS Tabek) yang saat itu baru duduk dibangku SMA. "Saat Pelni libur, kami keliling minta sumbangan. Ini berlangsung sampai tahun kesembilan sekolah ada," terang ibu tiga anak itu.

Ia juga mengenang masa 16 tahun silam, pertama kali masuk setelah ditawarkan penggagas sekolah Ainismar (alm). Bahkan, ia mengajar selama hampir 2 tahun tanpa digaji sepeser jua. Padahal, Murniati bukan penduduk Jorong Tabek. Ia bahkan setiap hari berjalan kaki sejauh 2 km dari kediamannya demi mengajar Senin sampai Sabtu.

"Almarhumah (pendiri sekolah) teman seperjuangan di MTS. Kala itu, saya sarjana tapi ngganggur. Nah ditawari ngajar tapi tanpa gaji. Saya pun menyanggupi dan mulai mengajar tahun 2002," ceritanya.

Murniati mengaku mulai dapat gaji sekitar tahun 2006, itupun dengan jumlah yang sangat minim. Gaji tersebut bermula dari bantuan kontrak guru (BKG) senilai Rp60 ribu/bulan. Namun, hanya bisa cair sekali empat bulan atau 6 bulan sekali.

"Kalau dikenang, saya mau menangis. Pak Muchtar dan buk Ainismar (pendiri sekolah) saat itu, sudah jadi guru kontrak. Setiap mereka gajian, saya diberi zakat. Pak Muchtar kasih Rp50 ribu, almarhumah juga memberi Rp50 ribu. Alhamdulillah dapat untuk anak-anak. Jarang-jarang dapat uang segitu," sebut Murniati dengan mata berkaca-kaca.

Pernah juga Murniati mendapat pelatihan PAKEM alias partisipasi, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dari Jakarta. Program ini untuk mengajak guru dan murid ikut aktif. Setidaknya, meringakan biaya pembeli kapur. Namun, tidak dengan meminta iuran, karena sekolah bebas dari pungutan. "Trainernya nyuruh saya bermimpi dari sekarang. Saya jawab, mimpi saja ndak bisa makan," sebut Murniati.

Lantas, karena Jorong Tabek penghasil tebu, trainer PAKEM menyarankan Murniati untuk meminta dua rumpun tebu kepada masing-masing murid MIS. Tebu itu lalu ditanam dipekarangan sekolah. Nanti saat panen, dikilang sendiri oleh para murid dan guru. "Hasil dari penjualannya kami belikan kapur dan sepidol hingga kebutuhan sarana lain. Aktifitasnya berlangsung tiga tahun," sebut Murniati yang kini menjabat Koordinator Bidang Kesiswaan MIS Muallim Tabek.

Memanfaatkan rumah guru reyot, bukan berarti perjalanan MIS Muallim datar tanpa terjal. Sebaliknya, lokasi belajar di bekas rumah guru SDN 02 itu sempat ditentang salah satu pihak yang merasa memiliki rumah itu. Akhirnya pindah ke rumah guru yang juga sudah reyot tak jauh dari rumah guru sekolah pertama.

"Sudah tak punya biaya, nggak dijadi, tempat belajar digugat pula. Lengkap sudah perjalanan sekolah kami," kata Murniati mengenang perjalanan panjang.

MIS Muallim bahkan nyaris bubar di tahun 2009 silam. Padahal, total murid sekolahnya saat itu mencapai 120 orang. Kejadian itu berawal saat Murniati tengah mengandung anak ketiganya. Sekolah kekurangan tenaga pendidik. Guru baru yang masuk pun tidak ada.

"Persoalan utamanya tetap karena tidak ada pembeli kapur dan sarana lain. Biasanya saya jalankan sumbangan, nah saat saya hamil, tentu tidak bisa. Makanya, sampai pada wacana menghentikan proses belajar mengajar," katanya.

Rencana bubarnya MIS Muallim Tabek pun sampai ke telinga Kepala UPT Pendidikan, kala itu, kata Murniati dijabat pak Lutfi. "Katanya, asalkan tidak bubar, saya carikan kapur. Ndak usah mintak sumbangan lagi. Meja untuk belajar juga akan saya carikan," kata Murniati menirukan jaminan Kepala UPT kala itu.

Alhasil, disepakatilah untuk terus melanjutkan pendidikan di MIS Muallim. Murid yang selama ini belajar dengan keterbatasan bangku, dibantu oleh sumbangan Kepala UPT. "Jadi, bangku dan kursi yang kami pakai di MIS ini dulunya bekas meja dan kursi SDN lain yang tak lagi dipakai," timpal Pelni, guru PNS yang sudah berjuang di MIS Tabek sejak dibangku SMA.

Singkatnya, MIS Tabek akhirnya mampu beli tanah yang luasnya mencapai 600 meter persegi yang lokasi persis di bekas rumah guru yang menjadi cikal-bakal sekolah. Tahun 2006, bantuan pembangunan ruang kelas mulai mengalir dari Pemerintah daerah hingga Pusat.

Wali Nagari, tokoh dan seluruh masyarakat Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo ikut andil dalam pembangunan tersebut. Mereka bersama mendatarkan tanah lokasi yang akan dibangun MIS Muallim Tabek. Secara berangsur, tahun 2015, berdirilah tiga gedung MIS Muallim. Ada pula kantor, musala, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya.

Murniati berharap, kelak ia pensiun, semangat dan kerja keras menjadikan MIS Muallim Tabek seperti hari ini tetap terjaga. Jangan sampai terlena dan puas atas capaian hari ini. Doanya yang tak pernah putus adalah agar MIS Muallim segera menjadi madrasah Negeri. "Kami berjuang menghidupkan sekolah. Semoga anak-anak kami, murid MIS Muallim nanti bisa berjuang mendirikan Universitas," harapnya.

MIS Berprestasi Racikan KBA Terbaik di Sumatera

Mimpi gubuk jadi istana yang di idamkan sejak 18 tahun silam kini terwujud. Selain atas perjuangan para guru yang rela mengabdi tanpa digaji, semangat dan prestasi MIS Muallimin di bidang pendidikan turut menjadi kran pembuka bantuan pada sekolah Agama Swasta itu.

Puluhan trofi prestasi murid MIS Muallim berjejer di ruangan kantor guru. Mulai juara Kecamatan, Kabupaten, hingga juara tingkat Provinsi berhasil disabet murid-murid sekolah "kandang kuda". Bahkan, tahun ini, MIS Muallim Tabek menjadi sekolah terbaik yang akan mewakili Kabupaten Solok dalam lomba UKS dan meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri dari Gubernur Sumbar di bulan Oktober mendatang.

"Kategori MIS, kita terbaik di Sumbar. Alhamdulillah, kita juga terpilih tahun ini mewakili Kabupaten Solok untuk sekolah adiwiyata tingkat Provinsi," sebut Kasri Satra.

Menurut Kasri yang juga Ketua Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, lahirnya prestasi dan bantuan tak terlepas dari semangat para pengajar MIS Muallim Tabek. Bahkan, dengan gaji yang rata-rata Rp5 ribu/hari, para guru masih mau menyumbang untuk pembangunan sekolah.

"Kita patungan juga untuk bikin pagar. Semangat gotongroyong ini yang selalu kami genggam," beber lelaki 40 tahun itu.

Di tahun 2015, MIS Muallim Tabek terpilih menjadi satu-satunya sekolah dasar binaan KBA di Provinsi Sumbar. Gelora prestasi di MIS Muallim pun kian bangkit setelah dikucurkan berbagai bantuan. Mulai dari pembangunan MCK, gerbang, perpustakaan, laboratorium, ruang UKS dan semua perlengkapannya. Penyempurnaan sarana ini membuat MIS Muallim Tabek kian lengkap.

"Memenuhi semua sudut sekolah dengan bunga juga sentuhan KBA. Tahun ini, karena ikut kompetisi sekolah sehat harus punya westafel, kami pun dibantu untuk bikin westafel juga," terangnya.

Menurut Kasri, penyaluran bantuan Corporate Social Responsibilty (CSR) yang dibungkus Astra dalam program KBA menyentuh semua lini atau kerap disebut empat pilar. Mulai dari pendidikan, kesehatan, kewirausahaan dan lingkungan. Bidang pendidikan, KBA fokus membina MIS Muallim dan satu unit TK Al-Makmur.

Tak mudah baginya meyakinkan program KBA di Jorong Tabek, Talang Babungo. Ada yang menyangsikan, program tersebut akan berujung pada persoalan akidah dan macam-macam. Padahal, hanya Jorong Tabek satu-satunya kampung yang disentuh bantuan Astra dari 72 KBA di seluruh Provinsi.

Namun, setelah dua-tiga hasilnya terlihat, masyarakat mulai simpati dan bahkan mendorong KBA tetap bertahan di Jorong tersebut. "Sifatnya pendampingan. Dibantu lewat program, dan kita harus aktif gotongroyong bersama menyempurnakan bantuan itu," katanya.

Tidak saja memberikan support pembangunan sarana sekolah, KBA juga menyalurkan bantuan beasiswa bagi murid kurang mampu. Sedikitnya, ada 35 orang siswa yang dibantu biaya pendidikan.

"Ada SD, SMP dan SMA juga. Tahun lalu, penerima SD lebih banyak. Tapi karena sifatnya KBA berkelanjutan, tahun ini mungkin lebih sedikit," sambung Koordinator Bidang Pendidikan KBA Jorong Tabek, Pelni.

Guru senior MIS Muallim Tabek Murniati ikut bersyukur atas sentuhan KBA Jorong Tabek. Dengan adanya labor, para murid bisa mempraktekan pelajaran teori yang didapat. Apalagi, taman bunga ditambah gazebo menjadikan lokasi sekolah begitu sejuk.

"Dulu gersang sekali. Kini siapa saja yang masuk ke MIS ini, pasti bilang seperti masuk taman bunga," katanya.

Wali Nagari Talang Babungo Zulfatriadi mengatakan, sentuhan KBA untuk MIS Muallim Tabek pantas diapresiasi. Menyulap sekolah dengan sarana lengkap dan keasriaanya, membuat MIS Tabek yang dulu dicemooh, kini jadi rebutan. Bisa dipastikan, tak ada lagi keraguan bagi 2.000 jiwa penduduk Jorong Tabek untuk menyekolahkan anaknya di MIS Muallim.

"Perjuangan hebat gurunya setimpal dengan apa yang didapat hari ini. Semoga lahir generasi hebat yang punya daya juang semangat seperti yang ditorehkan penggagas, pendiri dan pengajar MIS Muallim," kata Zulfatriadi.

Di sisi lain, tiga tahun perjuangan Ketua KBA Jorong Tabek meyakinkan masyarakat tentang positifnya gerakan KBA kini berbuah manis. Selain menjadikan MIS Muallim kian berprestasi, KBA juga menjadikan Jorong Tabek kampung asri dengan sentuhan taman bunga. KBA Jorong Tabek terpilih menjadi KBA terbaik tingkat Sumatera, dan kini menjadi tiga besar terbaik tingkat Nasional. (rcc/JPC)

Â